Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Info

Mengapa Kebenaran Bisa Kalah Oleh Kebersamaan?

Psikolog sosial Solomon Asch memulai penelitiannya dari satu pertanyaan yang tampak sangat sederhana, tetapi implikasinya besar bagi pemahaman tentang perilaku manusia: jika sebuah jawaban sangat jelas dan mudah, apakah orang dewasa yang waras tetap akan mengikuti kelompok ketika kelompok itu jelas-jelas salah? Pada masa itu, banyak ilmuwan berasumsi bahwa orang dewasa akan mempercayai penglihatan dan penilaiannya sendiri. Selama fakta terlihat jelas di depan mata, mereka diyakini tidak akan mudah terpengaruh. Asch justru meragukan asumsi ini dan ingin mengujinya secara langsung. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Asch merancang sebuah eksperimen yang sangat sederhana, tetapi cermat. Dalam satu ruangan, ia menempatkan satu orang peserta asli yang tidak mengetahui tujuan eksperimen, bersama enam hingga delapan orang lain yang sebenarnya adalah aktor yang telah diarahkan sebelumnya. Peserta asli tidak diberi tahu bahwa orang-orang lain itu adalah bagian dari skenario eksperimen, sehingg...

Nyeri Bukan Penderitaan

Seorang anak pernah tersiram minyak panas ketika sedang menggoreng. Minyak mengenai kedua tangannya, dari pergelangan hingga ujung jari. Secara fisik, ini jelas peristiwa yang berpotensi menimbulkan luka serius. Namun yang menarik adalah respons orang tuanya. Mereka tidak panik, tidak berteriak, dan tidak menunjukkan kecemasan berlebihan. Orang tua hanya tersenyum kecil, menenangkan anak, lalu mengoleskan salep luka bakar sebagaimana mestinya. Karena tidak ada tekanan emosional dari lingkungan, anak pun memaknai kejadian itu sebagai “luka yang perih”, bukan sebagai bencana. Ia tetap merasa nyeri, tetapi tidak takut berlebihan. Hasilnya, proses penyembuhan berlangsung cepat: tidak muncul lepuhan, tidak ada bekas luka, dan tangan pulih seperti semula. Kisah sederhana ini menunjukkan satu hal penting: rasa nyeri dan penderitaan bukanlah hal yang sama.   Dalam ilmu nyeri, perbedaan ini dijelaskan secara jelas. Menurut definisi resmi IASP (International Association for the Study of Pain...
TELAH TERBIT!!!!! BUKU YANG AKAN MENGUBAH HIDUP ANDA, KARENA ANDA BISA MENGUBAH KEYAKINAN ANDA YANG MEMBELENGGU DAN MENJADI LEBIH BERDAYA Kebanyakan manusia memang susah untuk berubah, karena memang otak kita dirancang untuk "menolak" perubahan yang tak perlu atas keyakinan yang telah ada sebelumnya. Tapi benarkah otak tak bisa diubah? Sekiranya otak tak bisa berubah, maka selamanya Anda masih memegang keyakinan yang telah ada sebelumnya. Bagaimana jika keyakinan Anda itu justru tak relevan dengan perkembangan dan pencapaian impian Anda? Kalau ternyata otak bisa berubah, lantas bagaimana caranya? TELAH TERBIT!! BUKU YANG FENOMENAL: CHANGE LIMITING BELIEFS APRESIASI ATAS BUKU INI Sebuah cita-cita yang bermakna perlu perjuangan untuk meraihnya. Perjuangan itu akan terasa indah jika kita mengikatnya secara emosional, mencintai dan menikmatinya. Yang lebih penting adalah, jangan sampai kita meraih cita-cita tetapi ternyata cita-cita yang kita ...

COACHING ONLINE: CHANGE YOUR BELIEF, CHANGE YOUR DESTINY

Coaching Online merupakan sebuah cara memberikan coaching kepada mereka yang memiliki waktu yang terbatas, lebih suka belajar dari berbagai tempat yang disukai, menyukai belajar sambil lebih rileks, dan belajar sambil tetap menjaga privasi. Coaching Online (CL) ini akan membantu Anda untuk menyadari dan memaknai arti dari diri Anda sendiri dan kehidupan yang luar biasa ini. Ini merupakan coaching yang bersifat interaktif dengan memanfaatkan fasilitas Yahoo! Messenger (YM). Setiap peserta akan diberikan modul dan kemudian modul tersebut akan dibahas pada pertemuan online yang telah dijadwalkan. Terdapat 3 bagian besar modul yang akan dibahas selama 3 bulan ke depan, mulai dari Psikologi Negatif hingga Psikologi Positif. Ya, CL ini akan dilaksanakan selama 3 bulan dengan jadwal pertemuan total sebanyak 48 jam atau hampir setara dengan 1 semester kuliah. Modul pertama adalah: POTENSI ANDA. Pada modul ini akan menekankan point utama bahwa “Adakah kekuatan dalam diri kita yang bisa m...