Skip to main content

Fight, Flight, atau Presence? Memahami Akar Perilaku Manusia

Dalam beberapa dekade terakhir, ilmu saraf modern semakin menunjukkan bahwa perilaku manusia tidak muncul secara acak. Di balik setiap tindakan, otak dan sistem saraf terus-menerus melakukan proses pemantauan terhadap lingkungan, tubuh, dan hubungan sosial. Salah satu teori yang banyak digunakan untuk menjelaskan proses ini adalah Polyvagal Theory yang dikembangkan oleh Stephen Porges. 


Teori ini menjelaskan bahwa sistem saraf selalu melakukan penilaian otomatis terhadap keadaan di sekitar kita melalui suatu mekanisme yang disebut neuroception. Neuroception adalah kemampuan sistem saraf untuk mendeteksi apakah suatu situasi aman atau berpotensi mengancam, bahkan sebelum kita menyadarinya secara sadar. Dengan kata lain, sebelum kita sempat berpikir, tubuh sudah lebih dahulu menilai situasi yang sedang dihadapi.


Meskipun sering disederhanakan menjadi dua kondisi, yaitu aman atau terancam, Polyvagal Theory sebenarnya menjelaskan bahwa respons sistem saraf manusia lebih kompleks daripada itu. Ketika seseorang merasa aman, sistem saraf yang dominan adalah ventral vagal, yaitu keadaan dimana seseorang merasa tenang, mampu berpikir jernih, mudah berempati, terbuka terhadap orang lain, dan lebih kreatif dalam menghadapi berbagai situasi. Dalam kondisi ini, tubuh tidak sedang sibuk mempertahankan diri sehingga energi dapat digunakan untuk belajar, bekerjasama, dan membangun hubungan yang sehat.


Namun ketika sistem saraf mendeteksi ancaman, tubuh dapat memasuki keadaan yang berbeda. Respons pertama biasanya melibatkan aktivasi sistem saraf simpatik, yaitu mode siaga yang mempersiapkan tubuh untuk menghadapi bahaya. Pada kondisi ini muncul respons yang dikenal sebagai fight atau flight. Fight adalah kecenderungan untuk melawan sumber ancaman, sedangkan flight adalah kecenderungan untuk menjauh atau menghindarinya. 


Jika ancaman dirasakan terlalu besar dan tubuh merasa tidak mampu melawan ataupun melarikan diri, sistem saraf dapat beralih ke mode ketiga, yaitu dorsal vagal, yang ditandai dengan respons freeze, mati rasa, menyerah, atau menarik diri secara ekstrem. Oleh karena itu, ancaman tidak hanya menghasilkan satu jenis perilaku, tetapi dapat memunculkan berbagai bentuk respons tergantung bagaimana sistem saraf menilai situasi tersebut.


Dalam konteks ini, kemarahan seringkali dapat dipahami sebagai bentuk respons fight. Ketika seseorang marah, biasanya terjadi peningkatan denyut jantung, ketegangan otot, fokus perhatian yang menyempit, dan kesiapan tubuh untuk melakukan konfrontasi. Secara biologis, tubuh sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang dianggap mengancam. Karena itu, perilaku seperti membentak, menyerang secara verbal, menyalahkan, mengkritik secara agresif, atau berdebat hanya untuk menang seringkali merupakan variasi dari respons fight.


Sebaliknya, perilaku meninggalkan tempat atau menghindari situasi tertentu seringkali berkaitan dengan respons flight. Ketika seseorang keluar dari ruangan saat terjadi konflik, menghindari presentasi yang membuatnya cemas, menunda pekerjaan yang menakutkan, atau menjauh dari hubungan yang dianggap mengancam, tubuh sebenarnya sedang berusaha menciptakan jarak dari sumber ancaman. Dalam perspektif sistem saraf, menjauh dianggap sebagai cara yang lebih aman daripada menghadapi situasi tersebut secara langsung.


Namun demikian, ilmu saraf modern juga menunjukkan bahwa tidak semua kemarahan adalah fight dan tidak semua tindakan pergi atau menjauh merupakan flight. Untuk memahami perilaku manusia secara lebih akurat, kita perlu melihat bukan hanya apa yang dilakukan seseorang, tetapi juga keadaan internal yang melatarbelakangi tindakan tersebut. 


Misalnya, seseorang yang memilih keluar dari ruangan karena menyadari emosinya mulai tidak terkendali dan ingin menenangkan diri sebelum melanjutkan diskusi tidak sedang melarikan diri. Ia justru sedang melakukan regulasi diri yang sehat. Demikian pula seseorang yang berbicara tegas untuk membela keadilan tanpa kehilangan ketenangan dan kejernihan berpikir tidak selalu sedang berada dalam mode fight. Ada energi yang kuat, tetapi energi tersebut tetap berada dalam kendali kesadaran.


Di sinilah pendekatan SAT (Self Awareness Transformation) memberikan sudut pandang yang lebih mendalam. SAT tidak hanya memperhatikan bentuk perilaku yang tampak di permukaan, tetapi juga mempertanyakan sumber penggeraknya. Pertanyaan utamanya bukan sekadar “Apa yang dilakukan seseorang?”, melainkan “Siapa yang menggerakkan tindakan itu?” Menurut kerangka SAT, dua orang dapat melakukan tindakan yang sama, tetapi berasal dari kondisi batin yang sangat berbeda.


Sebagai contoh, dua orang sama-sama memilih meninggalkan sebuah ruangan saat diskusi berlangsung. Orang pertama pergi karena takut dipermalukan atau ditolak. Dalam kasus ini, yang menggerakkan perilakunya adalah apa yang dalam SAT disebut klaim eksistensial, yaitu keyakinan bahwa nilai atau keberadaannya bergantung pada penerimaan, pengakuan, atau identitas tertentu. 


Ketika klaim tersebut merasa terancam, sistem saraf memunculkan respons perlindungan diri berupa flight. Sebaliknya, orang kedua meninggalkan ruangan karena menyadari bahwa diskusi sudah tidak produktif dan ia ingin kembali setelah emosinya lebih stabil. Secara lahiriah perilakunya sama, tetapi secara batiniah tindakan itu lahir dari kesadaran yang hadir dan kemampuan mengatur diri. Karena itu, dalam kerangka SAT tindakan tersebut tidak dianggap sebagai flight.


Dengan demikian, SAT mengajukan pandangan bahwa makna suatu perilaku tidak ditentukan hanya oleh bentuk luarnya. Marah, diam, berbicara, pergi, bahkan tersenyum dapat menjadi ekspresi fight, flight, atau freeze apabila digerakkan oleh rasa ancaman terhadap klaim eksistensial. 


Namun tindakan yang sama juga dapat menjadi tindakan yang sadar, sehat, dan konstruktif apabila lahir dari kehadiran diri (presence), yaitu keadaan ketika seseorang tidak sedang mempertahankan identitas psikologis tertentu, melainkan bertindak berdasarkan kejernihan, kesadaran, dan kebebasan batin. Dalam perspektif ini, yang paling penting bukanlah perilaku yang terlihat, melainkan sumber kesadaran yang menggerakkan perilaku tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Semakin Ingin Merasa Ada, Semakin Kehilangan Diri: Paradoks Klaim Eksistensial dan Depersonalisasi

Salah satu paradoks terbesar dalam kehidupan manusia adalah bahwa setiap orang ingin merasakan dirinya benar-benar ada. Manusia tidak hanya membutuhkan makanan, tempat tinggal, atau keamanan fisik, tetapi juga membutuhkan rasa bahwa dirinya bernilai, berarti, dan memiliki tempat di dunia. Karena kebutuhan ini begitu mendasar, manusia secara alami mencari jawaban atas pertanyaan yang seringkali tidak disadari: “Apa yang membuat saya ada dan berharga?” Di sinilah banyak orang mulai membangun apa yang dalam SAT (Self Awareness Transformation) disebut sebagai klaim eksistensial, yaitu keyakinan bahwa keberadaannya bergantung pada sesuatu yang tertentu. Pada awalnya, klaim ini tampak wajar. Seseorang mungkin merasa dirinya ada karena memiliki jabatan yang tinggi, prestasi yang membanggakan, pasangan yang mencintainya, atau lingkungan yang menghormatinya. Secara psikologis, hal-hal tersebut memang dapat memberikan rasa aman dan rasa bernilai. Namun masalah mulai muncul ketika sesuatu yang di...

Seminar The Luck Factor and Abundance

SETELAH SUKSES LUAR BIASA DENGAN SEMINAR DAN NONTON BARENG "THE SECRET" MAKA KAMI DARI GULSHANI CENTER AKAN MENGADAKAN SEBUAH SEMINAR YANG MENGUPAS LEBIH DALAM TENTANG LAW OF ATTRACTION SEBUAH KERJA PIKIRAN DAN EMOSI DALAM MENDAPATKAN APAPUN YANG DIINGINKAN BERTEMPAT DI HOTEL SANTIKA JL. SULTAN HASANUDDIN NO. 40 SABTU, 4 AGUSTUS 2007 12.00 - 18.00 INVESTASI: Rp 300.000 SUDAH TERMASUK: LUNCH, COFFEE BREAK, MAKALAH ANDA JUGA AKAN MENDAPATKAN BONUS BERUPA: 1 BUAH CD MUSIK DENGAN TEKNOLOGI BINAURAL BEAT UNTUK MENINGKATKAN KREATIFITAS DAN MENYEIMBANGKAN ANTARA PIKIRAN DAN TUBUH. HARGA CD INI ADALAH Rp 400.000,- NAMUN KAMI BERIKAN SEBAGAI BONUS BAGI ANDA INFORMASI DAN PENDAFTARAN DAPAT MENGHUBUNGI 081343658826/0411-5217226 an. Agus Salman 085255975909 an. YAYUK SALAM SUKSES DAN BAHAGIA UNTUK ANDA GULSHANI CENTER