Klaim eksistensial adalah jawaban tersembunyi atas pertanyaan: "Siapa saya?" Banyak orang menderita bukan karena kehilangan sesuatu, tetapi karena kehilangan jawaban itu - Syahril Syam
Quote di atas berangkat dari asumsi bahwa setiap manusia, secara sadar atau tidak, memiliki jawaban tertentu tentang siapa dirinya dan apa yang membuat dirinya berharga, berarti, atau layak ada. Dalam kerangka SAT (Self Awareness Transformation), jawaban tersembunyi itulah yang disebut klaim eksistensial. Sebagian besar orang tidak pernah secara sadar merumuskan jawaban itu dalam kata-kata, tetapi jawaban tersebut diam-diam bekerja di balik cara mereka berpikir, merasakan, dan bertindak.
Klaim eksistensial adalah keyakinan yang menjelaskan apa yang membuat seseorang merasa berharga, berarti, dan layak ada. Karena itu, ketika “banyak orang menderita bukan karena kehilangan sesuatu, tetapi karena kehilangan jawaban itu," maka yang dimaksud adalah bahwa penderitaan manusia seringkali tidak berasal dari objek yang hilang, melainkan dari runtuhnya identitas yang selama ini dilekatkan pada objek tersebut.
Setiap orang dapat memiliki klaim eksistensial yang berbeda. Ada orang yang secara tidak sadar hidup dengan keyakinan, "Saya berharga jika memiliki jabatan." Ada yang merasa, "Saya berharga jika dicintai." Sebagian lagi merasa dirinya bernilai hanya ketika berhasil, dibutuhkan, dihormati, atau dianggap pintar. Meskipun kalimat-kalimat ini jarang diucapkan secara langsung, seluruh pola kehidupan seseorang seringkali menunjukkan bahwa ia mempercayainya. Akibatnya, nilai dirinya tidak lagi bersumber dari keberadaannya sebagai manusia, tetapi bergantung pada sesuatu di luar dirinya. Semakin kuat ketergantungan itu, semakin rapuh pula rasa aman yang dimilikinya.
Hal ini menjelaskan mengapa kehilangan sesuatu terkadang terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang terlihat dari luar. Bayangkan seorang direktur yang kehilangan jabatannya. Secara objektif, yang hilang hanyalah sebuah posisi pekerjaan. Namun apabila selama bertahun-tahun ia memandang dirinya sebagai orang penting karena jabatan tersebut, maka kehilangan itu tidak hanya menghilangkan pekerjaannya, tetapi juga meruntuhkan fondasi identitas yang selama ini menopang rasa keberadaannya.
Ia tidak sekadar kehilangan kursi direktur, tetapi kehilangan jawaban yang selama ini digunakannya untuk menjelaskan siapa dirinya. Karena itu, yang muncul bukan hanya kesedihan, melainkan juga kehampaan, kehilangan arah hidup, rasa tidak berarti, kemarahan, bahkan depresi. Dari luar tampak bahwa ia menderita karena kehilangan jabatan, tetapi dari dalam ia sedang berhadapan dengan pertanyaan yang jauh lebih dalam: "Kalau saya bukan direktur, lalu saya ini siapa?"
Pola yang sama juga sering terjadi dalam hubungan. Ketika seseorang ditinggalkan oleh pasangan yang sangat dicintainya, penderitaannya seringkali lebih besar daripada sekadar kehilangan hubungan itu sendiri. Di baliknya mungkin terdapat klaim eksistensial seperti, "Saya berharga jika ada yang mencintai saya." Selama hubungan berlangsung, pasangan menjadi sumber yang terus-menerus menegaskan nilai dirinya.
Namun ketika hubungan berakhir, yang hilang bukan hanya orang yang dicintai, melainkan juga sumber yang selama ini memberikan rasa bernilai. Akibatnya muncul pertanyaan yang sangat menyakitkan: "Kalau tidak ada yang mencintai saya, apakah saya masih berharga?" Pertanyaan inilah yang seringkali membuat luka emosional terasa begitu dalam dan berkepanjangan.
Klaim eksistensial disebut sebagai "jawaban tersembunyi" karena kebanyakan orang tidak menyadari keberadaannya. Mereka hanya merasakan dampaknya ketika jawaban itu terancam. Saat sesuatu yang menjadi sandaran identitas mulai goyah, muncul berbagai emosi yang kuat seperti kecemasan, kemarahan, iri hati, kecemburuan, rasa malu, atau keputusasaan.
Dari sudut pandang SAT, emosi-emosi tersebut bukan sekadar reaksi terhadap peristiwa, tetapi juga sinyal bahwa ada klaim eksistensial yang sedang dipertahankan. Dengan kata lain, yang sedang terluka bukan hanya kepentingan praktis seseorang, tetapi juga cerita tentang siapa dirinya.
Dalam kerangka SAT, proses ini dapat dipahami sebagai sebuah rantai dinamika psikologis. Semuanya berawal dari klaim eksistensial yang melekat pada identitas seseorang. Dari klaim ini lahir wahm atau prediksi mental, misalnya, "Kalau jabatan ini hilang, saya tidak berharga," atau "Kalau orang ini meninggalkan saya, saya bukan siapa-siapa."
Prediksi tersebut kemudian memicu emosi seperti takut, marah, cemas, atau sedih. Emosi yang muncul selanjutnya memengaruhi tubuh dan perilaku, sehingga seseorang terdorong untuk mengontrol, mempertahankan, mengejar, menyerang, atau menghindari sesuatu demi melindungi identitas yang diyakininya. Semakin kuat klaim eksistensial itu, semakin besar energi psikologis yang digunakan untuk mempertahankannya.
Jika ditarik lebih dalam lagi ke dalam perspektif filsafat Mulla Sadra, akar persoalannya bukanlah karena manusia memiliki jabatan, pasangan, harta, prestasi, atau pengakuan sosial. Semua itu adalah bagian alami dari kehidupan. Masalah muncul ketika manusia mulai mengidentikkan keberadaannya dengan hal-hal tersebut. Seolah-olah ia berkata, "Aku ada karena jabatanku," "Aku ada karena hartaku," atau "Aku ada karena orang lain mencintaiku."
Dalam filsafat Sadra, keberadaan (wujud) manusia jauh lebih mendasar daripada seluruh atribut yang melekat padanya. Jabatan dapat hilang, harta dapat berkurang, kesehatan dapat menurun, dan penerimaan orang lain dapat berubah. Namun subjek yang menyadari seluruh perubahan itu tetap ada. Kesadaran yang menyaksikan kehilangan tersebut tidak ikut hilang bersama objek yang hilang.
Karena itu, penderitaan terdalam seringkali bukan berasal dari hilangnya sesuatu yang dicintai, melainkan dari keyakinan bahwa tanpa sesuatu itu diri kita tidak lagi memiliki nilai. Ketika keyakinan tersebut runtuh, seseorang dapat mengalami krisis eksistensial yang sangat berat. Namun di sisi lain, keruntuhan itu juga dapat menjadi awal dari sebuah transformasi kesadaran. Untuk pertama kalinya seseorang mulai mempertanyakan cerita lama yang selama ini ia percaya tentang dirinya.
Ia mulai menyadari bahwa mungkin selama ini yang dipertahankan bukanlah keberadaan dirinya, melainkan sebuah definisi tentang dirinya. Dari titik inilah muncul kemungkinan lahirnya pemahaman yang lebih dalam: bahwa keberadaan tidak berasal dari apa yang dimiliki, dicapai, atau dipertahankan, melainkan telah ada sebelum semua itu hadir dan tetap ada bahkan ketika semuanya pergi.
Dengan demikian, makna terdalam dari kutipan tersebut adalah bahwa banyak penderitaan manusia sebenarnya bukan disebabkan oleh kehilangan objek, melainkan oleh hilangnya jawaban yang selama ini digunakan untuk mendefinisikan diri. Ketika jabatan, hubungan, harta, prestasi, atau pengakuan menjadi jawaban atas pertanyaan "siapa saya?", maka kehilangan salah satunya dapat terasa seperti kehilangan diri sendiri.
Namun ketika seseorang mulai menyadari bahwa keberadaannya lebih luas dan lebih mendasar daripada seluruh atribut itu, ia memperoleh kebebasan baru. Ia tidak lagi hidup untuk mempertahankan sebuah cerita tentang dirinya, melainkan belajar hadir sebagai dirinya yang paling mendasar. Pada titik itu, kehilangan mungkin tetap menyakitkan, tetapi tidak lagi menghancurkan rasa keberadaannya.

Comments
Post a Comment