Skip to main content

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan.


Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepas dari apa yang manusia pikirkan tentang dirinya. Dalam perspektif filsafat Mulla Sadra, manusia tidak memiliki keberadaan secara mandiri. Keberadaan makhluk bersifat dependent existence - keberadaan yang bergantung dan terus menerima keberadaan dari Allah. Dengan demikian, manusia tidak pernah menjadi sumber keberadaannya sendiri. Kita memang memiliki tubuh, pekerjaan, keluarga, harta, kemampuan, jabatan, reputasi, dan berbagai pencapaian, tetapi semua itu bukanlah sumber paling dasar dari keberadaan kita. Kita dapat kehilangan jabatan tanpa berhenti menjadi manusia. Kita dapat kehilangan harta tanpa kehilangan keberadaan. Kita dapat ditolak seseorang tanpa secara ontologis menjadi “tidak ada”. Dengan kata lain, berbagai hal yang kita miliki dapat berubah, bertambah, berkurang, bahkan hilang, sementara fakta paling dasar bahwa kita ada tidak berasal dari semua itu.


Persoalannya, manusia tidak selalu menjalani hidup berdasarkan realitas tersebut. Manusia juga memiliki keyakinan psikologis, yaitu cara pikir dan cara merasa mengenai siapa dirinya dan apa yang membuat dirinya bernilai. Pada tingkat ini seseorang dapat secara tidak sadar membangun kesimpulan seperti, “Saya ada karena jabatan saya,” “Saya berharga karena pasangan saya mencintai saya,” “Saya berarti karena orang lain menghormati saya,” atau “Saya bernilai karena prestasi saya.” Pernyataan-pernyataan tersebut mungkin tidak selalu diucapkan secara sadar. Bahkan seseorang mungkin samasekali tidak menyadari bahwa ia sedang mempercayainya. Namun keyakinan itu dapat bekerja sebagai semacam aturan tersembunyi yang menentukan bagaimana ia memandang dirinya, bagaimana ia menafsirkan peristiwa, dan bagaimana ia merespons kehidupan.


Dalam SAT, pola tersembunyi semacam ini disebut klaim eksistensial. Istilah ini bukan berarti bahwa manusia benar-benar memperoleh keberadaan dari objek tersebut, melainkan bahwa secara psikologis ia mengklaim atau menggantungkan rasa keberadaannya pada sesuatu. Ketika seseorang berkata dalam batinnya, “Saya berharga kalau saya diterima,” sebenarnya terdapat sebuah kondisi psikologis: penerimaan orang lain telah ditempatkan sebagai syarat bagi rasa berharganya. Ketika seseorang merasa, “Saya berarti kalau saya berhasil,” keberhasilan telah ditempatkan sebagai syarat bagi rasa keberartiannya. Dengan demikian, klaim eksistensial bekerja seperti sebuah persamaan psikologis: “Saya merasa menjadi seseorang apabila saya memiliki atau memperoleh sesuatu.” Masalahnya, sesuatu yang dijadikan syarat tersebut berada di luar kendali penuh manusia dan bersifat berubah-ubah.


Di sinilah muncul persoalan yang lebih mendasar. Realitas ontologis mengatakan: “Keberadaanku berasal dari Allah.” Sementara keyakinan psikologis dapat mengatakan: “Keberadaanku bergantung pada sesuatu selain Allah.” Ketika kedua hal ini tidak selaras, terbentuklah jarak antara kenyataan dan keyakinan. Jarak tersebut tidak selalu langsung terasa sebagai penderitaan. Pada awalnya mungkin hanya berupa kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan, keinginan untuk mempertahankan posisi, kebutuhan untuk selalu disukai, atau dorongan untuk membuktikan diri. Namun semakin kuat seseorang menggantungkan rasa dirinya pada sesuatu di luar dirinya, semakin besar pula ketergantungan psikologis yang terbentuk. Sesuatu yang semula hanya dianggap “penting” perlahan berubah menjadi sesuatu yang terasa “harus ada agar saya tetap menjadi diri saya”.


Seperti sebuah alat elektronik yang dirancang untuk memperoleh daya dari sumber listrik tertentu. Selama tersambung pada sumber yang tepat, sistem dapat bekerja secara stabil. Namun apabila alat tersebut berusaha mendapatkan daya dari sumber yang tidak dirancang untuk menopangnya, sistem akan mengalami ketidakstabilan. Analogi ini tentu bukan berarti manusia secara harfiah “terhubung” kepada Allah seperti alat listrik terhubung ke kabel, tetapi analogi tersebut membantu menjelaskan struktur masalahnya. Dalam kerangka SAT, manusia memiliki kebutuhan yang sangat dalam untuk merasakan bahwa hidupnya memiliki dasar, nilai, dan keberadaan. Ketika kebutuhan tersebut secara psikologis ditopangkan sepenuhnya pada pujian, jabatan, kekayaan, pasangan, prestasi, atau pengakuan sosial, manusia meminta dari sesuatu yang berubah-ubah sebuah kepastian yang tidak dapat dijaminnya.


Karena itu, semakin sesuatu menjadi sumber rasa keberadaan secara psikologis, semakin besar pula ketakutan untuk kehilangannya. Seseorang yang menjadikan jabatan sebagai bagian dari identitas dirinya tidak hanya takut kehilangan pekerjaan; ia dapat merasa seolah-olah kehilangan dirinya sendiri. Seseorang yang menjadikan penerimaan sebagai dasar harga dirinya tidak hanya merasa sedih ketika ditolak; penolakan dapat terasa seperti ancaman terhadap siapa dirinya. Demikian pula seseorang yang menjadikan kekayaan sebagai dasar rasa aman dapat mengalami kehilangan harta bukan sekadar sebagai kerugian ekonomi, tetapi sebagai ancaman terhadap keseluruhan dirinya. Padahal secara ontologis, yang hilang adalah objek, posisi, hubungan, atau kondisi tertentu, bukan keberadaan dirinya sebagai manusia.


Masalahnya menjadi semakin kompleks karena sistem psikologis manusia dapat memperlakukan kehilangan objek tersebut seolah-olah merupakan ancaman terhadap keberadaan diri. Ketika klaim eksistensial aktif, pikiran mulai memprediksi berbagai kemungkinan: Bagaimana kalau saya kehilangan jabatan? Bagaimana kalau mereka tidak menyukai saya? Bagaimana kalau saya gagal? Bagaimana kalau pasangan saya pergi? Bagaimana kalau orang lain mengetahui kelemahan saya? Dalam bahasa SAT, wilayah ini berkaitan dengan wahm, yaitu konstruksi atau prediksi mental yang kemudian dipersepsikan seolah-olah merupakan ancaman terhadap diri. Akibatnya, tubuh dan sistem saraf dapat masuk ke dalam keadaan siaga, emosi menjadi lebih reaktif, dan perilaku diarahkan untuk mempertahankan sesuatu yang dianggap menentukan keberadaan diri.


Dari sini kita dapat memahami mengapa besarnya penderitaan tidak selalu sebanding dengan besarnya peristiwa yang terjadi. Dua orang dapat mengalami peristiwa yang sama tetapi memberikan respons yang sangat berbeda. Kehilangan jabatan bagi seseorang mungkin hanya berarti, “Saya kehilangan pekerjaan dan sekarang perlu mencari jalan baru.” Bagi orang lain, kehilangan jabatan dapat diterjemahkan menjadi, “Saya bukan siapa-siapa lagi.” Peristiwa eksternalnya sama, tetapi makna eksistensialnya berbeda. Orang kedua bukan hanya kehilangan jabatan; dalam pengalaman subjektifnya, ia merasa kehilangan bagian dari dirinya. Karena itu, yang menentukan intensitas penderitaan bukan hanya apa yang hilang, tetapi juga apa yang diyakini ikut hilang bersama objek tersebut.


Dengan demikian, SAT dapat menggambarkan rangkaian ini secara sederhana: semakin besar jarak antara realitas ontologis dan keyakinan psikologis, semakin kuat klaim eksistensial; semakin kuat klaim eksistensial, semakin banyak hal yang dipersepsikan sebagai ancaman; semakin banyak ancaman yang dipersepsikan, semakin aktif prediksi mental atau wahm; dan semakin kuat wahm, semakin mudah muncul emosi reaktif, respons tubuh, serta perilaku yang mempertahankan atau melindungi klaim tersebut. Penderitaan kemudian menjadi sebuah siklus. Manusia berusaha mempertahankan sesuatu karena ia merasa sesuatu itu menentukan keberadaannya, padahal secara ontologis keberadaannya tidak pernah berasal dari sesuatu tersebut.


Karena itu, dalam perspektif SAT, penderitaan bukan terutama terjadi karena manusia kehilangan sesuatu, tetapi karena manusia mengira bahwa keberadaannya ikut hilang bersama sesuatu yang hilang itu. Kehilangan jabatan bukan kehilangan keberadaan. Penolakan bukan kehilangan keberadaan. Kehilangan harta bukan kehilangan keberadaan. Berakhirnya sebuah hubungan bukan kehilangan keberadaan. Kegagalan bukan kehilangan keberadaan. Semua itu dapat menyakitkan, dapat menimbulkan kesedihan, bahkan dapat membawa konsekuensi nyata yang berat. SAT tidak menyangkal kenyataan tersebut. Yang dipersoalkan adalah ketika pikiran menambahkan makna eksistensial: “Karena saya kehilangan ini, maka saya kehilangan diri saya.”


Atas dasar itu, transformasi dalam SAT bukan pertama-tama tentang mendapatkan sesuatu yang baru, melainkan tentang mengoreksi tempat manusia meletakkan sumber keberadaannya secara psikologis. Transformasi terjadi ketika manusia mulai membedakan antara dirinya dan segala sesuatu yang melekat pada dirinya. Jabatan dapat dimiliki, tetapi jabatan bukan diri. Harta dapat dimiliki, tetapi harta bukan diri. Pasangan dapat dicintai, tetapi pasangan bukan sumber keberadaan diri. Prestasi dapat dibanggakan, tetapi prestasi bukan dasar keberadaan diri. Penerimaan manusia dapat dihargai, tetapi penerimaan manusia tidak menentukan apakah seseorang ada atau tidak ada.


Perubahan ini menghasilkan cara memandang kehidupan yang berbeda. Dari “Saya berharga karena jabatan saya” menjadi “Jabatan saya adalah amanah dan ruang untuk berkarya, tetapi keberadaan saya tidak berasal dari jabatan itu.” Dari “Saya berarti karena orang lain menerima saya” menjadi “Penerimaan manusia tentu menyenangkan, tetapi penerimaan itu tidak menentukan keberadaan saya.” Dari “Saya adalah apa yang saya miliki” menjadi “Apa yang saya miliki adalah amanah yang dapat datang dan pergi, sedangkan keberadaan saya tidak bergantung pada kepemilikan tersebut.” Perubahan ini bukan berarti manusia menjadi tidak peduli terhadap pekerjaan, keluarga, harta, prestasi, atau hubungan. Justru sebaliknya, manusia dapat menjalani semuanya dengan lebih sehat karena ia tidak lagi memaksa semuanya untuk menjadi sumber keberadaannya.


Dengan demikian, inti transformasi bukanlah melepaskan dunia, melainkan melepaskan tuntutan eksistensial kepada dunia. Manusia tetap boleh mengejar prestasi, tetapi tidak harus menggunakan prestasi untuk membuktikan bahwa dirinya layak ada. Manusia tetap boleh mencintai dan dicintai, tetapi tidak harus menjadikan cinta manusia sebagai fondasi keberadaannya. Manusia tetap boleh bekerja untuk memperoleh kekayaan, tetapi tidak harus menjadikan kekayaan sebagai jaminan bahwa dirinya berharga. Ketika posisi ini berubah, hubungan manusia dengan dunia juga berubah: dari ketergantungan eksistensial menjadi relasi fungsional dan amanah.


Pada akhirnya, gagasan dasar SAT dapat dirumuskan dalam satu kalimat: manusia menderita ketika ia menuntut dari sesuatu yang fana untuk memberikan kepastian eksistensial yang sebenarnya tidak dapat diberikan oleh sesuatu yang fana. Dalam perspektif ontologis yang diinspirasi oleh Mulla Sadra, keberadaan manusia tidak berdiri sendiri, melainkan bergantung kepada Allah. Ketika secara psikologis manusia menjadikan jabatan, harta, pasangan, prestasi, reputasi, atau penerimaan sebagai sumber keberadaannya, terbentuklah jarak antara kenyataan dan cara ia memandang dirinya. Semakin besar jarak itu, semakin banyak hal yang harus dipertahankan, semakin banyak kehilangan yang ditakuti, semakin aktif prediksi ancaman, dan semakin besar kemungkinan munculnya penderitaan.


Sebaliknya, ketika kesadaran mulai kembali kepada realitas yang lebih mendasar - “Saya ada karena Allah; sementara segala sesuatu yang saya miliki hanyalah bagian dari perjalanan keberadaan saya” - hubungan manusia dengan kehilangan mulai berubah. Kehilangan tetap dapat menyakitkan, tetapi tidak harus berarti kehilangan diri. Penolakan tetap dapat mengecewakan, tetapi tidak harus berarti kehilangan nilai diri. Kegagalan tetap dapat menjadi pengalaman berat, tetapi tidak harus berarti kehilangan keberadaan. Di titik inilah SAT melihat transformasi: bukan ketika manusia berhasil mengendalikan seluruh dunia agar tidak berubah, tetapi ketika ia tidak lagi menjadikan perubahan dunia sebagai penentu keberadaannya. Dengan semakin kecilnya jarak antara realitas ontologis dan keyakinan psikologis, semakin kecil pula kebutuhan untuk mempertahankan klaim-klaim eksistensial tersebut, dan dari sana terbuka ruang bagi kesadaran, regulasi, integrasi, kehadiran, serta kehidupan yang lebih tenang.

Comments

Popular posts from this blog

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...