Psikolog sosial Solomon Asch memulai penelitiannya dari satu pertanyaan yang tampak sangat sederhana, tetapi implikasinya besar bagi pemahaman tentang perilaku manusia: jika sebuah jawaban sangat jelas dan mudah, apakah orang dewasa yang waras tetap akan mengikuti kelompok ketika kelompok itu jelas-jelas salah? Pada masa itu, banyak ilmuwan berasumsi bahwa orang dewasa akan mempercayai penglihatan dan penilaiannya sendiri. Selama fakta terlihat jelas di depan mata, mereka diyakini tidak akan mudah terpengaruh. Asch justru meragukan asumsi ini dan ingin mengujinya secara langsung. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Asch merancang sebuah eksperimen yang sangat sederhana, tetapi cermat. Dalam satu ruangan, ia menempatkan satu orang peserta asli yang tidak mengetahui tujuan eksperimen, bersama enam hingga delapan orang lain yang sebenarnya adalah aktor yang telah diarahkan sebelumnya. Peserta asli tidak diberi tahu bahwa orang-orang lain itu adalah bagian dari skenario eksperimen, sehingg...
Memfasilitasi Manusia Kembali Utuh — Tidak Terpecah antara Pikiran, Perasaan, Makna, dan Tuhan