Salah satu gagasan penting dalam filsafat Mulla Sadra adalah bahwa keberadaan seseorang tidak bergantung pada pikiran, keyakinan, atau cerita yang ia miliki tentang dirinya sendiri. Dengan kata lain, “keberadaan saya tidak bergantung pada klaim.” Kalimat ini terlihat sederhana, tetapi jika dipahami dengan baik, ia dapat mengubah cara seseorang memandang dirinya dan mengurangi banyak penderitaan psikologis.
Untuk memahaminya, kita perlu membedakan antara “diri yang ada” dan “klaim tentang diri”. Misalnya seseorang memiliki keyakinan, "Saya tidak dicintai." Sekilas kalimat itu terasa sangat pribadi sehingga seolah-olah menggambarkan siapa dirinya. Namun jika diperhatikan lebih dalam, kalimat tersebut sebenarnya hanyalah sebuah pikiran atau kesimpulan yang muncul dalam kesadaran. Pertanyaannya, apakah orang itu identik dengan kalimat tersebut? Jika suatu hari ia tidak lagi mempercayainya, apakah dirinya ikut lenyap? Tentu tidak. Yang berubah hanyalah pikirannya, sedangkan dirinya tetap ada. Dari sini terlihat bahwa keberadaan seseorang lebih mendasar daripada klaim yang ia buat tentang dirinya.
Hal ini menjadi lebih jelas ketika kita melihat perjalanan hidup manusia sejak lahir. Seorang bayi datang ke dunia tanpa membawa label apapun. Ia tidak berpikir bahwa dirinya gagal atau sukses, dicintai atau ditolak, berharga atau tidak berharga. Yang ada terlebih dahulu hanyalah keberadaan. Setelah itu barulah ia mengalami berbagai peristiwa, kemudian menafsirkan pengalaman tersebut, membentuk keyakinan, dan akhirnya menciptakan identitas tentang dirinya. Dengan demikian, urutannya adalah: keberadaan terlebih dahulu, kemudian pengalaman, lalu penafsiran, dan akhirnya klaim tentang diri. Karena klaim muncul belakangan, klaim tidak mungkin menjadi sumber keberadaan. Justru keberadaanlah yang memungkinkan klaim itu muncul.
Dalam kehidupan sehari-hari kita juga dapat melihat bahwa klaim tentang diri terus berubah. Ketika masih kecil seseorang mungkin percaya bahwa dirinya bodoh karena sering mendapat nilai rendah. Bertahun-tahun kemudian, setelah berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi, ia mulai berkata bahwa dirinya sebenarnya cerdas. Klaim pertama berubah menjadi klaim kedua. Namun di balik perubahan itu ada sesuatu yang tetap, yaitu orang yang mengalaminya. Ini menunjukkan bahwa klaim dapat berubah sesuai pengalaman dan sudut pandang, sedangkan keberadaan orang tersebut tetap berlangsung. Karena itu, sesuatu yang berubah-ubah tidak dapat menjadi dasar bagi sesuatu yang lebih tetap.
Secara logis, setiap klaim juga membutuhkan seseorang yang mengklaim. Agar muncul pikiran seperti "Saya tidak berharga", harus ada terlebih dahulu subjek yang memikirkan kalimat itu. Pikiran tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya seseorang yang menyadarinya. Sebaliknya, seseorang tetap ada meskipun untuk sementara tidak memikirkan apapun. Saat tidur nyenyak, ketika tenggelam dalam doa, atau ketika menikmati keheningan yang mendalam, berbagai klaim tentang diri bisa menghilang dari perhatian. Namun keberadaan orang tersebut tidak ikut menghilang. Ini menunjukkan bahwa klaim bergantung pada keberadaan, sedangkan keberadaan tidak bergantung pada klaim.
Di sinilah pandangan Mulla Sadra menjadi sangat relevan. Menurutnya, yang paling fundamental dalam realitas bukanlah konsep, pikiran, atau definisi, melainkan wujud atau keberadaan itu sendiri. Pikiran hanyalah sesuatu yang muncul di dalam keberadaan. Karena itu, ketika seseorang berkata, "Saya tidak berharga," pertanyaan yang diajukan bukanlah apakah kalimat itu benar atau salah, melainkan: siapa yang mengetahui pikiran tersebut? Pikiran "saya tidak berharga" adalah sesuatu yang diketahui. Sedangkan pihak yang mengetahui lebih mendasar daripada apa yang diketahui. Dengan demikian, pikiran itu bukanlah hakikat diri, melainkan hanya salah satu isi kesadaran yang sedang muncul.
Pemahaman ini memiliki implikasi yang sangat penting dalam terapi dan pengembangan diri. Banyak penderitaan muncul bukan karena peristiwa itu sendiri, tetapi karena seseorang menyamakan dirinya dengan penafsiran yang lahir dari peristiwa tersebut. Misalnya seorang anak mengalami kenyataan bahwa ayahnya meninggalkan keluarga. Itu adalah sebuah peristiwa. Namun kemudian muncul kesimpulan, "Berarti saya tidak layak dicintai." Kesimpulan ini bukan lagi peristiwa, melainkan penafsiran terhadap peristiwa. Dua hal tersebut sering tercampur sehingga seseorang menganggap penafsirannya sebagai fakta mutlak tentang dirinya. Padahal, ayah meninggalkan saya dan saya tidak layak dicintai adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama adalah kejadian nyata. Yang kedua adalah makna yang diberikan oleh pikiran terhadap kejadian itu.
Jika suatu hari penafsiran itu berubah, misalnya menjadi, "Ayah meninggalkan saya karena keterbatasan dan masalah pribadinya, bukan karena saya tidak layak dicintai," maka peristiwanya tetap sama, tetapi penderitaannya dapat berkurang secara drastis. Ini menunjukkan bahwa banyak penderitaan psikologis sebenarnya tidak berasal dari keberadaan diri, melainkan dari klaim yang dilekatkan pada keberadaan tersebut.
Dari sudut pandang ini, seseorang dapat mulai melihat dirinya dengan cara yang berbeda. Ia mungkin memiliki berbagai klaim tentang dirinya: gagal, ditolak, tidak dicintai, tidak berharga, kurang mampu, atau tidak cukup baik. Namun semua klaim itu adalah sesuatu yang dapat diamati dan disadari. Karena dapat disadari, berarti ia bukanlah hakikat terdalam dari diri yang menyadari. Hakikat diri lebih dekat kepada keberadaan yang hadir dan mengetahui seluruh pikiran itu daripada kepada isi pikiran yang silih berganti.
Karena itu, dalam perspektif Mulla Sadra, kebebasan batin mulai muncul ketika seseorang menyadari bahwa dirinya tidak identik dengan klaim yang pernah ia percayai. Klaim dapat datang dan pergi, berubah dan digantikan oleh klaim lain. Namun keberadaan yang menyadari semua perubahan itu tetap ada. Maka fondasi diri bukanlah cerita yang kita ceritakan tentang diri kita, melainkan keberadaan yang menjadi tempat munculnya semua cerita tersebut. Dengan kata lain, saya memiliki klaim, tetapi saya bukan klaim itu. Saya adalah keberadaan yang menyadari klaim tersebut.

Comments
Post a Comment