Skip to main content

Masa Kecil Tidak Pernah Benar-Benar Berlalu: Bagaimana Luka Masa Kecil Membentuk Kesehatan, Perilaku, Dan Cara Kita Memandang Diri Sendiri

Pada pertengahan tahun 1980-an, seorang dokter bernama Vincent Felitti memimpin sebuah program penurunan berat badan di Kaiser Permanente, San Diego. Program ini sebenarnya sangat sukses. Banyak pasien yang mengalami obesitas berat berhasil menurunkan berat badan dalam jumlah yang luar biasa, bahkan ada yang kehilangan puluhan hingga ratusan kilogram. Dari sudut pandang medis, hasil ini seharusnya menjadi kabar baik. Namun di balik keberhasilan tersebut, Felitti menemukan sebuah fenomena yang membingungkan. Sejumlah pasien justru memilih keluar dari program ketika mereka sedang menunjukkan kemajuan yang sangat baik. Yang lebih mengherankan, setelah keluar mereka kembali mengalami kenaikan berat badan secara drastis.


Sebagai seorang dokter, Felitti pada awalnya memandang obesitas sebagai masalah utama yang harus diatasi. Dalam kerangka medis saat itu, berat badan berlebih dianggap sebagai penyebab berbagai gangguan kesehatan sehingga tujuan terapi adalah menghilangkannya. Namun karena penasaran terhadap fenomena pasien yang meninggalkan program ketika sedang berhasil, Felitti mulai melakukan wawancara yang lebih mendalam. Dari percakapan-percakapan tersebut, ia menemukan sesuatu yang samasekali tidak ia duga sebelumnya. Ternyata banyak pasien obesitas berat memiliki riwayat pengalaman masa kecil yang sangat menyakitkan, seperti pelecehan seksual, kekerasan fisik, pengabaian emosional, atau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh ketakutan dan tekanan.


Temuan ini menjadi semakin mencolok ketika Felitti melihat data kelompok pasien yang ditanganinya. Dalam salah satu kelompok pasien obesitas berat, sekitar 55 persen melaporkan pernah mengalami pelecehan seksual pada masa kanak-kanak. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya. Perlahan-lahan Felitti mulai menyadari bahwa mungkin selama ini ia melihat masalah dari sudut yang kurang tepat. Mungkin obesitas bukanlah akar persoalan mereka. Mungkin justru obesitas merupakan cara yang tanpa disadari dikembangkan seseorang untuk bertahan menghadapi luka psikologis yang jauh lebih dalam.


Salah satu kisah pasien memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai hal ini. Seorang perempuan yang pernah mengalami pemerkosaan menjelaskan bahwa setelah tubuhnya menjadi gemuk, ia merasa lebih aman karena tidak lagi menjadi pusat perhatian seksual. Berat badan berlebih, yang sebelumnya dianggap sebagai masalah, ternyata memiliki fungsi psikologis sebagai bentuk perlindungan. Dari sinilah Felitti mulai memahami bahwa sebagian perilaku yang tampak merugikan dari luar mungkin sebenarnya merupakan upaya seseorang untuk melindungi dirinya dari rasa sakit yang lebih besar.


Penemuan tersebut memunculkan pertanyaan yang jauh lebih luas. Jika pengalaman buruk masa kecil dapat memengaruhi berat badan seseorang puluhan tahun kemudian, mungkinkah pengalaman masa kecil juga memengaruhi berbagai aspek kesehatan lainnya? Pertanyaan inilah yang kemudian melahirkan sebuah penelitian besar yang dikenal sebagai ACE Study atau Adverse Childhood Experiences Study. Penelitian ini merupakan kerjasama antara Kaiser Permanente dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat. Lebih dari 17.000 orang dewasa berpartisipasi dalam penelitian tersebut.


Hasil penelitian ini mengejutkan dunia kesehatan. Pengalaman buruk masa kecil ternyata bukanlah peristiwa yang jarang terjadi. Lebih dari separuh responden melaporkan pernah mengalami setidaknya satu pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, sedangkan sekitar satu dari delapan responden mengalami empat pengalaman buruk atau lebih. Dengan kata lain, pengalaman traumatis masa kecil ternyata merupakan bagian dari kehidupan banyak orang dan jauh lebih umum daripada yang sebelumnya diperkirakan.


Yang lebih mengejutkan lagi adalah pola hubungan yang ditemukan para peneliti. Mereka melihat adanya hubungan yang sangat konsisten antara jumlah pengalaman buruk masa kecil dengan berbagai masalah kesehatan dan perilaku di masa dewasa. Semakin tinggi skor ACE seseorang, semakin tinggi pula risiko mengalami depresi, kecanduan, alkoholisme, percobaan bunuh diri, penyakit jantung, kanker, penyakit paru kronis, gangguan hati, hingga obesitas berat. Bahkan individu yang memiliki empat ACE atau lebih menunjukkan risiko beberapa kali lipat lebih tinggi untuk mengalami penyalahgunaan zat, depresi, dan percobaan bunuh diri dibandingkan mereka yang tidak memiliki ACE.


Dari penelitian ini, dunia kedokteran mulai memahami sebuah kenyataan yang sangat penting. Masa kecil tidak benar-benar berlalu begitu saja. Pengalaman yang terjadi puluhan tahun sebelumnya dapat terus memengaruhi cara seseorang memandang dirinya, orang lain, dan dunia di sekitarnya. Pengalaman tersebut dapat membentuk pola pikir, respons emosional, kebiasaan hidup, bahkan kondisi kesehatan fisik seseorang. Dengan kata lain, jejak masa lalu dapat tetap hadir dalam kehidupan seseorang meskipun peristiwa aslinya telah lama berakhir.


Di titik inilah pendekatan SAT (Self Awareness Transformation) mengajukan pertanyaan yang berbeda. ACE Study berhasil menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil memiliki dampak jangka panjang terhadap kehidupan manusia. Namun SAT bertanya lebih jauh: apa sebenarnya yang bertahan dari pengalaman itu sehingga pengaruhnya dapat berlangsung selama puluhan tahun? Sebab jika dilihat secara faktual, peristiwanya sudah selesai. Waktunya telah berlalu, tempatnya mungkin sudah berubah, bahkan orang-orang yang terlibat mungkin sudah tidak ada lagi. Jika demikian, mengapa penderitaan itu masih tetap hidup?


Menurut SAT, yang bertahan bukanlah peristiwanya, melainkan makna yang lahir dari peristiwa tersebut. Ketika seorang anak mengalami kekerasan, penghinaan, penolakan, atau pengabaian, ia belum memiliki kemampuan berpikir yang cukup matang untuk memahami kompleksitas situasi yang terjadi. Seorang anak tidak akan berkata bahwa orang tuanya mungkin sedang mengalami gangguan regulasi emosi atau memiliki masalah psikologis tertentu. Sebaliknya, ia cenderung menarik kesimpulan sederhana tentang dirinya sendiri. Ia mungkin berpikir bahwa dirinya tidak berharga, tidak dicintai, tidak aman, atau hanya layak diterima jika memenuhi harapan orang lain.


Dalam SAT, kesimpulan-kesimpulan mendasar tentang diri inilah yang disebut sebagai klaim eksistensial. Klaim eksistensial adalah jawaban tersembunyi yang seseorang berikan terhadap pertanyaan paling mendasar dalam hidupnya: “Siapa saya?” dan “Apa yang membuat saya layak untuk ada?” Klaim ini seringkali terbentuk pada masa kanak-kanak dan kemudian menjadi dasar bagi cara seseorang memandang dirinya sendiri selama bertahun-tahun.


SAT berangkat dari pandangan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan makanan, tempat tinggal, dan rasa aman secara fisik. Manusia juga membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar, yaitu rasa keberadaan. Setiap orang ingin merasakan bahwa dirinya benar-benar ada, bernilai, bermakna, dan layak untuk hidup. Ketika pengalaman masa kecil mengguncang rasa keberadaan tersebut, seseorang akan berusaha membangun penopang baru untuk mempertahankannya. Tanpa disadari, ia mungkin mulai percaya bahwa dirinya ada jika diterima orang lain, jika berprestasi, jika selalu menyenangkan orang lain, jika tampak kuat, jika tidak terlihat, atau jika tidak pernah melakukan kesalahan.


Menurut SAT, di sinilah akar penderitaan mulai terbentuk. Bukan karena peristiwa traumatis itu terus berlangsung, tetapi karena rasa keberadaan diri mulai digantungkan pada sesuatu yang rapuh dan bersyarat. Ketika penerimaan hilang, seseorang merasa dirinya tidak berarti. Ketika prestasi menurun, ia merasa kehilangan harga diri. Ketika gagal memenuhi harapan orang lain, ia merasa keberadaannya terancam. Dengan demikian, penderitaan muncul bukan hanya dari pengalaman masa lalu, tetapi dari ketergantungan identitas pada sesuatu yang tidak stabil.


Dari sudut pandang ini, temuan Felitti memperoleh makna yang lebih dalam. Jika Felitti menemukan bahwa banyak perilaku destruktif memiliki fungsi perlindungan, maka SAT melihat bahwa perilaku tersebut seringkali melindungi klaim eksistensial yang berada di baliknya. Obesitas mungkin melindungi rasa aman. Perfeksionisme mungkin melindungi rasa berharga. Kebiasaan selalu menyenangkan orang lain mungkin melindungi rasa diterima. Kemarahan mungkin melindungi rasa berkuasa. Kecanduan mungkin melindungi seseorang dari berhadapan langsung dengan keyakinan bahwa dirinya tidak bernilai.


Karena itu SAT tidak hanya bertanya mengapa seseorang berperilaku tertentu. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: klaim eksistensial apa yang sedang dipertahankan oleh perilaku tersebut? Dengan memahami klaim yang mendasarinya, seseorang dapat mulai melihat bahwa banyak pola perilaku yang selama ini dianggap sebagai masalah sebenarnya merupakan strategi bertahan hidup yang dibangun untuk menjaga rasa keberadaannya.


Dari sinilah SAT memandang transformasi manusia. Transformasi tidak terjadi karena seseorang berhasil menghapus masa lalunya atau melupakan semua pengalaman buruk yang pernah dialami. Transformasi terjadi ketika ia mulai menyadari bahwa keberadaannya tidak pernah benar-benar berasal dari klaim-klaim yang dibangun untuk bertahan hidup. Keberadaannya tidak bergantung pada penerimaan, prestasi, kekuasaan, kesempurnaan, maupun berbagai bentuk perlindungan psikologis lainnya.


Dalam bahasa SAT, penderitaan dimulai ketika rasa keberadaan ditempatkan pada sesuatu yang terbatas dan berubah-ubah. Sebaliknya, transformasi dimulai ketika seseorang menyadari bahwa keberadaannya tidak bergantung pada semua hal tersebut. Pada akhirnya, di balik pencarian manusia terhadap kesuksesan, keamanan, pengakuan, atau pencapaian hidup, terdapat satu kebutuhan yang lebih mendasar, yaitu kebutuhan untuk merasakan bahwa dirinya benar-benar ada. Karena itu, menurut SAT, seluruh perjalanan penyembuhan pada akhirnya adalah perjalanan untuk kembali menemukan sumber rasa keberadaan yang lebih dalam daripada seluruh klaim yang pernah dibangun sepanjang hidupnya.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...