"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." (QS. Al-Hasyr [59]: 19). Ayat ini berbicara tentang sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia, yaitu hubungan antara Tuhan, kesadaran diri, dan jati diri manusia. Sekilas ayat ini tampak sederhana, tetapi para ulama tafsir menjelaskan bahwa di dalamnya terkandung penjelasan mendalam tentang mengapa sebagian orang dapat kehilangan arah hidup meskipun memiliki banyak harta, jabatan, atau kesuksesan.
Dalam pandangan para mufasir, manusia tidak dapat memahami dirinya secara utuh jika ia terputus dari Allah. Hal ini karena Allah bukan sekadar Tuhan yang disembah, melainkan sumber keberadaan manusia itu sendiri. Seluruh eksistensi manusia bergantung kepada-Nya setiap saat. Oleh karena itu, mengenal Allah dan mengenal diri bukanlah dua perjalanan yang terpisah. Semakin seseorang memahami hubungannya dengan Allah, semakin ia memahami siapa dirinya sebenarnya. Sebaliknya, ketika hubungan itu melemah, manusia mulai kehilangan kemampuan melihat dirinya secara benar.
Ketika manusia melupakan Allah, yang terjadi bukan hanya berkurangnya aktivitas ibadah. Dampaknya jauh lebih dalam. Ia mulai salah mendefinisikan dirinya. Ia mengira bahwa dirinya adalah hartanya, sehingga ketika kehilangan harta ia merasa kehilangan dirinya. Ia mengira dirinya adalah jabatannya, sehingga ketika pensiun ia merasa tidak berharga. Ia mengira dirinya adalah popularitasnya, sehingga ketika tidak lagi dipuji ia merasa kosong. Bahkan ada yang mengira dirinya hanyalah tubuh fisiknya, sehingga seluruh hidupnya hanya berputar pada penampilan dan kenikmatan jasmani. Padahal semua itu hanyalah atribut yang melekat sementara, bukan hakikat dirinya yang sesungguhnya.
Keadaan ini oleh sebagian ulama disebut sebagai ghurbah an-nafs, yaitu keterasingan dari diri sendiri. Seseorang hidup bersama dirinya setiap hari, tetapi tidak benar-benar mengenal siapa dirinya. Ia mengetahui nama, pekerjaan, status sosial, dan berbagai identitas luar lainnya, tetapi tidak memahami tujuan keberadaannya, nilai terdalam hidupnya, dan arah yang seharusnya ia tempuh. Ia menjadi asing terhadap dirinya sendiri secara eksistensial.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Para ulama sering memberikan analogi yang sederhana. Cahaya tidak dapat dipahami tanpa matahari sebagai sumbernya. Jika cahaya bisa berbicara lalu melupakan matahari, ia tidak akan memahami dari mana asal keberadaannya. Demikian pula manusia. Ketika manusia melupakan Allah sebagai sumber keberadaannya, ia kehilangan titik acuan untuk memahami siapa dirinya. Ia masih hidup, berpikir, bekerja, dan beraktivitas, tetapi fondasi identitasnya menjadi rapuh karena terputus dari sumber yang memberinya makna.
Menariknya, meskipun neurosains modern tidak berbicara tentang Allah dalam pengertian teologis, banyak temuannya menunjukkan arah yang sejalan dengan makna ayat ini. Para peneliti menemukan bahwa manusia membutuhkan tiga hal penting agar jiwanya tetap terintegrasi dengan baik, yaitu makna hidup (meaning), identitas diri (self-concept), dan tujuan hidup (purpose). Ketika ketiga hal ini melemah, seseorang lebih rentan mengalami kekosongan batin, kebingungan identitas, kecemasan, depresi, dan berbagai perilaku kompulsif yang dilakukan hanya untuk mengisi kehampaan yang dirasakannya.
Penelitian psikolog Michael F. Steger menunjukkan bahwa orang yang memiliki makna hidup yang kuat cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Demikian pula penelitian Eric S. Kim menemukan bahwa rasa memiliki tujuan hidup berhubungan dengan kesehatan mental dan fisik yang lebih baik. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa manusia memang membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kesenangan sesaat. Manusia membutuhkan arah yang memberi makna bagi keberadaannya.
Dari sudut pandang ilmu saraf, otak manusia secara terus-menerus berusaha menjawab pertanyaan mendasar: “Siapa saya?”, “Mengapa saya hidup?”, dan “Apa yang paling penting dalam hidup saya?” Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan membentuk identitas seseorang. Jika jawabannya tidak jelas atau selalu berubah-ubah, maka sistem psikologis menjadi tidak stabil. Hari ini seseorang merasa berharga karena uang, besok karena pujian, lusa karena jabatan, dan minggu berikutnya karena jumlah pengikut di media sosial. Identitasnya terus berpindah dari satu objek ke objek lain. Akibatnya, ia mudah goyah setiap kali kehilangan salah satu sumber identitas tersebut.
Psikologi modern menyebut keadaan seperti ini sebagai identity diffusion, yaitu kondisi ketika identitas seseorang tercerai-berai dan tidak memiliki pusat yang kokoh. Dari luar ia mungkin tampak berhasil, terkenal, atau kaya. Namun di dalam dirinya ada pertanyaan yang tidak pernah benar-benar terjawab: “Siapa saya sebenarnya?” Fenomena inilah yang sangat dekat dengan makna Al-Qur'an ketika menyebut bahwa mereka “lupa kepada diri mereka sendiri”.
Dalam kerangka SAT (Self Awareness Transformation), ayat ini menggambarkan sebuah rantai sebab-akibat yang sangat jelas. Ketika Allah dilupakan, kesadaran manusia terputus dari sumber keberadaannya. Ketika hubungan dengan sumber melemah, ego perlahan mengambil alih posisi pusat identitas. Setelah ego menjadi pusat, pikiran reaktif semakin mendominasi kehidupan. Keinginan, ketakutan, ambisi, dan dorongan emosional menjadi pengarah utama hidup. Akibatnya, diri sejati tertutupi oleh berbagai lapisan identifikasi yang salah. Pada titik inilah manusia mengalami keadaan yang disebut “lupa diri”.
Sebaliknya, ketika seseorang mengingat Allah secara mendalam, kesadarannya kembali terhubung dengan sumber keberadaannya. Ego tidak lagi menjadi pusat kehidupan. Muncul kesadaran diri yang lebih jernih. Ia mulai mampu mengamati pikiran, emosi, dan keinginannya tanpa diperbudak oleh semuanya itu. Jiwa yang lebih dalam menjadi pengarah hidupnya. Dari sana lahir tindakan yang lebih sadar, lebih tenang, dan lebih selaras dengan tujuan hidup yang sesungguhnya. Proses inilah yang membawa manusia kepada pengenalan diri yang lebih autentik.
Karena itu, ayat ini sebenarnya tidak hanya berbicara tentang ancaman moral. Ayat ini menjelaskan sebuah hukum eksistensial tentang cara kerja kehidupan manusia. Sebagaimana seseorang yang menutup matanya dari cahaya matahari akan kehilangan kemampuan melihat, demikian pula seseorang yang memutus kesadarannya dari Allah akan kehilangan kemampuan mengenali dirinya sendiri. Ia mungkin tetap hidup secara biologis, tetapi kehilangan arah secara eksistensial.
Pesan besar ayat ini sangat sederhana sekaligus sangat mendalam. Semakin jauh manusia dari Allah, semakin besar kemungkinan ia menjadi asing terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya, semakin dekat manusia kepada Allah, semakin jelas ia memahami siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia harus melangkah. Dalam perspektif ini, mengingat Allah bukan hanya ibadah, melainkan juga jalan untuk menemukan identitas terdalam dan makna paling hakiki dari keberadaan manusia.

Comments
Post a Comment