Salah satu pembahasan paling mendasar dalam filsafat Islam, khususnya dalam pemikiran Mulla Sadra, adalah perbedaan antara ḥaqīqah (hakikat) dan i‘tibār (iktibar atau konstruksi konseptual). Memahami perbedaan keduanya bukan hanya penting untuk kajian filsafat, tetapi juga sangat relevan untuk memahami mengapa banyak manusia mengalami kecemasan, stres, konflik batin, dan kehilangan ketenangan hidup.
Dalam pengertian filsafat Islam, hakikat adalah sesuatu yang benar-benar ada secara nyata. Ia memiliki keberadaan yang sesungguhnya dan tidak bergantung pada kesepakatan manusia. Hakikat tetap ada meskipun tidak ada seorang pun yang memikirkannya. Api tetap memiliki sifat membakar, air tetap membasahi, rasa takut tetap memengaruhi tubuh, cinta tetap dapat mengubah kondisi jiwa, dan kesadaran manusia tetap merupakan pengalaman yang nyata.
Semua itu memiliki dampak eksistensial yang riil. Dalam pandangan Mulla Sadra, yang paling mendasar dan paling nyata bukanlah konsep atau definisi, melainkan wujud (keberadaan) itu sendiri. Karena itu, pengalaman langsung terhadap keberadaan jauh lebih mendalam daripada sekadar mengetahui konsep-konsep tentang keberadaan.
Sebaliknya, iktibar adalah sesuatu yang dibentuk oleh pikiran manusia untuk membantu mengatur kehidupan. Ia memiliki fungsi praktis, sosial, hukum, atau psikologis, tetapi tidak memiliki keberadaan independen seperti hakikat. Contohnya adalah status sosial, jabatan, uang, reputasi, gelar akademik, batas negara, dan berbagai identitas sosial yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Semua hal tersebut memang berguna dan memiliki pengaruh dalam kehidupan, tetapi keberadaannya bergantung pada kesepakatan manusia.
Contoh yang paling mudah dipahami adalah uang. Secara fisik, selembar uang hanyalah kertas atau bahan tertentu yang dicetak. Nilai "seratus ribu rupiah" bukanlah sifat alami dari kertas tersebut. Nilai itu ada karena masyarakat secara kolektif menyepakatinya. Selama kesepakatan itu berlaku, uang memiliki daya beli. Namun apabila seluruh manusia sepakat menghapus nilainya, maka uang tersebut kembali menjadi sekadar kertas biasa. Dengan kata lain, dampak sosialnya nyata, tetapi nilai yang dilekatkan kepadanya merupakan konstruksi iktibari.
Masalahnya, banyak manusia tanpa sadar menghabiskan sebagian besar hidupnya di dalam dunia iktibar dan melupakan hakikat. Mereka menjadi sangat sibuk mengejar citra diri, pengakuan, popularitas, status, atau berbagai simbol keberhasilan yang sebenarnya merupakan konstruksi sosial. Mereka berusaha keras terlihat penting di mata orang lain, tetapi seringkali kehilangan hubungan dengan realitas keberadaan dirinya sendiri. Dalam bahasa yang lebih modern, seseorang bisa hidup berdasarkan constructed self, yaitu diri yang dibangun oleh persepsi dan penilaian sosial, bukan berdasarkan essential self, yaitu diri yang berakar pada realitas terdalam keberadaannya.
Karena itu, banyak bentuk ego manusia sebenarnya tersusun dari kumpulan iktibar. Ketika seseorang merasa harga dirinya runtuh karena tidak dihargai, marah karena statusnya kalah dibanding orang lain, iri karena kesuksesan orang lain lebih terlihat, atau cemas karena citranya tidak sesuai harapan, seringkali yang terluka bukan hakikat dirinya, melainkan konstruksi identitas yang ia bangun dalam pikirannya. Padahal inti keberadaan manusia tidak pernah ditentukan oleh jabatan, gelar, jumlah pengikut, kekayaan, ataupun pujian manusia.
Semakin seseorang mengidentifikasi dirinya dengan berbagai konstruksi iktibari tersebut, semakin ia bergantung pada validasi eksternal. Akibatnya, ketenangan hidup menjadi rapuh. Kebahagiaan bergantung pada pujian, rasa aman bergantung pada status, dan harga diri bergantung pada pengakuan orang lain. Ketika semua itu terganggu, muncullah kecemasan, kemarahan, iri hati, rasa takut, dan berbagai bentuk penderitaan psikologis.
Menariknya, pemahaman ini memiliki kesesuaian dengan temuan neuroscience modern. Penelitian menunjukkan bahwa otak manusia dapat mengaktifkan sistem ancaman bukan hanya karena bahaya fisik, tetapi juga karena ancaman terhadap identitas sosial. Penolakan sosial, kehilangan status, kritik, atau rasa malu dapat mengaktifkan area otak yang serupa dengan ketika seseorang menghadapi ancaman fisik. Dengan kata lain, otak seringkali bereaksi terhadap ancaman pada konstruksi identitas seolah-olah ancaman itu mengancam keberadaan dirinya secara nyata. Padahal yang terancam seringkali hanyalah lapisan iktibari yang melekat pada diri seseorang.
Dalam perspektif spiritual Islam, perjalanan menuju Allah pada hakikatnya adalah perjalanan keluar dari dominasi dunia konstruksi menuju realitas yang sesungguhnya. Perjalanan ini adalah perpindahan dari ego menuju hakikat, dari citra menuju keberadaan, dari ilusi keterpisahan menuju Tauhid, dan dari identitas palsu menuju fitrah eksistensial manusia. Karena itulah para wali dan orang-orang saleh tidak mudah terguncang oleh pujian maupun celaan. Mereka tidak diperbudak oleh status sosial, jabatan, atau penilaian manusia. Bukan karena mereka menolak dunia, tetapi karena mereka memahami bahwa sebagian besar simbol duniawi hanyalah iktibar yang bersifat relatif, bukan hakikat yang mutlak.
Dalam konteks SAT (Self Awareness Transformation), transformasi hidup terjadi ketika struktur kesadaran berubah. Sementara dalam filsafat Islam, transformasi terjadi ketika seseorang secara bertahap melepaskan dominasi iktibarat dan semakin dekat kepada hakikat wujud. Oleh karena itu, perubahan sejati bukan sekadar mengganti pikiran negatif menjadi pikiran positif. Perubahan sejati adalah perpindahan dari hidup yang dikendalikan oleh konstruksi ego menuju hidup yang selaras dengan realitas keberadaan.
Ketika seseorang mulai berakar pada hakikat, pusat kehidupannya tidak lagi bertumpu pada hal-hal yang rapuh dan berubah-ubah. Ia tidak lagi menggantungkan nilai dirinya pada pujian manusia, kekayaan, jabatan, atau pengakuan sosial. Dari keadaan inilah lahir ketenangan yang lebih dalam, kehadiran yang lebih utuh, qana‘ah yang lebih tulus, tawakkal yang lebih kuat, dan rasa kedekatan dengan Allah yang semakin nyata.
Pada tingkat yang lebih tinggi, seseorang mulai merasakan makna eksistensial dari ungkapan Nabi Musa a.s.: "Inna ma‘iya rabbī" - "Sesungguhnya Tuhanku bersamaku." Pada titik ini, fondasi kehidupannya tidak lagi berdiri di atas konstruksi-konstruksi rapuh dunia iktibari, melainkan di atas hakikat wujud yang lebih kokoh, lebih nyata, dan lebih dekat kepada sumber segala keberadaan.

Comments
Post a Comment