Salah satu akar krisis terbesar manusia bukanlah karena ia tidak memiliki jati diri, melainkan karena ia salah mengenali siapa dirinya sebenarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering mengidentikkan dirinya dengan apa yang sedang ia rasakan, pikirkan, atau miliki. Ketika marah, ia berkata, "Saya marah," lalu secara tidak sadar merasa bahwa dirinya adalah kemarahan itu. Ketika takut, ia merasa dirinya adalah ketakutan tersebut. Ketika sedih, ia menganggap dirinya adalah kesedihan itu.
Bahkan ketika memiliki jabatan, harta, atau status sosial, ia mulai mendefinisikan dirinya berdasarkan semua hal tersebut. Akibatnya, ketika jabatan hilang, uang berkurang, atau emosi berubah, ia merasa kehilangan dirinya. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah ia sedang mencampuradukkan antara "diri" dan "apa yang dimiliki atau dialami oleh diri”.
Untuk memahami hal ini, bayangkan seseorang memiliki sebuah mobil. Ia akan berkata, "Itu mobil saya." Kalimat tersebut menunjukkan bahwa mobil dan dirinya adalah dua hal yang berbeda. Mobil adalah sesuatu yang dimiliki, bukan pemiliknya. Dengan cara yang sama, dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering mengatakan, "pikiran saya," "perasaan saya," "tubuh saya," "ingatan saya," atau "keinginan saya."
Secara tidak sadar, bahasa yang kita gunakan sebenarnya menunjukkan bahwa semua itu adalah milik kita, bukan diri kita sendiri. Jika pikiran adalah milik saya, maka saya bukanlah pikiran. Jika tubuh adalah milik saya, maka saya bukanlah tubuh. Jika emosi adalah milik saya, maka saya bukanlah emosi. Lalu pertanyaan yang sangat mendasar muncul: siapakah "saya" yang memiliki semua itu?
Pertanyaan inilah yang sejak lama menjadi salah satu pembahasan utama dalam filsafat Islam. Para filsuf Muslim menjelaskan bahwa di balik pikiran, perasaan, tubuh, dan seluruh pengalaman manusia, terdapat suatu subjek yang lebih dalam, yaitu pusat kesadaran yang mengetahui semua pengalaman tersebut.
Ketika seseorang berkata, "Saya mengetahui bahwa saya sedang sedih," berarti ada sesuatu dalam dirinya yang mampu menyaksikan kesedihan itu. Ketika ia berkata, "Saya menyadari bahwa pikiran saya sedang kacau," berarti ada sesuatu yang mampu melihat kekacauan pikiran tersebut. Subjek yang mengetahui dan menyadari inilah yang dalam filsafat Islam disebut nafs insaniyyah atau jiwa manusia.
Jiwa tidak bekerja sendirian. Ia menggunakan berbagai alat untuk berinteraksi dengan dunia. Seorang tukang kayu, misalnya, menggunakan palu, gergaji, dan obeng untuk bekerja. Namun tidak seorang pun akan mengatakan bahwa tukang kayu adalah palu atau gergaji. Alat hanyalah sarana yang digunakan oleh tukang.
Demikian pula jiwa manusia. Ia menggunakan alat-alat fisik seperti mata, telinga, lidah, tangan, dan seluruh tubuh. Ia juga menggunakan alat-alat psikis seperti imajinasi, memori, emosi, keinginan, dan amarah. Selain itu, ia memiliki alat-alat intelektual seperti akal, penalaran, dan kemampuan refleksi. Semua itu penting, tetapi jiwa tidak identik dengan alat-alat tersebut. Jiwa adalah pengguna alat, bukan alat itu sendiri.
Masalahnya, manusia sering terjebak karena kesadarannya turun dan melebur ke dalam alat-alat yang digunakannya. Ketika kemarahan muncul, ia tidak lagi melihat kemarahan sebagai pengalaman yang sedang terjadi dalam dirinya. Ia menyatu dengan kemarahan itu dan berkata, "Saya marah." Ketika rasa takut muncul, ia tidak lagi melihat rasa takut sebagai sesuatu yang sedang lewat, melainkan sebagai identitas dirinya.
Secara bahasa perbedaannya tampak kecil, tetapi secara psikologis dan filosofis sangat besar. Kalimat "Saya marah" membuat seseorang menyatu dengan kemarahannya. Sedangkan kalimat "Ada kemarahan yang sedang muncul dalam diri saya" menciptakan jarak kesadaran antara dirinya dan emosi tersebut. Jarak inilah yang menjadi awal kebebasan batin.
Dalam kerangka Self Awareness Transformation (SAT), manusia diajak untuk menyadari bahwa ada pikiran, ada emosi, ada ketakutan, ada dorongan, dan ada keinginan. Namun di balik semua itu ada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu kesadaran yang mampu mengamati semuanya. Ketika seseorang berkata, "Saya melihat pikiran saya," maka sebenarnya terdapat dua hal yang berbeda. Pertama adalah pikiran yang diamati. Kedua adalah pengamat yang mengamati. Pikiran tidak mungkin secara penuh menjadi pengamat dirinya sendiri. Harus ada subjek yang lebih dalam yang mampu menyaksikan pikiran tersebut. Kesadaran akan keberadaan "pengamat" inilah yang menjadi langkah penting dalam proses transformasi diri.
Namun di sinilah biasanya psikologi modern berhenti. Banyak pendekatan psikologi mengajarkan agar seseorang menjadi pengamat pikiran, menyaksikan emosi, dan tidak larut dalam isi pikirannya. Ini merupakan langkah yang sangat berharga. Akan tetapi, filsafat Islam dan tradisi irfan melangkah lebih jauh dengan mengajukan pertanyaan berikutnya: siapakah sebenarnya pengamat itu? Jika ada kesadaran yang mengamati pikiran, apa hakikat kesadaran tersebut? Dari mana ia berasal? Mengapa ia mampu mengetahui?
Pertanyaan ini membawa kita pada pembahasan yang lebih mendalam tentang hakikat jiwa. Mata dapat melihat karena ada cahaya. Telinga dapat mendengar karena ada gelombang suara. Lalu mengapa jiwa mampu mengetahui? Apa sumber kemampuan mengetahui itu? Di sinilah pemikiran Mulla Sadra menjadi sangat penting. Menurut beliau, keberadaan (wujud) dan kesadaran tidak dapat dipisahkan. Semakin tinggi tingkat keberadaan sesuatu, semakin tinggi pula tingkat kesadarannya.
Batu memiliki keberadaan, tetapi hampir tidak memiliki kesadaran. Tumbuhan memiliki tingkat kesadaran yang sangat sederhana. Hewan memiliki kesadaran yang lebih tinggi. Manusia memiliki tingkat kesadaran yang jauh lebih kompleks karena jiwa manusia memiliki dimensi non-material (immaterial). Oleh sebab itu, kemampuan mengetahui bukanlah sesuatu yang ditempelkan dari luar, melainkan merupakan salah satu manifestasi dari keberadaan jiwa itu sendiri.
Akan tetapi, pembahasan tidak berhenti di sana. Jika jiwa mampu mengetahui karena memiliki keberadaan, maka muncul pertanyaan yang lebih mendasar lagi: dari mana keberadaan jiwa itu berasal? Apakah jiwa menciptakan dirinya sendiri? Dalam filsafat Islam, jawabannya tidak. Sesuatu tidak dapat memberikan keberadaan kepada dirinya sendiri sebelum ia ada. Karena itu, keberadaan jiwa harus bersumber dari sesuatu yang lebih fundamental daripada jiwa itu sendiri. Pada titik inilah pencarian tentang diri berujung pada pencarian tentang sumber segala keberadaan.
Menurut filsafat Islam, sumber seluruh keberadaan itu adalah Allah. Tubuh memperoleh keberadaannya dari-Nya. Pikiran memperoleh keberadaannya dari-Nya. Emosi memperoleh keberadaannya dari-Nya. Bahkan jiwa dan kesadaran yang membuat manusia mampu mengetahui juga memperoleh keberadaannya dari-Nya. Dengan demikian, perjalanan mengenal diri yang dilakukan secara mendalam pada akhirnya akan mengantar manusia kepada pengenalan terhadap Tuhan.
Karena itulah dalam tradisi hikmah dan irfan sering dikutip ungkapan yang sangat terkenal: "Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya." Ungkapan ini menggambarkan bahwa semakin seseorang memahami hakikat dirinya, semakin ia menyadari bahwa dirinya bukan sumber keberadaan, melainkan menerima keberadaan dari Sang Pencipta.
Perjalanan ini dapat digambarkan sebagai sebuah pendakian kesadaran. Awalnya seseorang hanya melihat pikiran. Kemudian ia menyadari adanya pengamat pikiran. Dari sana ia mulai mengenali hakikat jiwa. Setelah itu ia bertanya tentang sumber keberadaan jiwa. Dan akhirnya ia sampai pada kesadaran bahwa seluruh keberadaan bermuara kepada Allah. Jalurnya bergerak dari pikiran, menuju pengamat pikiran, menuju jiwa, menuju hakikat jiwa, menuju sumber jiwa, dan akhirnya menuju Allah sebagai sumber segala wujud.
Pemahaman ini memiliki dampak yang sangat besar dalam proses transformasi diri. Selama seseorang mengira bahwa dirinya adalah ketakutan, maka hidupnya akan dikendalikan oleh ketakutan. Selama ia mengira bahwa dirinya adalah kemarahan, maka kemarahan akan menguasainya. Selama ia mengira bahwa dirinya adalah pikiran-pikirannya, maka ia akan menjadi tawanan dari isi pikirannya sendiri.
Namun ketika ia mulai menyadari bahwa ketakutan hanyalah pengalaman yang muncul, kemarahan hanyalah keadaan yang datang dan pergi, dan pikiran hanyalah aktivitas mental yang dapat diamati, maka lahirlah kebebasan batin. Ia tidak lagi tenggelam dalam gelombang pengalaman, melainkan menjadi sadar akan dirinya sebagai penyaksi yang lebih dalam daripada semua pengalaman tersebut.
Karena itu, tujuan akhir perjalanan kesadaran bukan sekadar menjadi lebih tenang, lebih bahagia, atau lebih bebas dari stres. Semua itu memang dapat terjadi sebagai hasil sampingan. Namun tujuan yang lebih mendalam adalah mengenal diri secara benar, memahami hakikat jiwa, menyadari asal-usul keberadaan, dan pada akhirnya mengenal Allah sebagai sumber segala kesadaran, kehidupan, dan keberadaan itu sendiri. Di sinilah transformasi sejati dimulai: bukan ketika manusia berhasil mengubah dunia di luar dirinya, tetapi ketika ia berhenti salah mengenali dirinya dan mulai menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya.

Comments
Post a Comment