Jika kita melihat berbagai penelitian dari psikologi kerja, psikologi hubungan, dan neurosains secara bersamaan, muncul sebuah pola yang cukup konsisten. Banyak orang mengira bahwa kebosanan muncul karena pekerjaannya terlalu rutin atau karena terlalu lama bersama pasangan yang sama. Namun penelitian menunjukkan bahwa penyebab utamanya seringkali bukan terletak pada pekerjaan atau pasangannya, melainkan pada cara seseorang memandang dan menjalani hubungan dengan hal tersebut.
Secara sederhana, manusia dapat menjalani pekerjaan atau hubungan dengan dua cara. Cara pertama adalah berfokus pada apa yang bisa diperoleh: gaji, kenyamanan, kesenangan, pujian, perhatian, atau kepuasan. Cara kedua adalah berfokus pada makna yang terkandung di dalamnya: kontribusi, pertumbuhan diri, tanggung jawab, dan hubungan yang lebih mendalam. Perbedaan orientasi ini ternyata sangat memengaruhi apakah seseorang akan bertahan dengan rasa puas atau justru mudah merasa bosan.
Dalam dunia kerja, para peneliti menemukan bahwa kebosanan tidak semata-mata muncul karena pekerjaan yang berulang. Banyak orang melakukan pekerjaan yang sama setiap hari tetapi tetap bersemangat selama bertahun-tahun. Sebaliknya, ada pula yang cepat kehilangan minat meskipun pekerjaannya relatif menarik. Faktor yang paling menentukan ternyata adalah apakah seseorang masih merasakan makna dalam pekerjaannya, apakah kebutuhan psikologisnya terpenuhi, dan apakah ia masih memiliki motivasi yang berasal dari dalam dirinya sendiri.
Ada dua orang guru yang mengajar mata pelajaran yang sama. Guru pertama melihat pekerjaannya sebagai sarana membantu murid berkembang dan membangun masa depan mereka. Guru kedua melihat pekerjaannya hanya sebagai cara mendapatkan gaji bulanan. Pada awalnya mungkin keduanya sama-sama bekerja dengan baik. Namun setelah bertahun-tahun, guru kedua biasanya lebih rentan merasa jenuh. Bukan karena pekerjaannya lebih berat, tetapi karena sumber kepuasannya hanya berasal dari imbalan eksternal yang lama-kelamaan terasa biasa saja.
Hal ini berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia. Sistem saraf kita memiliki mekanisme yang disebut adaptasi. Ketika pertama kali mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, seperti pekerjaan baru, kenaikan gaji, promosi jabatan, atau penghargaan, otak melepaskan zat kimia seperti dopamin yang menimbulkan rasa senang dan bersemangat. Namun seiring waktu, otak akan menyesuaikan diri. Apa yang dulu terasa luar biasa perlahan menjadi normal. Inilah yang dalam psikologi disebut sebagai hedonic adaptation atau adaptasi terhadap kesenangan.
Karena itulah banyak orang mengalami pengalaman yang sama. Ketika pertama kali diterima bekerja, mereka sangat antusias. Ketika mendapatkan promosi, mereka merasa sangat bahagia. Namun beberapa bulan atau tahun kemudian, perasaan itu memudar. Jika satu-satunya alasan mereka bekerja adalah untuk mengejar sensasi tersebut, maka kebosanan hampir pasti akan muncul. Akibatnya, mereka mulai berpikir bahwa masalahnya ada pada pekerjaan, perusahaan, atau lingkungan kerja. Padahal yang sering terjadi adalah otak mereka telah beradaptasi terhadap sumber kesenangan yang sama.
Fenomena serupa juga ditemukan dalam hubungan romantis dan pernikahan. Pada masa awal jatuh cinta, sistem penghargaan di otak bekerja sangat aktif. Pasangan terasa sangat menarik, selalu dirindukan, dan seolah tidak pernah membosankan. Banyak orang kemudian mengira bahwa perasaan tersebut akan bertahan selamanya. Padahal secara biologis, otak memang tidak dirancang untuk mempertahankan intensitas emosi setinggi itu dalam jangka panjang.
Setelah beberapa tahun bersama, hubungan biasanya memasuki fase yang lebih stabil. Intensitas gairah dan sensasi kebaruan menurun karena pasangan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di sinilah banyak orang mulai salah menafsirkan apa yang sedang terjadi. Mereka merasa ada sesuatu yang hilang dari hubungan tersebut. Mereka berkata, “Dulu lebih menyenangkan,” “Dulu lebih romantis,” atau “Dulu lebih membuat saya bersemangat.”
Padahal yang seringkali hilang bukanlah cinta itu sendiri. Yang hilang adalah sensasi kebaruan yang dulu memicu lonjakan dopamin. Otak telah terbiasa dengan kehadiran pasangan, sebagaimana otak terbiasa dengan rumah yang ditempati setiap hari atau pekerjaan yang dilakukan bertahun-tahun. Jika seseorang mengukur kualitas hubungan hanya berdasarkan tingkat sensasi yang dirasakan, maka ia akan menganggap hubungan itu mengalami penurunan, padahal yang berubah hanyalah respons biologis terhadap sesuatu yang sudah akrab.
Penelitian tentang hubungan jangka panjang menunjukkan bahwa kepuasan pernikahan tidak terutama ditentukan oleh seberapa sering pasangan menghadirkan sensasi baru, melainkan oleh apakah hubungan tersebut masih dirasakan bermakna. Ketika seseorang tetap melihat pasangannya sebagai pribadi yang berharga, sebagai teman bertumbuh, sebagai mitra perjuangan hidup, dan sebagai seseorang yang layak dicintai terlepas dari manfaat yang diberikan, kepuasan hubungan cenderung lebih stabil.
Sebaliknya, masalah mulai muncul ketika pasangan secara tidak sadar dipandang terutama sebagai sumber pemenuhan kebutuhan pribadi. Misalnya sebagai sumber hiburan, sumber validasi diri, sumber kenyamanan emosional, sumber status sosial, atau sumber kepuasan seksual. Ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak lagi memberikan sensasi sekuat dahulu, seseorang dapat merasa hubungannya membosankan. Ia kemudian menyimpulkan bahwa pasangannya telah berubah atau tidak lagi menarik. Padahal yang berubah seringkali adalah ekspektasi dan cara pandangnya terhadap hubungan tersebut.
Penelitian juga menunjukkan bahwa orientasi materialistik berkaitan dengan kepuasan pernikahan yang lebih rendah. Semakin seseorang mendefinisikan kebahagiaan melalui apa yang bisa ia peroleh - baik berupa uang, status, keuntungan, maupun kepuasan pribadi - semakin rentan ia mengalami ketidakpuasan dalam hubungan. Alasannya sederhana. Pola pikir materialistik selalu bertanya, “Apa yang saya dapatkan dari hubungan ini?” Sedangkan cinta yang lebih matang bertanya, “Siapa orang yang saya cintai ini, dan bagaimana saya dapat bertumbuh bersamanya?”
Jika disederhanakan, ada dua orientasi besar dalam menjalani hidup. Orientasi pertama adalah orientasi hedonik, yaitu berpusat pada kesenangan, sensasi, keuntungan, dan penghargaan. Orang dengan orientasi ini biasanya mudah bersemangat ketika menemukan sesuatu yang baru, tetapi juga lebih mudah kehilangan minat ketika kebaruan itu menghilang. Mereka cenderung terus mencari pengalaman baru untuk mempertahankan rasa antusias yang sama.
Orientasi kedua adalah orientasi eudaimonik, yaitu berpusat pada makna, pertumbuhan, kontribusi, dan hubungan yang mendalam. Pada orientasi ini, seseorang mungkin tidak selalu merasakan ledakan antusiasme yang tinggi setiap hari. Namun kepuasannya cenderung lebih stabil. Ia tidak bergantung sepenuhnya pada sensasi sesaat, melainkan pada nilai yang ia temukan dalam apa yang dijalaninya.
Karena itu, penelitian modern menunjukkan bahwa manusia dapat mencintai pekerjaan dan pasangannya dengan dua cara yang sangat berbeda. Ia dapat mencintainya karena manfaat yang diterima, atau mencintainya karena nilai keberadaannya. Ketika cinta didasarkan terutama pada manfaat, maka kepuasan akan naik turun mengikuti perubahan sensasi dan keuntungan yang diperoleh. Namun ketika cinta didasarkan pada makna, penghargaan terhadap keberadaan, komitmen, dan pertumbuhan bersama, hubungan tersebut menjadi lebih tahan terhadap proses adaptasi alami yang terjadi dalam otak.
Pada akhirnya, kebosanan seringkali bukan sekadar masalah rutinitas. Kebosanan muncul ketika perhatian kita hanya tertuju pada apa yang bisa kita nikmati dan kita peroleh. Sebab semua bentuk kesenangan pada akhirnya akan mengalami adaptasi. Sebaliknya, ketika perhatian beralih pada makna, kontribusi, tanggung jawab, amanah, dan pertumbuhan diri, maka pekerjaan yang sama maupun pasangan yang sama dapat terus menghadirkan kedalaman yang baru. Rutinitas tidak lagi dipandang sebagai pengulangan yang membosankan, melainkan sebagai ruang untuk memperdalam cinta, memperluas kontribusi, dan mematangkan diri sebagai manusia.

Comments
Post a Comment