Selama bertahun-tahun, para ilmuwan memandang memori sebagai sesuatu yang relatif tetap dan permanen. Cara berpikir ini mirip dengan bagaimana kita melihat sebuah arsip atau file PDF. Ketika suatu pengalaman terjadi, pengalaman itu disimpan ke dalam otak sebagai memori. Setelah tersimpan, memori tersebut dapat dipanggil kembali dan diingat, tetapi isinya dianggap tidak berubah. Dengan kata lain, mengingat sebuah peristiwa hanya dipandang sebagai proses "membuka kembali arsip" yang sudah tersimpan.
Namun, pandangan tersebut mulai berubah secara drastis setelah muncul serangkaian penelitian dalam ilmu saraf modern. Dalam sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2015, ahli neurosains Karim Nader menjelaskan bahwa memory reconsolidation adalah proses ketika memori jangka panjang yang telah tersimpan dan kemudian diaktifkan kembali menjadi sementara rentan terhadap perubahan. Artinya, ketika sebuah memori lama muncul ke dalam kesadaran, memori itu tidak sekadar diputar ulang seperti rekaman video. Sebaliknya, untuk sementara waktu memori tersebut memasuki keadaan yang lebih lentur dan dapat dimodifikasi sebelum akhirnya disimpan kembali.
Karena itu, banyak ilmuwan kini menggambarkan memori bukan lagi sebagai file PDF, melainkan lebih seperti dokumen Word. Ketika dokumen Word dibuka, kita tidak hanya dapat membacanya. Kita juga dapat menambahkan informasi baru, mengoreksi bagian yang keliru, memperbarui isinya, lalu menyimpannya kembali. Menurut paradigma baru ini, hal yang serupa dapat terjadi pada memori. Ketika sebuah memori diaktifkan, otak memiliki kesempatan untuk memperbarui cara memori tersebut disimpan dan dimaknai.
Perubahan cara pandang ini dianggap sebagai salah satu revolusi terbesar dalam ilmu memori. Sebelum awal tahun 2000-an, sebagian besar ilmuwan beranggapan bahwa memori yang telah melalui proses konsolidasi - yaitu proses stabilisasi setelah terbentuk - akan menjadi relatif permanen. Namun penelitian yang dilakukan oleh Karim Nader bersama Joseph LeDoux dan Glenn Schafe menunjukkan sesuatu yang tidak terduga.
Mereka menemukan bahwa ketika memori lama dipanggil kembali, memori tersebut dapat kembali memasuki kondisi yang tidak stabil atau labil. Dalam kondisi ini, memori memerlukan proses stabilisasi ulang yang disebut reconsolidation. Jika proses stabilisasi ulang tersebut diganggu, memori dapat berubah, melemah, atau bahkan hilang sebagian.
Temuan ini pertama kali ditunjukkan melalui eksperimen yang kini dianggap sebagai penelitian klasik dalam bidang rekonsolidasi memori. Dalam penelitian tersebut, tikus dilatih untuk menghubungkan suara nada dengan kejutan listrik ringan. Setelah beberapa kali pengulangan, tikus mulai menunjukkan rasa takut hanya dengan mendengar nada, meskipun kejutan listrik tidak lagi diberikan. Dengan kata lain, memori emosional berupa rasa takut telah terbentuk.
Selanjutnya, para peneliti memunculkan kembali memori tersebut dengan memperdengarkan nada yang sama. Setelah memori takut itu aktif, mereka memberikan zat yang menghambat sintesis protein di amigdala, yaitu bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan memori emosional. Hasilnya sangat mengejutkan. Respons takut tikus berkurang secara drastis. Temuan ini menunjukkan bahwa memori lama tidak hanya dipanggil kembali, tetapi benar-benar menjadi rentan terhadap perubahan ketika diaktifkan. Jika proses rekonsolidasinya terganggu, memori yang sebelumnya kuat dapat melemah secara signifikan.
Penemuan ini penting karena mengubah cara kita memahami fungsi memori. Memori tidak lagi dipandang sebagai gudang arsip yang pasif. Sebaliknya, memori dipahami sebagai bagian dari sistem prediksi otak yang terus diperbarui berdasarkan pengalaman baru. Otak tidak hanya menyimpan masa lalu, tetapi juga menggunakan pengalaman masa lalu untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu, ketika prediksi tersebut ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, otak dapat memperbarui model yang selama ini digunakannya.
Penelitian berikutnya menemukan bahwa tidak semua memori yang diaktifkan akan mengalami rekonsolidasi. Terdapat kondisi penting yang harus terjadi, yaitu munculnya prediction error atau mismatch. Istilah ini merujuk pada adanya perbedaan antara apa yang diperkirakan oleh otak dan apa yang benar-benar terjadi dalam kenyataan. Menurut sejumlah penelitian, termasuk yang dilakukan oleh Sinclair dan Barense, unsur kejutan atau ketidaksesuaian inilah yang menjadi pemicu utama agar suatu memori dapat diperbarui.
Contohnya dapat dilihat pada seseorang yang memiliki keyakinan emosional lama bahwa "jika saya ditolak, berarti saya tidak berharga." Selama bertahun-tahun, otaknya menggunakan keyakinan tersebut sebagai model untuk memahami pengalaman sosial. Akibatnya, setiap penolakan diprediksi akan menghasilkan rasa tidak berharga. Namun suatu saat ia mengalami penolakan, tetapi ternyata tetap merasa diterima oleh orang lain, tetap memiliki harga diri, dan kehidupannya tetap berjalan dengan baik.
Pengalaman baru ini bertentangan dengan prediksi lama. Terjadi mismatch antara model yang dimiliki otak dan kenyataan yang dialami. Pada momen inilah otak memperoleh kesempatan untuk memperbarui model lamanya. Jika kondisi yang tepat terpenuhi, keyakinan emosional yang sebelumnya sangat kuat dapat mengalami perubahan melalui proses rekonsolidasi.
Pada awalnya, sebagian ilmuwan mengkritik temuan ini dengan alasan bahwa sebagian besar bukti berasal dari penelitian hewan. Karena itu, banyak penelitian lanjutan dilakukan pada manusia. Salah satu tinjauan ilmiah terbesar dilakukan oleh Elsey, Van Ast, dan Kindt pada tahun 2018. Mereka menelaah ratusan penelitian yang mencakup berbagai jenis memori, seperti memori ketakutan, memori aversif, memori deklaratif, kecanduan, serta berbagai prosedur terapeutik yang dirancang untuk memodifikasi memori.
Kesimpulan mereka menunjukkan adanya bukti yang kuat bahwa proses yang sangat mirip dengan memory reconsolidation memang terjadi pada manusia, meskipun mekanisme dan kondisi pemicunya lebih kompleks dibandingkan pada hewan percobaan.
Secara keseluruhan, lebih dari dua dekade penelitian neurosains menunjukkan bahwa memori emosional bukanlah struktur yang sepenuhnya tetap dan tidak dapat berubah. Ketika memori lama diaktifkan kembali, memori tersebut dapat memasuki keadaan sementara yang lebih lentur. Jika pada saat itu terjadi ketidaksesuaian antara prediksi lama dan pengalaman baru, otak dapat memperbarui cara memori tersebut disimpan dan dimaknai.
Proses inilah yang disebut memory reconsolidation. Temuan ini tidak hanya mengubah pemahaman ilmiah tentang cara kerja memori, tetapi juga menjadi salah satu landasan teoritis bagi berbagai pendekatan psikoterapi modern yang bertujuan membantu seseorang melepaskan pola emosi lama dan membangun respons yang lebih sehat dan adaptif.

Comments
Post a Comment