Apa sebenarnya yang bertumbuh ketika manusia mengalami pertumbuhan? Selama ini pertumbuhan sering dipahami sebagai bertambahnya sesuatu yang dimiliki manusia. Pengetahuan bertambah, keterampilan meningkat, karier naik, penghasilan membesar, atau aset semakin banyak. Semua itu memang bentuk pertumbuhan, tetapi sebenarnya masih berada pada tingkat yang bersifat eksternal. Yang bertambah adalah sesuatu yang dimiliki manusia, bukan manusia itu sendiri.
Karena itu SAT (Self Awareness Transformation) mengajak kita melihat pertanyaan yang lebih mendasar: apakah yang terjadi pada keberadaan manusia itu sendiri ketika ia bertumbuh? Dari sudut pandang ini, pertumbuhan bukan lagi sekadar peningkatan kemampuan atau pencapaian, melainkan perubahan pada kualitas keberadaan manusia.
Untuk memahami hal tersebut, kita perlu memahami bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan yang sangat mendasar, yaitu kebutuhan untuk merasakan bahwa dirinya ada, bernilai, dan bermakna. Dalam bahasa SAT, kebutuhan ini disebut sebagai rasa keberadaan. Masalahnya, banyak orang tidak menyadari dari mana rasa keberadaan itu berasal. Akibatnya, mereka mencari sumber rasa keberadaan pada hal-hal yang berada di luar dirinya.
Ada yang merasa dirinya berharga karena diterima orang lain, ada yang merasa berarti karena prestasi, ada yang merasa aman karena uang, ada yang merasa dicintai karena dibutuhkan, dan ada pula yang merasa penting karena jabatan atau kekuasaan. Tanpa disadari terbentuk keyakinan tersembunyi seperti: “Aku ada karena ini.” Keyakinan inilah yang dalam SAT disebut sebagai klaim eksistensial.
Klaim eksistensial pada awalnya memberikan rasa aman dan rasa berarti. Seseorang yang dihargai akan merasa dirinya berharga. Seseorang yang berhasil akan merasa dirinya berarti. Namun masalah muncul karena semua objek yang menjadi sandaran tersebut bersifat terbatas dan dapat hilang sewaktu-waktu. Jabatan bisa berakhir, kekayaan bisa berkurang, pasangan bisa pergi, prestasi bisa dilampaui orang lain, dan penerimaan sosial bisa berubah menjadi penolakan. Ketika keberadaan diri digantungkan pada sesuatu yang rapuh, maka rasa keberadaan itu sendiri menjadi rapuh. Akibatnya manusia hidup dalam ketakutan yang seringkali tidak disadarinya.
Dari sinilah muncul apa yang dalam SAT disebut sebagai Reactive–Predictive Mode. Ketika seseorang menggantungkan keberadaannya pada sesuatu yang dapat hilang, sistem internalnya akan terus berusaha melindungi sumber keberadaan tersebut. Misalnya seseorang memiliki klaim eksistensial: “Aku berharga karena diterima.” Maka setiap kemungkinan penolakan akan dianggap sebagai ancaman terhadap dirinya. Pikiran kemudian mulai bekerja membuat berbagai prediksi: Bagaimana jika mereka tidak menyukai saya? Bagaimana jika saya ditolak? Bagaimana jika saya gagal?
Prediksi-prediksi ini memunculkan kecemasan. Kecemasan kemudian melahirkan berbagai reaksi seperti berusaha menyenangkan semua orang, mencari validasi terus-menerus, menghindari risiko, atau menjadi defensif ketika dikritik. Dengan kata lain, manusia menjadi reaktif bukan karena ia ingin menjadi reaktif, melainkan karena sistem internalnya sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang dianggap sebagai sumber keberadaannya.
Pada titik ini, filsafat Mulla Sadra memberikan landasan yang sangat mendalam. Menurut Sadra, hakikat manusia bukanlah tubuhnya, pikirannya, atau atribut-atribut yang dimilikinya, melainkan wujudnya. Wujud manusia bukan sesuatu yang statis, tetapi selalu bergerak menuju tingkat kesempurnaan yang lebih tinggi. Konsep ini dikenal sebagai al-harakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Artinya, pada tingkat terdalam manusia selalu berubah. Tidak ada manusia yang benar-benar diam. Setiap saat ia sedang bergerak dan menjadi sesuatu. Karena itu pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Apakah saya berubah?” melainkan, “Saya berubah menuju apa?”
Jika seseorang menggantungkan keberadaannya pada hal-hal yang fana dan sementara, maka seluruh gerak hidupnya akan diarahkan untuk mempertahankan keterikatan tersebut. Energinya habis untuk menjaga citra diri, mempertahankan status, mengumpulkan pengakuan, atau menghindari kehilangan. Sebaliknya, ketika seseorang mulai menyadari bahwa keberadaannya tidak berasal dari hal-hal tersebut, arah gerak jiwanya berubah. Dalam pandangan Sadra, pertumbuhan sejati adalah meningkatnya intensitas dan kesempurnaan wujud manusia. Dalam bahasa SAT, hal ini dapat dipahami sebagai berkurangnya ketergantungan eksistensial kepada selain Allah.
Pandangan ini juga sejalan dengan konsep fitrah dalam Islam. Pada tingkat terdalam, manusia memiliki kecenderungan alami untuk mengenal Allah sebagai sumber keberadaan. Namun karena kelalaian (ghaflah), manusia sering mencari rasa aman, rasa berharga, dan rasa bermakna pada hal-hal selain Allah. Ketika itu terjadi, lahirlah berbagai bentuk ketergantungan eksistensial. Secara lahiriah seseorang mungkin tidak menyembah uang, jabatan, atau penerimaan sosial. Namun secara batin, hatinya menggantungkan rasa keberadaannya kepada hal-hal tersebut. Dalam pengertian ini, klaim eksistensial dapat dipahami sebagai bentuk ketergantungan hati kepada selain Allah.
Karena itu pertumbuhan yang sesungguhnya bukan pertama-tama tentang bertambahnya pengetahuan, kekayaan, atau prestasi, melainkan tentang kembalinya kesadaran manusia kepada sumber keberadaannya yang sejati. Seluruh perjalanan hidup manusia pada hakikatnya adalah perjalanan menuju Allah. Perjalanan ini bukan perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perubahan kualitas keberadaan.
Setiap hari manusia sedang menjadi sesuatu. Jika hatinya semakin bergantung kepada makhluk, maka hijab batinnya semakin tebal, ketergantungannya semakin besar, dan kecemasannya semakin meningkat. Sebaliknya, jika hatinya semakin mengenal Allah sebagai sumber keberadaan, maka hijab-hijab itu mulai berkurang, kebebasan batin bertambah, dan ketenangan semakin mendalam.
Dalam kerangka inilah SAT memandang bahwa pertumbuhan sejati ditandai oleh munculnya Presence–Reflective Mode. Mode ini muncul ketika seseorang tidak lagi sepenuhnya hidup dari klaim eksistensialnya. Selama seseorang masih meyakini bahwa dirinya ada karena pujian, penerimaan, prestasi, atau jabatan, ia akan terus sibuk mengawasi lingkungan dan memprediksi berbagai ancaman. Perhatian dan energinya habis untuk mempertahankan identitas yang rapuh.
Namun ketika ia mulai menyadari bahwa keberadaannya tidak berasal dari semua hal tersebut, muncul ruang batin yang lebih luas. Dalam ruang itu ia tidak lagi sepenuhnya dikuasai oleh pikiran dan emosinya. Ia mampu mengamati pikirannya tanpa harus mempercayainya, menyaksikan emosinya tanpa harus tenggelam di dalamnya, dan merefleksikan pengalamannya tanpa harus bereaksi secara otomatis.
Karena itu, dalam perspektif SAT, pertumbuhan manusia bukan terutama soal menjadi lebih sukses, lebih kaya, atau lebih berpengaruh. Semua itu bisa saja terjadi, tetapi bukan inti pertumbuhan. Yang benar-benar bertumbuh adalah kualitas keberadaan manusia itu sendiri. Pertumbuhan adalah proses berkurangnya ketergantungan eksistensial kepada hal-hal yang fana, berkurangnya hijab yang menutupi kesadaran, dan semakin dalamnya kesadaran akan sumber keberadaan yang sejati.
Ketika itulah manusia bergerak dari hidup yang reaktif menuju hidup yang hadir, dari hidup yang didorong ketakutan menuju hidup yang dipandu kesadaran, dan dari pencarian keberadaan di luar diri menuju pengenalan terhadap sumber keberadaan yang sesungguhnya.
Walhasil, pertumbuhan yang paling mendasar bukanlah bertambahnya apa yang dimiliki manusia, melainkan berubahnya tempat manusia menggantungkan rasa keberadaannya. Selama rasa keberadaan bergantung pada sesuatu selain Allah, manusia cenderung hidup dalam Reactive–Predictive Mode. Ketika rasa keberadaan kembali kepada sumbernya yang sejati, manusia bergerak menuju Presence–Reflective Mode. Itulah pertumbuhan yang sekaligus bersifat psikologis, eksistensial, filosofis, dan spiritual.

Comments
Post a Comment