Mengapa Ada Anak Yang Tumbuh Menjadi Penurut, Dan Ada Yang Menjadi Keras? Ternyata Akar Lukanya Bisa Sama
Ketika membahas pengaruh masa kecil terhadap kepribadian seseorang, banyak orang beranggapan bahwa anak yang sering dimarahi, dipukul, ditekan, atau dipermalukan pasti akan tumbuh menjadi pribadi yang lemah, penakut, dan tidak berani membela diri. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Dalam psikologi modern dan ilmu tentang sistem saraf, pengalaman masa kecil yang sama dapat menghasilkan pola kepribadian yang sangat berbeda. Hal ini terjadi karena setiap anak memiliki cara adaptasi yang berbeda untuk bertahan hidup di lingkungan yang ia rasakan sebagai ancaman.
Sejak kecil, otak dan sistem saraf anak selalu belajar menjawab satu pertanyaan mendasar: "Apa yang harus saya lakukan agar tetap aman?" Ketika seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh tekanan, bentakan, hukuman, atau kekerasan, sistem sarafnya akan mencari strategi terbaik untuk mengurangi rasa takut dan menjaga keselamatannya. Strategi inilah yang kemudian membentuk pola perilaku yang terbawa hingga dewasa.
Sebagian anak belajar bahwa cara paling aman adalah menyenangkan orang lain. Mereka melihat bahwa ketika mereka menurut, tidak membantah, dan memenuhi harapan orang lain, kemarahan atau hukuman dapat berkurang. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang sangat patuh, sulit berkata "tidak", takut konflik, dan cenderung mengalah meskipun kebutuhan dirinya sendiri terabaikan. Dalam psikologi, pola ini sering disebut sebagai respons fawn, yaitu kecenderungan mencari keamanan dengan cara menyenangkan dan memenuhi keinginan orang lain.
Namun tidak semua anak mengambil jalan yang sama. Ada anak yang justru belajar bahwa satu-satunya cara agar tidak disakiti adalah menjadi kuat. Ia mulai meyakini bahwa kelembutan identik dengan kelemahan, sedangkan kekuatan identik dengan keselamatan. Ketika dewasa, ia mungkin tampak tegas, dominan, keras, mudah menolak, dan tidak segan menunjukkan kemarahan. Dari luar ia terlihat percaya diri dan berani. Akan tetapi, pada banyak kasus, sikap tersebut bukan selalu lahir dari rasa aman yang sehat, melainkan dari strategi bertahan hidup yang dibangun sejak kecil. Pola ini dikenal sebagai respons fight, yaitu menghadapi ancaman dengan perlawanan dan penguasaan.
Ada pula anak yang merasa tidak memiliki kekuatan untuk melawan maupun menyenangkan orang lain. Ketika tekanan terasa terlalu besar, sistem sarafnya memilih "membeku". Anak seperti ini sering tumbuh menjadi pribadi yang pasif, ragu-ragu, sulit mengambil keputusan, dan cenderung menarik diri dari situasi yang menekan. Dalam psikologi, pola ini disebut respons freeze.
Sebagian anak lagi memilih jalan yang berbeda. Mereka belajar bahwa keamanan hanya dapat diperoleh dengan terus bergerak, terus berprestasi, dan tidak pernah berhenti. Ketika dewasa, mereka sering menjadi pekerja keras, perfeksionis, selalu sibuk, dan sulit beristirahat. Mereka merasa harus selalu produktif agar merasa berharga dan aman. Pola ini dikenal sebagai respons flight, yaitu melarikan diri dari ancaman melalui aktivitas dan pencapaian yang terus-menerus.
Karena itu, pengalaman masa kecil yang tampaknya sama tidak selalu menghasilkan kepribadian yang sama. Dua orang yang sama-sama dibesarkan dalam lingkungan keras dapat tumbuh menjadi sosok yang sangat berbeda. Yang satu menjadi sangat penurut dan sulit menolak. Yang lain menjadi sangat tegas bahkan cenderung dominan. Perbedaannya bukan pada tingkat luka yang dialami, melainkan pada strategi adaptasi yang dipilih sistem saraf mereka untuk bertahan hidup.
Salah satu fenomena yang sering membuat orang bingung adalah ketika seorang anak yang dahulu menjadi korban kekerasan justru tumbuh menjadi pribadi yang mirip dengan orang tuanya yang keras. Dalam psikologi perkembangan terdapat konsep yang dikenal sebagai identification with the aggressor atau "identifikasi dengan pelaku". Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh psikolog SĂĄndor Ferenczi dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Anna Freud.
Secara sederhana, ketika seorang anak menghadapi sosok yang kuat dan mengancam tetapi tidak memiliki kemampuan untuk melawan, terkadang ia secara tidak sadar mulai meniru karakteristik orang yang mengancam tersebut. Pada tingkat bawah sadar muncul logika seperti, "Lebih aman menjadi orang yang memukul daripada menjadi orang yang dipukul," atau "Lebih aman menjadi orang yang mengendalikan daripada menjadi orang yang dikendalikan." Akibatnya, sebagian anak tumbuh dengan sifat yang menyerupai pelaku yang dulu menyakitinya, bukan karena mereka menyukai kekerasan itu, melainkan karena sistem saraf mereka menganggap cara tersebut sebagai jalan menuju keamanan.
Bayangkan seorang anak yang bertahun-tahun mengalami bentakan, penghinaan, atau pukulan. Ia berada dalam situasi yang hampir tidak memiliki pilihan. Jika ia terus merasa sebagai korban yang tidak berdaya, rasa sakit psikologis yang dialami bisa sangat berat. Karena itu, secara tidak sadar sebagian anak mulai mengadopsi sifat-sifat pelaku seperti keras, dominan, mengontrol, atau mengintimidasi. Sikap tersebut menciptakan perasaan kuat dan memberi ilusi bahwa dirinya tidak akan mudah disakiti lagi.
Di sinilah muncul kesalahpahaman yang cukup umum. Banyak orang menganggap bahwa kemampuan berkata "tidak" adalah tanda kesehatan psikologis. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam psikologi, ada perbedaan besar antara berkata "tidak" karena memiliki batas diri yang sehat dan berkata "tidak" sebagai bentuk pertahanan diri terhadap ancaman.
Seseorang yang memiliki batas diri yang sehat dapat berkata, "Maaf, saya tidak bisa membantu saat ini," dengan tenang, tanpa kemarahan, tanpa rasa bersalah berlebihan, dan tanpa keinginan merendahkan orang lain. Penolakannya muncul dari kesadaran akan kebutuhan dan kapasitas dirinya sendiri.
Sebaliknya, ada orang yang berkata "tidak" dengan nada defensif, agresif, atau penuh kontrol. Dari luar sama-sama terdengar sebagai penolakan, tetapi tujuan psikologisnya berbeda. Penolakan tersebut bukan terutama untuk menjaga batas diri yang sehat, melainkan untuk melindungi diri dari kemungkinan terluka, ditolak, atau kehilangan kendali. Dengan kata lain, "tidak" yang diucapkan masih merupakan bagian dari strategi bertahan hidup.
Karena itu, orang yang tampak keras, galak, dominan, dan tidak takut menolak belum tentu merasa aman di dalam dirinya. Dalam praktik psikologi trauma, cukup banyak individu yang terlihat sangat kuat di permukaan, tetapi sistem sarafnya sebenarnya masih sangat sensitif terhadap ancaman. Mereka hanya menggunakan strategi yang berbeda. Jika dahulu saat kecil mereka tidak berdaya menghadapi ancaman, maka ketika dewasa mereka memilih untuk menguasai situasi agar tidak kembali merasakan ketidakberdayaan tersebut. Dulu pesan batinnya mungkin berbunyi, "Tolong jangan sakiti saya." Kini pesan yang muncul berubah menjadi, "Jangan berani menyakiti saya."
Dari sudut pandang ilmu saraf, keduanya masih bisa sama-sama beroperasi dalam keadaan waspada terhadap ancaman (threat state). Bedanya hanya pada bentuk respons yang muncul. Yang satu berusaha aman dengan menyenangkan orang lain. Yang lain berusaha aman dengan menunjukkan kekuatan dan dominasi. Walaupun perilakunya tampak berlawanan, keduanya dapat berasal dari akar psikologis yang sama, yaitu kebutuhan mendasar untuk merasa aman.
Biasanya, orang yang masih membawa pola ancaman masa kecil menunjukkan beberapa ciri khas. Mereka mudah tersinggung ketika dikritik, sulit mengakui kesalahan, merasa harus selalu benar, sulit menunjukkan kelemahan, sulit mempercayai orang lain, dan cenderung mengontrol hubungan. Semua itu seringkali berakar pada keyakinan bawah sadar bahwa jika mereka tidak kuat, mereka akan kembali terluka seperti dahulu.
Sebaliknya, seseorang yang telah mengalami pertumbuhan psikologis yang lebih matang umumnya mampu berkata "tidak" tanpa agresi, menerima kritik tanpa merasa hancur, bersikap tegas tanpa merendahkan orang lain, serta memiliki batas diri yang jelas tanpa kehilangan empati dan kepedulian. Ia tidak lagi membutuhkan dominasi untuk merasa aman karena rasa aman tersebut sudah mulai terbentuk dari dalam dirinya sendiri.
Dengan demikian, ketika seorang anak yang dahulu sering dimarahi, dipukul, atau ditekan tumbuh menjadi pribadi yang keras, dominan, dan mampu berkata "tidak", hal itu tidak otomatis berarti ia telah sepenuhnya keluar dari pola ancaman masa kecilnya. Bisa jadi yang terjadi adalah perubahan strategi. Dahulu ia berada pada posisi orang yang terancam, sedangkan sekarang ia berusaha berada pada posisi yang mengendalikan ancaman.
Secara lahiriah ia tampak kuat, tetapi secara psikologis ia masih digerakkan oleh kebutuhan yang sama seperti dahulu, yaitu mencari rasa aman. Perbedaannya hanya terletak pada cara yang digunakan. Ada yang mencari keamanan dengan menyenangkan orang lain, dan ada yang mencari keamanan dengan menjadi kuat serta menguasai keadaan. Keduanya dapat tumbuh dari akar pengalaman masa kecil yang serupa.

Comments
Post a Comment