Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2026

Yang Lenyap Bukan Dirimu, Tapi Egomu

Dalam tradisi spiritual Islam, ungkapan seperti “menyatu dengan kehendak Allah”, “melebur dalam kehendak-Nya”, atau fana’ sering dipahami secara keliru. Sebagian orang mengira bahwa ketika seorang hamba mencapai tingkat spiritual tertentu, ia berubah menjadi Tuhan, kehilangan dirinya sepenuhnya, atau identitas manusianya lenyap. Padahal, dalam kerangka Tauhid Islam, khususnya dalam pemikiran Mulla Sadra dan Ibn Arabi, yang dimaksud bukanlah penyatuan dzat antara manusia dan Allah. Islam tetap menegaskan adanya perbedaan mutlak antara Sang Pencipta dan makhluk. Yang berubah bukan hakikat ketuhanan manusia, melainkan arah batin, kualitas kesadaran, dan cara manusia menjalani hidup. Dalam filsafat Islam, Allah disebut sebagai Wājib al-Wujūd, yaitu Keberadaan Yang Niscaya dan tidak bergantung pada apapun. Sementara manusia adalah mumkin al-wujūd, keberadaan yang sepenuhnya bergantung kepada Allah. Artinya, manusia tidak pernah memiliki eksistensi mandiri seperti Tuhan. Ia hidup, bergerak, ...

Ternyata Tuhan Tidak Menzalimi Manusia – Kita Yang Menutup Cahaya-Nya

QS An-Nisa’ ayat 79 menjelaskan sebuah prinsip mendasar tentang hubungan manusia, Tuhan, dan realitas kehidupan. Ayat itu berbunyi: “Apa saja kebaikan yang kamu peroleh maka itu dari Allah, dan apa saja keburukan yang menimpamu maka itu dari dirimu sendiri.” Dalam penjelasan para ulama tafsir - terutama yang dipengaruhi pendekatan filsafat Islam seperti pemikiran Mulla Sadra - ayat ini tidak dipahami secara dangkal seolah-olah Allah hanya memberi yang baik sementara manusia menciptakan keburukan secara mandiri. Penjelasannya jauh lebih dalam, yaitu menyangkut hakikat keberadaan, sumber kesempurnaan, dan bagaimana manusia berhubungan dengan limpahan kebaikan Ilahi. Dalam pandangan filsafat Islam, Allah adalah sumber seluruh wujud dan seluruh kesempurnaan. Semua hal yang membuat sesuatu menjadi “baik” pada hakikatnya berasal dari-Nya. Kehidupan, kesehatan, ilmu, cinta, ketenangan, kekuatan, petunjuk, rezeki, dan kemampuan berpikir - semua itu adalah bentuk keberadaan dan kesempurnaan yan...

Qurban: Ketika Yang Mati Adalah Ego, Bukan Cinta

Kisah qurban Ibrahim sering dipahami secara lahiriah sebagai kisah tentang “kehilangan” atau “pengorbanan sesuatu yang dicintai”. Padahal, jika dilihat lebih dalam, qurban justru bukan tentang kehilangan, melainkan tentang transformasi melalui penyerahan (transformation through surrender).   Secara manusiawi, manusia sering takut bahwa ketika ia melepaskan sesuatu yang sangat dicintai, ia akan menjadi kosong, menderita, atau kehilangan kebahagiaan. Namun kisah Ibrahim menunjukkan prinsip yang jauh lebih dalam: sesuatu yang dilepaskan karena Allah tidak benar-benar hilang, tetapi ditransformasikan ke dalam bentuk yang lebih suci dan lebih benar. Yang berubah bukan keberadaan karunia itu, tetapi cara hati berhubungan dengannya. Sebelum ujian qurban, Ismail adalah anak yang sangat dicintai Ibrahim. Ia bukan sekadar seorang anak, tetapi anak yang hadir setelah penantian panjang, sumber kebahagiaan, harapan, dan cinta seorang ayah. Semua itu sangat manusiawi dan tidak salah. Islam tidak...

Tubuh Selamat, Jiwa Rusak: Ketika Moral Tidak Bisa Dihitung Dengan Angka

Kasus lifeboat ethics atau perkara hukum klasik R v Dudley and Stephens (1884) sering dipakai dalam filsafat moral karena ia memaksa manusia berhadapan dengan pertanyaan yang sangat brutal: apakah membunuh satu orang yang tidak bersalah boleh dilakukan jika itu menyelamatkan lebih banyak orang?   Kisah ini bermula ketika kapal layar kecil Mignonette tenggelam di tengah lautan pada tahun 1884. Empat orang yang selamat - Thomas Dudley (kapten), Edwin Stephens, Edmund Brooks, dan Richard Parker (anak kabin, usia 17 tahun) - terdampar di sekoci kecil tanpa persediaan yang cukup. Hari demi hari berlalu, makanan habis, air minum habis, tubuh semakin lemah, dan rasa lapar berubah menjadi kondisi ekstrem yang mengancam nyawa. Parker, yang masih sangat muda, jatuh sakit parah setelah minum air laut dan menjadi yang paling lemah di antara mereka. Dalam kondisi putus asa itu, Dudley dan Stephens mulai menggunakan logika yang terlihat “masuk akal” secara hitungan: kalau tidak ada yang dikorban...