Berbagai penelitian modern menunjukkan bahwa kondisi psikologis seseorang memang memiliki hubungan dengan kesehatan fisiknya. Namun, penting untuk memahami bahwa hal ini tidak berarti setiap penyakit disebabkan oleh satu emosi tertentu. Sampai saat ini, ilmu kedokteran modern belum menemukan bukti kuat yang menunjukkan bahwa suatu penyakit tertentu pasti berasal dari satu emosi spesifik, seperti marah menyebabkan penyakit tertentu atau sedih menyebabkan penyakit tertentu. Kedua hal tersebut berbeda.
Yang ditemukan oleh penelitian selama puluhan tahun dalam bidang psikoneuroimunologi, neuroscience, dan kesehatan adalah bahwa stres berkepanjangan, emosi kronis, pengalaman hidup yang berat, serta perasaan terancam yang berlangsung lama dapat memengaruhi cara kerja tubuh secara biologis.
Hubungan antara pikiran dan tubuh terjadi melalui mekanisme yang nyata dan dapat diukur. Emosi tidak secara ajaib menciptakan penyakit, tetapi emosi dapat memengaruhi sistem saraf, sistem hormonal, sistem imun, proses peradangan (inflamasi), pola tidur, metabolisme, dan berbagai perilaku kesehatan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kondisi fisik seseorang. Dengan kata lain, pikiran dan emosi bukan penyebab langsung penyakit, tetapi dapat menjadi faktor yang meningkatkan kerentanan tubuh terhadap berbagai gangguan kesehatan.
Salah satu temuan penting dalam neuroscience modern adalah bahwa otak manusia bekerja secara prediktif. Otak tidak hanya merespons apa yang sedang terjadi saat ini, tetapi juga merespons apa yang diperkirakan akan terjadi di masa depan. Sebagai contoh, seseorang yang akan melakukan presentasi esok hari mungkin mulai merasakan jantung berdebar, sulit tidur, tubuh tegang, dan rasa cemas sejak malam sebelumnya.
Padahal secara objektif belum ada yang mengkritiknya, belum ada yang menolaknya, dan belum ada yang mempermalukannya. Tubuh bereaksi bukan terhadap fakta yang sedang terjadi, melainkan terhadap prediksi ancaman yang dibuat oleh otak. Dalam kerangka SAT (Self Awareness Transformation), prediksi mental seperti ini disebut sebagai wahm.
Pada dasarnya, munculnya wahm sesekali bukanlah masalah. Sistem tubuh manusia memiliki kemampuan alami untuk kembali tenang setelah ancaman berlalu. Namun masalah muncul ketika wahm hadir terus-menerus dan menjadi pola yang menetap. Seseorang mungkin setiap hari berpikir, "Saya akan gagal", "Saya akan ditolak", "Saya akan dipermalukan", atau "Saya tidak aman". Ketika pola prediksi semacam ini berlangsung berulang kali dalam waktu lama, sistem saraf mulai hidup dalam keadaan siaga yang berkepanjangan.
Dari sinilah muncul kecemasan kronis, ketegangan kronis, kemarahan yang terus tersimpan, kesedihan yang menetap, atau rasa bersalah yang sulit hilang. Emosi yang pada awalnya berfungsi sebagai mekanisme adaptasi berubah menjadi kondisi psikologis yang terus-menerus hadir.
Keadaan ini kemudian memengaruhi sistem biologis tubuh. Ketika otak mendeteksi ancaman, tubuh secara otomatis mengaktifkan respons stres. Sistem Saraf Simpatik meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, dan kewaspadaan. Pada saat yang sama, sumbu HPA (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis) mengaktifkan pelepasan hormon-hormon stres seperti kortisol dan adrenalin.
Dalam kondisi normal, respons ini sangat bermanfaat karena membantu manusia menghadapi bahaya. Akan tetapi, jika sistem ini aktif terus-menerus selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, berbagai gangguan regulasi mulai muncul.
Penelitian menunjukkan bahwa stres kronis dapat mengganggu pengaturan hormon stres sehingga tubuh menjadi kurang efisien dalam merespons tekanan. Sistem imun dapat berubah menjadi terlalu aktif, terlalu lemah, atau kurang terkoordinasi. Penanda inflamasi dalam tubuh dapat meningkat. Kualitas tidur menurun sehingga proses pemulihan biologis terganggu. Metabolisme tubuh juga dapat berubah, termasuk pola makan, penggunaan energi, dan aktivitas fisik. Semua perubahan ini tidak langsung menciptakan penyakit tertentu, tetapi dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai gangguan kesehatan.
Karena itu, berbagai penelitian menemukan hubungan antara stres kronis dan peningkatan risiko hipertensi, penyakit kardiovaskular, gangguan tidur, gangguan kecemasan, depresi, burnout, gangguan metabolik tertentu, serta penurunan daya tahan tubuh. Penting untuk dipahami bahwa hubungan ini bersifat kompleks dan multifaktor. Penyakit tidak muncul hanya karena emosi, tetapi emosi kronis dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keseimbangan biologis tubuh.
Dalam kerangka SAT, penjelasan ini kemudian diperluas dengan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa wahm tertentu muncul berulang-ulang? Mengapa ada orang yang terus memprediksi penolakan, sementara orang lain terus memprediksi kegagalan atau penghinaan? SAT memandang bahwa di balik pola prediksi mental yang berulang tersebut terdapat sesuatu yang lebih dalam, yaitu klaim eksistensial.
Klaim eksistensial adalah keyakinan tersembunyi tentang apa yang membuat seseorang merasa dirinya ada, berharga, atau bernilai. Misalnya seseorang memiliki keyakinan, "Saya berharga jika diterima." Ketika keyakinan ini menjadi dasar rasa keberhargaan dirinya, maka sistem psikologisnya akan sangat sensitif terhadap segala kemungkinan penolakan. Dari sini lahirlah berbagai wahm seperti, "Mereka mungkin tidak menyukai saya", "Mereka mungkin menolak saya", atau "Mereka mungkin mengkritik saya". Karena ancaman terhadap penerimaan selalu dipantau, maka kecemasan pun terus muncul.
Menurut SAT, akar persoalan bukan semata-mata terletak pada emosi atau stres, melainkan pada proses ketika sesuatu yang sebenarnya bersifat relatif dijadikan syarat bagi keberadaan atau keberhargaan diri. Penerimaan, prestasi, penghormatan, kesuksesan, atau kesempurnaan pada dasarnya adalah hal-hal yang relatif dan dapat berubah. Namun ketika seseorang menjadikannya sebagai dasar identitas dirinya, terjadi peleburan antara diri dan klaim tersebut. Secara tidak sadar terbentuk persamaan: "Saya = klaim”.
Ketika hal yang menjadi klaim itu terancam, sistem tidak lagi merasakan bahwa hanya klaim yang terancam, tetapi seolah-olah keberadaan diri ikut terancam. Dari sinilah lahir wahm yang terus-menerus, diikuti oleh emosi yang terus-menerus, lalu stres yang berkepanjangan, dan akhirnya aktivasi biologis yang berlangsung lama.
Dengan demikian, SAT tidak menyatakan bahwa klaim eksistensial secara langsung menyebabkan penyakit. SAT justru menjelaskan mengapa sebagian orang lebih mudah terjebak dalam siklus wahm, emosi kronis, dan stres berkepanjangan yang menurut penelitian modern memang dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan. Dalam perspektif ini, klaim eksistensial dapat dipahami sebagai akar psikologis yang memberi bahan bakar bagi proses stres kronis, sementara dampak biologisnya terjadi melalui mekanisme tubuh yang telah banyak diteliti oleh ilmu pengetahuan modern.

Comments
Post a Comment