Skip to main content

Anda Tidak Menderita Karena Kehilangan, Tetapi Karena Menggantungkan Keberadaan Padanya

Banyak orang meyakini bahwa kedamaian akan datang ketika semua keinginannya terpenuhi. Mereka berpikir bahwa jika sudah sukses, dicintai, dihargai, sehat, aman secara finansial, atau memperoleh posisi yang diinginkan, maka hidup akan terasa tenang. Karena itu, sebagian besar energi manusia dihabiskan untuk mengejar berbagai hal di luar dirinya. Ia berusaha mendapatkan lebih banyak, mencapai lebih tinggi, dan mengendalikan lebih banyak aspek kehidupan. 


Namun kenyataannya, pengalaman menunjukkan bahwa ketenangan yang dihasilkan oleh pencapaian tersebut seringkali hanya bersifat sementara. Setelah satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan baru yang menuntut untuk dipenuhi. Setelah satu masalah selesai, muncul kekhawatiran lain yang mengambil tempatnya. Akibatnya, kedamaian yang dicari terasa selalu berada di depan dan tidak pernah benar-benar tiba.


Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: jika keinginan yang terpenuhi tidak selalu menghasilkan kedamaian yang bertahan lama, lalu apa sebenarnya sumber kegelisahan manusia? Dalam pendekatan SAT (Self Awareness Transformation), sumber utama penderitaan bukanlah keinginan itu sendiri, melainkan sesuatu yang lebih dalam yang disebut sebagai klaim eksistensial. Klaim eksistensial adalah keyakinan tersembunyi yang membuat seseorang merasa bahwa keberadaannya bergantung pada sesuatu di luar dirinya. 


Bentuknya seringkali tidak disadari, tetapi dapat terlihat melalui kalimat-kalimat seperti: "Saya berharga jika orang lain menghargai saya", "Saya aman jika semua berjalan sesuai rencana", "Saya dicintai jika tidak ditolak", atau "Saya berhasil jika selalu lebih unggul daripada orang lain". Pada titik ini, persoalannya bukan lagi tentang penghargaan, keamanan, cinta, atau prestasi. Persoalan utamanya adalah seseorang telah menggantungkan nilai keberadaannya pada sesuatu yang bersifat sementara dan berada di luar kendalinya.


Ketika keberadaan diri dititipkan kepada sesuatu di luar diri, ketenangan menjadi sangat rapuh. Selama objek penopang itu masih ada, seseorang merasa baik-baik saja. Selama ia masih dipuji, diterima, berhasil, atau mendapatkan apa yang diinginkan, ia merasa aman. Namun begitu objek tersebut terganggu, seluruh sistem psikologis ikut terguncang. Kritik kecil terasa sangat menyakitkan. Penolakan terasa seperti ancaman terhadap diri sendiri. Kegagalan terasa seolah-olah membuktikan bahwa dirinya tidak berharga. Kehilangan terasa seperti kehilangan identitas. 


Dalam kondisi seperti ini, emosi-emosi destruktif seperti kecemasan, kemarahan, iri hati, kecewa, sedih berlebihan, dan rasa takut menjadi mudah muncul. Dari sudut pandang psikologi, emosi-emosi tersebut sebenarnya dapat dipahami sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang dianggap sangat penting bagi keberadaan diri sedang terancam.


Karena itu, seringkali yang membuat seseorang menderita bukanlah peristiwa yang terjadi, melainkan makna eksistensial yang ia tempelkan pada peristiwa tersebut. Dua orang dapat mengalami kegagalan yang sama, tetapi memberikan respons yang sangat berbeda. Orang pertama mungkin merasa hancur karena kegagalan itu dianggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak berharga. Orang kedua mungkin merasa sedih dan kecewa, tetapi tetap mampu bangkit karena ia tidak menghubungkan kegagalan tersebut dengan nilai keberadaannya. Perbedaannya bukan terletak pada peristiwanya, melainkan pada klaim eksistensial yang bekerja di balik cara mereka memaknai peristiwa itu.


Pandangan ini memiliki kesesuaian dengan filsafat hikmah yang dikembangkan oleh Mulla Sadra. Dalam perspektif Mulla Sadra, yang paling mendasar pada manusia adalah eksistensinya, yaitu kenyataan bahwa ia ada. Sementara itu, berbagai atribut seperti kekayaan, jabatan, popularitas, kecantikan, kesehatan, maupun pengakuan sosial hanyalah hal-hal yang melekat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu. 


Semua itu datang dan pergi mengikuti perubahan kehidupan. Ketika seseorang menjadikan sesuatu yang berubah-ubah sebagai fondasi keberadaannya, ia sedang membangun rumah di atas tanah yang tidak stabil. Tidak mengherankan jika hidupnya dipenuhi kecemasan, karena ia selalu takut kehilangan sesuatu yang dianggap menopang dirinya.


Inilah sebabnya mengapa pemenuhan keinginan seringkali hanya menghasilkan ketenangan sementara. Ia bekerja seperti obat pereda nyeri yang meredakan gejala, tetapi tidak menyentuh akar masalah. Seseorang yang merasa dirinya berharga karena dipuji akan merasa senang ketika dipuji, tetapi akan kembali gelisah ketika pujian berhenti. Seseorang yang merasa dirinya aman karena memiliki banyak uang akan merasa tenang ketika kondisi finansialnya baik, tetapi mudah cemas ketika ekonomi memburuk. Dalam kedua kasus tersebut, ketenangan bergantung pada faktor luar yang selalu berubah. Selama sumber ketenangan berada di luar diri, maka ketenangan itu akan selalu rapuh.


Kedamaian yang lebih mendalam muncul ketika terjadi perubahan cara pandang terhadap diri sendiri. Seseorang mulai menyadari bahwa keberadaannya tidak ditentukan oleh penerimaan, penolakan, keberhasilan, maupun kegagalan. Ia tidak lagi berpikir, "Saya ada karena diterima orang lain," tetapi memahami bahwa ia tetap ada, baik diterima maupun ditolak. Ia tidak lagi berpikir, "Saya berharga karena berhasil," tetapi menyadari bahwa keberhasilannya boleh berubah, sementara nilai keberadaannya tidak bergantung pada perubahan tersebut. 


Kesadaran ini tidak membuat seseorang kehilangan motivasi untuk berkembang. Ia tetap dapat mengejar cita-cita, membangun hubungan yang baik, menjaga kesehatan, dan meraih prestasi. Namun semua itu tidak lagi menjadi syarat untuk merasa utuh sebagai manusia.


Di sinilah letak paradoks yang sering tidak disadari. Semakin seseorang menggantungkan keberadaannya pada terpenuhinya keinginan-keinginan tertentu, semakin sulit ia memperoleh kedamaian. Sebaliknya, ketika ia tidak lagi menjadikan keinginan sebagai penopang identitas dirinya, ia justru lebih bebas menikmati kehidupan. Ia dapat berusaha tanpa diperbudak oleh hasil. Ia dapat mencintai tanpa takut berlebihan terhadap kehilangan. Ia dapat bekerja keras tanpa menjadikan keberhasilannya sebagai ukuran mutlak nilai dirinya. Keinginan tetap ada, tetapi tidak lagi menguasai keberadaannya.


Dengan demikian, kedamaian bukanlah keadaan ketika dunia selalu berjalan sesuai harapan. Kedamaian bukan pula kondisi ketika semua masalah telah selesai atau semua keinginan telah terpenuhi. Kedamaian adalah keadaan batin ketika seseorang tidak lagi menggantungkan eksistensinya pada sesuatu yang dapat hilang. 


Ketika klaim eksistensial mulai runtuh, ketakutan kehilangan juga mulai kehilangan pijakannya. Dan ketika ketakutan kehilangan kehilangan pijakannya, muncullah ketenangan yang lebih stabil, karena ia tidak lagi bergantung pada keadaan luar, melainkan berakar pada kesadaran bahwa keberadaan diri tidak pernah ditentukan oleh apa yang dimiliki, dicapai, atau dipertahankan.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...