Skip to main content

Kebanyakan Orang Salah Bertanya Tentang Hidup

Kebanyakan orang menjalani hidup dengan fokus pada apa yang terjadi kepada mereka. Ketika menghadapi masalah, mereka bertanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?” Ketika memperoleh keberhasilan, mereka bertanya, “Bagaimana aku bisa mendapatkan ini?” Perhatian mereka tertuju pada peristiwa yang datang dan pergi dalam kehidupan.


Tidak ada yang salah dengan pertanyaan seperti itu. Memahami apa yang sedang terjadi memang penting. Kita perlu mengetahui penyebab masalah, memahami keadaan, dan mencari solusi yang tepat. Namun, seringkali ada pertanyaan lain yang justru lebih penting, tetapi jarang diajukan.


Pertanyaan itu adalah, “Menjadi pribadi seperti apa aku melalui apa yang terjadi kepadaku?” Pertanyaan ini mengalihkan perhatian dari peristiwa ke diri sendiri. Fokusnya bukan lagi pada keadaan di luar, tetapi pada perubahan yang sedang terjadi di dalam diri.


Setiap peristiwa dalam hidup selalu memiliki dua sisi. Sisi pertama adalah apa yang terjadi secara nyata di luar diri kita. Sisi kedua adalah bagaimana peristiwa itu memengaruhi cara berpikir, cara merasakan, dan cara kita menjalani hidup. Banyak orang hanya melihat sisi pertama, tetapi melupakan sisi kedua.


Padahal, peristiwa tidak otomatis menentukan kualitas seseorang. Yang menentukan adalah bagaimana ia merespons peristiwa tersebut. Dua orang dapat mengalami kejadian yang sama, tetapi menjadi pribadi yang sangat berbeda setelah mengalaminya.


Misalnya, dua orang mengalami kegagalan dalam pekerjaan. Orang pertama menjadi putus asa, kehilangan semangat, dan menyalahkan keadaan. Orang kedua menjadikan kegagalan itu sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri dan mencoba kembali dengan lebih baik. Kegagalannya sama, tetapi hasil pembentukan dirinya berbeda.


Hal yang sama juga terjadi pada kesuksesan. Banyak orang mengira bahwa kesuksesan selalu membawa kebaikan. Padahal, kesuksesan bisa membuat seseorang menjadi rendah hati dan bersyukur, tetapi bisa juga membuatnya sombong dan merasa lebih tinggi dari orang lain.


Artinya, yang paling penting bukan hanya apa yang kita alami, tetapi siapa yang kita menjadi melalui pengalaman itu. Kehidupan tidak hanya memberikan pengalaman, tetapi juga membentuk karakter dan kualitas batin manusia.


Karena itu, setiap kesulitan sebenarnya membawa sebuah pertanyaan tersembunyi. Pertanyaan itu bukan sekadar, “Bagaimana cara keluar dari masalah ini?” tetapi juga, “Kualitas apa yang sedang dibentuk oleh masalah ini di dalam diriku?”


Mungkin melalui kesulitan kita sedang belajar kesabaran. Mungkin melalui penolakan kita sedang belajar keteguhan. Mungkin melalui kehilangan kita sedang belajar melepaskan. Dan mungkin melalui keberhasilan kita sedang belajar tanggung jawab yang lebih besar.


Jika seseorang hanya berfokus pada peristiwa, ia akan menilai hidup berdasarkan untung dan rugi. Ketika mendapat sesuatu ia merasa bahagia, dan ketika kehilangan sesuatu ia merasa hancur. Hidupnya sepenuhnya ditentukan oleh keadaan yang berubah-ubah.


Sebaliknya, jika seseorang berfokus pada transformasi diri, ia akan melihat setiap pengalaman sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Ia tidak hanya bertanya apa yang terjadi, tetapi juga melihat apa yang sedang dibentuk oleh pengalaman tersebut dalam dirinya.


Dari sudut pandang ini, kehidupan bukan sekadar perjalanan untuk mendapatkan lebih banyak harta, jabatan, kenyamanan, atau pengakuan. Kehidupan juga merupakan proses pembentukan manusia yang lebih matang, lebih bijaksana, lebih kuat, dan lebih sadar.


Pada akhirnya, yang paling menentukan kualitas hidup seseorang bukan hanya peristiwa yang dialaminya, melainkan pribadi seperti apa yang lahir dari responsnya terhadap peristiwa tersebut. Sebab kehidupan tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi kepadamu?” tetapi juga, “Menjadi pribadi seperti apa engkau melalui semua yang terjadi kepadamu?”

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...