Dalam tradisi spiritual Islam, ungkapan seperti “menyatu dengan kehendak Allah”, “melebur dalam kehendak-Nya”, atau fana’ sering dipahami secara keliru. Sebagian orang mengira bahwa ketika seorang hamba mencapai tingkat spiritual tertentu, ia berubah menjadi Tuhan, kehilangan dirinya sepenuhnya, atau identitas manusianya lenyap. Padahal, dalam kerangka Tauhid Islam, khususnya dalam pemikiran Mulla Sadra dan Ibn Arabi, yang dimaksud bukanlah penyatuan dzat antara manusia dan Allah. Islam tetap menegaskan adanya perbedaan mutlak antara Sang Pencipta dan makhluk. Yang berubah bukan hakikat ketuhanan manusia, melainkan arah batin, kualitas kesadaran, dan cara manusia menjalani hidup. Dalam filsafat Islam, Allah disebut sebagai Wājib al-Wujūd, yaitu Keberadaan Yang Niscaya dan tidak bergantung pada apapun. Sementara manusia adalah mumkin al-wujūd, keberadaan yang sepenuhnya bergantung kepada Allah. Artinya, manusia tidak pernah memiliki eksistensi mandiri seperti Tuhan. Ia hidup, bergerak, ...
Memfasilitasi Manusia Kembali Utuh — Tidak Terpecah antara Pikiran, Perasaan, Makna, dan Tuhan