Pertanyaan tentang apakah manusia bisa benar-benar bebas dari masa lalu sering muncul dalam psikologi, filsafat, maupun kehidupan sehari-hari. Jawabannya bergantung pada apa yang dimaksud dengan kata “bebas”. Jika yang dimaksud adalah tidak pernah mengingat masa lalu lagi, maka jawabannya tidak. Memori bukanlah sesuatu yang dapat dihapus begitu saja seperti menghapus file dari komputer. Pengalaman yang pernah terjadi tetap menjadi bagian dari sejarah hidup seseorang dan dapat muncul kembali dalam ingatan pada waktu-waktu tertentu.
Namun jika yang dimaksud dengan bebas adalah tidak lagi dikendalikan oleh luka, ketakutan, atau pola pikir destruktif yang lahir dari pengalaman masa lalu, maka jawabannya adalah ya. Dalam pengertian ini, seseorang dapat mengalami kebebasan yang sangat nyata. Ia masih mengingat apa yang pernah terjadi, tetapi pengalaman itu tidak lagi menguasai cara ia berpikir, merasa, dan menjalani hidupnya saat ini.
Selama bertahun-tahun, banyak orang secara tidak sadar memandang masa lalu sebagai sesuatu yang hampir menentukan seluruh kehidupan manusia. Cara berpikir ini dapat diringkas sebagai berikut: seseorang mengalami trauma atau pengalaman buruk di masa kecil, pengalaman itu membentuk kepribadiannya ketika dewasa, lalu kepribadian tersebut menentukan nasib hidupnya. Dalam paradigma ini, masa lalu tampak seperti takdir yang sulit diubah. Jika seseorang pernah terluka, maka ia akan terus terluka. Jika seseorang pernah ditolak, maka penolakan itu akan terus membayangi hidupnya.
Masalahnya, jika pandangan tersebut benar secara mutlak, maka terapi psikologis hampir tidak mungkin berhasil. Sebab terapi tidak memiliki kemampuan untuk mengubah kejadian yang sudah berlalu. Tidak ada terapi yang dapat mengembalikan waktu dan menghapus apa yang pernah terjadi. Fakta sejarah tetaplah fakta sejarah.
Akan tetapi, perkembangan ilmu saraf modern memberikan gambaran yang lebih optimistis. Penelitian mengenai plastisitas otak dan proses yang dikenal sebagai memory reconsolidation menunjukkan bahwa memori tidak bekerja seperti rekaman video yang diputar ulang persis sama setiap kali diingat. Ketika suatu memori dipanggil kembali ke kesadaran, memori tersebut untuk sementara waktu menjadi lebih lentur dan terbuka terhadap pembaruan sebelum akhirnya disimpan kembali.
Secara sederhana, prosesnya dapat dibayangkan seperti ini: sebuah memori diaktifkan, kemudian memasuki keadaan yang lebih fleksibel, setelah itu menerima informasi atau pengalaman baru, lalu distabilkan kembali. Dengan kata lain, sistem saraf manusia tidak hanya menyimpan masa lalu, tetapi juga terus menafsirkan ulang masa lalu berdasarkan pemahaman yang berkembang seiring waktu.
Temuan ini penting karena penderitaan manusia seringkali bukan berasal dari peristiwa masa lalu itu sendiri, melainkan dari pelajaran dan kesimpulan yang dibawa oleh peristiwa tersebut hingga ke masa kini. Dua orang bisa mengalami kejadian yang sama, tetapi menghasilkan kehidupan yang sangat berbeda. Misalnya, dua anak sama-sama mengalami penolakan. Salah satunya tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya tidak layak dicintai. Yang lainnya belajar bahwa penolakan memang menyakitkan, tetapi tidak menentukan nilai dirinya sebagai manusia. Peristiwanya sama, tetapi makna yang dibangun dari peristiwa itu berbeda. Akibatnya, kehidupan yang mereka jalani pun berbeda.
Hal ini menunjukkan bahwa yang paling berpengaruh terhadap kehidupan seseorang bukan hanya apa yang terjadi, melainkan bagaimana pengalaman itu dipahami dan dimaknai. Peristiwa mungkin telah berlalu, tetapi makna yang terus hidup di dalam diri seseorang dapat tetap memengaruhi keputusan, hubungan, emosi, bahkan cara memandang masa depan.
Karena itu, yang sebenarnya berubah dalam proses terapi bukanlah sejarah itu sendiri. Jika seseorang pernah ditinggalkan ayahnya ketika berusia lima tahun, fakta tersebut tidak akan berubah. Jika seseorang pernah mengalami kegagalan, penghinaan, atau kehilangan, semua itu tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Yang dapat berubah adalah makna yang diberikan pada peristiwa tersebut, pembelajaran emosional yang terbentuk darinya, model prediksi yang digunakan otak untuk memahami dunia, dan identitas yang selama ini dilekatkan pada pengalaman tersebut.
Dengan kata lain, sejarah tetap sama, tetapi hubungan kita dengan sejarah dapat berubah. Inilah salah satu inti dari penyembuhan psikologis. Seseorang tidak harus menghapus masa lalunya untuk menjadi bebas. Ia hanya perlu membangun hubungan baru dengan masa lalu tersebut.
Dari sudut pandang memory reconsolidation, perubahan terjadi ketika model emosional lama yang selama ini dianggap benar mulai kehilangan kepastiannya. Misalnya, seseorang mungkin selama bertahun-tahun memegang keyakinan bahwa penolakan berarti dirinya tidak berharga. Ketika pengalaman baru, refleksi yang mendalam, atau proses terapi menunjukkan bahwa kedua hal itu tidak selalu berkaitan, keyakinan lama mulai melemah. Akhirnya terbentuk pemahaman baru: "Saya memang pernah ditolak, tetapi nilai diri saya tidak ditentukan oleh penolakan itu." Peristiwa masa lalu tidak berubah, tetapi makna emosional yang melekat pada peristiwa tersebut berubah secara signifikan.
Dalam kerangka SAT, proses ini dapat dipahami sebagai sebuah rantai yang bergerak dari peristiwa menuju klaim eksistensial, kemudian melahirkan wahm atau prediksi mental, menghasilkan emosi tertentu, dan akhirnya memunculkan respons tubuh maupun perilaku. Selama klaim eksistensial tetap dipercaya, seluruh rantai akan terus berulang. Namun ketika klaim tersebut mulai dipertanyakan atau kehilangan kepastian, maka seluruh sistem ikut berubah. Bukan karena masa lalu menghilang, tetapi karena fondasi makna yang dibangun dari masa lalu tidak lagi diterima dengan cara yang sama.
Dalam filsafat Mulla Sadra, pembahasan ini menjadi lebih mendalam lagi. Sadra berpendapat bahwa keberadaan manusia lebih fundamental daripada pikiran, emosi, maupun pengalaman yang muncul di dalam dirinya. Pikiran datang dan pergi. Emosi datang dan pergi. Pengalaman datang dan pergi. Tetapi keberadaan manusia tidak identik dengan semua itu. Ada dimensi yang lebih dalam daripada seluruh isi pengalaman yang silih berganti tersebut.
Karena itu, masalah sering muncul ketika seseorang menjadikan luka masa lalu sebagai identitas dirinya. Misalnya, seseorang berkata dalam hatinya, "Saya adalah orang yang ditolak." Pada saat itu, penolakan tidak lagi dipandang sebagai pengalaman yang pernah terjadi, melainkan sebagai definisi tentang siapa dirinya. Luka masa lalu menjadi pusat identitas dan mulai mewarnai seluruh kehidupannya.
Sebaliknya, ketika seseorang menyadari bahwa penolakan hanyalah salah satu pengalaman yang pernah terjadi dan bukan hakikat keberadaannya, maka sesuatu yang sangat mendasar mulai berubah. Ia masih mengingat peristiwa itu, tetapi tidak lagi hidup di bawah bayang-bayangnya. Ia tidak lagi mendefinisikan dirinya berdasarkan luka tersebut. Masa lalu tetap ada sebagai bagian dari sejarah hidupnya, tetapi tidak lagi menjadi penjara yang menentukan masa depannya.
Karena itu, kebebasan dari masa lalu bukanlah kemampuan untuk melupakan. Kebebasan adalah kemampuan untuk mengingat tanpa kembali terperangkap. Kita tidak menghapus sejarah, tetapi kita dapat berhenti menjadikan sejarah sebagai identitas. Di situlah penyembuhan yang paling mendalam terjadi: bukan ketika masa lalu hilang, melainkan ketika keberadaan kita tidak lagi ditentukan olehnya.

Comments
Post a Comment