Skip to main content

Posts

Masa Lalu Tidak Bisa Diubah, Tetapi Pengaruhnya Bisa Berakhir

Pertanyaan tentang apakah manusia bisa benar-benar bebas dari masa lalu sering muncul dalam psikologi, filsafat, maupun kehidupan sehari-hari. Jawabannya bergantung pada apa yang dimaksud dengan kata “bebas”. Jika yang dimaksud adalah tidak pernah mengingat masa lalu lagi, maka jawabannya tidak. Memori bukanlah sesuatu yang dapat dihapus begitu saja seperti menghapus file dari komputer. Pengalaman yang pernah terjadi tetap menjadi bagian dari sejarah hidup seseorang dan dapat muncul kembali dalam ingatan pada waktu-waktu tertentu. Namun jika yang dimaksud dengan bebas adalah tidak lagi dikendalikan oleh luka, ketakutan, atau pola pikir destruktif yang lahir dari pengalaman masa lalu, maka jawabannya adalah ya. Dalam pengertian ini, seseorang dapat mengalami kebebasan yang sangat nyata. Ia masih mengingat apa yang pernah terjadi, tetapi pengalaman itu tidak lagi menguasai cara ia berpikir, merasa, dan menjalani hidupnya saat ini. Selama bertahun-tahun, banyak orang secara tidak sadar me...

Memori Ternyata Bisa Diubah: Revolusi Neurosains Yang Mengubah Cara Kita Memahami Luka Emosional

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan memandang memori sebagai sesuatu yang relatif tetap dan permanen. Cara berpikir ini mirip dengan bagaimana kita melihat sebuah arsip atau file PDF. Ketika suatu pengalaman terjadi, pengalaman itu disimpan ke dalam otak sebagai memori. Setelah tersimpan, memori tersebut dapat dipanggil kembali dan diingat, tetapi isinya dianggap tidak berubah. Dengan kata lain, mengingat sebuah peristiwa hanya dipandang sebagai proses "membuka kembali arsip" yang sudah tersimpan. Namun, pandangan tersebut mulai berubah secara drastis setelah muncul serangkaian penelitian dalam ilmu saraf modern. Dalam sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2015, ahli neurosains Karim Nader menjelaskan bahwa memory reconsolidation adalah proses ketika memori jangka panjang yang telah tersimpan dan kemudian diaktifkan kembali menjadi sementara rentan terhadap perubahan. Artinya, ketika sebuah memori lama muncul ke dalam kesadaran, memori itu tidak sekadar diputar u...

Penderitaan Anda Tidak Dipertahankan Oleh Masa Lalu, Tetapi Oleh Klaim Yang Masih Anda Percayai Hari Ini

Dalam dunia hipnoterapi dikenal istilah Initial Sensitizing Event (ISE), yaitu pengalaman awal yang pertama kali menghubungkan suatu situasi dengan emosi tertentu. Sederhananya, ISE dianggap sebagai titik awal terbentuknya sebuah pola psikologis. Misalnya, seorang anak berusia lima tahun dipermalukan oleh gurunya di depan kelas. Pada saat itu ia merasakan malu, takut, dan tidak aman. Bertahun-tahun kemudian, setiap kali harus berbicara di depan umum, ia mengalami kecemasan yang kuat. Ketika hipnoterapis melakukan teknik regresi dan menemukan kembali kejadian masa kecil tersebut, peristiwa itulah yang disebut sebagai ISE. Gagasan bahwa pengalaman awal dapat memengaruhi kehidupan seseorang sebenarnya memiliki dasar ilmiah yang cukup kuat. Dalam neuroscience terdapat banyak penelitian mengenai fear learning (pembelajaran rasa takut), attachment learning (pembelajaran keterikatan), dan emotional conditioning (pengkondisian emosi).   Penelitian-penelitian ini menunjukkan bahwa pengalama...

Penderitaan Dimulai Saat Anda Mengira Klaim Itu Adalah Diri Anda

Salah satu gagasan penting dalam filsafat Mulla Sadra adalah bahwa keberadaan seseorang tidak bergantung pada pikiran, keyakinan, atau cerita yang ia miliki tentang dirinya sendiri. Dengan kata lain, “keberadaan saya tidak bergantung pada klaim.” Kalimat ini terlihat sederhana, tetapi jika dipahami dengan baik, ia dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya dan mengurangi banyak penderitaan psikologis. Untuk memahaminya, kita perlu membedakan antara “diri yang ada” dan “klaim tentang diri”. Misalnya seseorang memiliki keyakinan, "Saya tidak dicintai." Sekilas kalimat itu terasa sangat pribadi sehingga seolah-olah menggambarkan siapa dirinya. Namun jika diperhatikan lebih dalam, kalimat tersebut sebenarnya hanyalah sebuah pikiran atau kesimpulan yang muncul dalam kesadaran. Pertanyaannya, apakah orang itu identik dengan kalimat tersebut? Jika suatu hari ia tidak lagi mempercayainya, apakah dirinya ikut lenyap? Tentu tidak. Yang berubah hanyalah pikirannya, sedangkan diriny...

Bukan Nafsu Yang Bermasalah, Tetapi Siapa Yang Memimpin Diri Anda: Perjalanan Dari Nafs Ammarah Menuju Nafs Muthma'innah

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya nafs itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali yang dirahmati Tuhanku" (QS. Yusuf: 53). Ayat ini sering dipahami seolah-olah manusia pada dasarnya jahat. Padahal para ulama tafsir menjelaskan bahwa persoalannya bukanlah karena manusia memiliki nafs, melainkan karena jiwa yang seharusnya menjadi pemimpin justru sering diperintah oleh dorongan-dorongan yang lebih rendah darinya. Dengan kata lain, masalah utama manusia bukan keberadaan nafs itu sendiri, tetapi siapa yang memegang kendali dalam dirinya. Dalam Al-Qur'an disebutkan tiga keadaan jiwa: nafs ammarah (jiwa yang mendorong kepada keburukan), nafs lawwamah (jiwa yang mencela dirinya sendiri), dan nafs muthma'innah (jiwa yang tenang). Menurut banyak ulama, ketiganya bukanlah tiga jenis jiwa yang berbeda. Yang ada hanyalah satu jiwa manusia yang dapat berada pada tingkat perkembangan yang berbeda-beda.   Seseorang bisa berada pada kondisi ammarah ket...

Mengapa Hati Tidak Pernah Benar-Benar Tenang? Dari Neurosains Perhatian Hingga Perjalanan Jiwa Menuju Allah

Penting untuk membedakan antara apa yang dapat dijelaskan oleh sains dan apa yang berada dalam wilayah filsafat serta teologi. Secara ilmiah, neurosains tidak dapat membuktikan bahwa Allah adalah tujuan akhir manusia. Pertanyaan tentang Allah sebagai tujuan akhir bukanlah pertanyaan yang dapat dijawab melalui pemindaian otak, eksperimen laboratorium, atau pengukuran aktivitas saraf. Namun, neurosains dapat menjelaskan sesuatu yang sangat penting: mengapa manusia menderita ketika perhatiannya tercerai-berai, dan mengapa manusia cenderung lebih tenang ketika perhatiannya menjadi lebih terarah dan terintegrasi. Dari titik inilah dialog antara sains dan agama dapat dimulai. Otak manusia pada dasarnya memiliki kapasitas perhatian yang terbatas. Dalam psikologi kognitif dikenal berbagai konsep seperti selective attention (kemampuan memilih apa yang akan diperhatikan), executive attention (kemampuan mengendalikan perhatian secara sadar), dan attentional resources (sumber daya perhatian yang j...