Skip to main content

Anda Menjadi Apa Yang Berulang Kali Anda Rasakan

Menurut Leslie Greenberg, salah satu tokoh utama dalam pendekatan Emotion-Focused Therapy (EFT), diri (self) bukanlah sesuatu yang terbentuk sekali lalu selesai. Diri adalah proses yang terus-menerus dibangun, diorganisasikan, dan diperbarui melalui pengalaman emosional yang kita alami sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak terutama menjadi dirinya karena apa yang ia pikirkan tentang dirinya, melainkan karena apa yang berulang kali ia rasakan dan alami secara emosional.


Greenberg menjelaskan bahwa pengalaman hidup tersimpan dalam bentuk yang ia sebut sebagai emotion schemes atau skema emosional. Skema emosional ini bukan sekadar emosi yang berdiri sendiri, melainkan sebuah jaringan pengalaman yang terdiri atas perasaan, sensasi tubuh, ingatan, kebutuhan, keyakinan, dan kecenderungan untuk bertindak. Ketika seseorang menghadapi suatu situasi, yang aktif bukan hanya pikirannya, tetapi seluruh jaringan pengalaman emosional tersebut. Dari sinilah muncul cara seseorang memandang dirinya, orang lain, dan dunia.


Karena itu, Greenberg berpendapat bahwa identitas diri tidak lahir terutama dari pikiran abstrak atau pengetahuan intelektual. Dalam praktik terapi, ia sering menemukan klien yang secara rasional memahami bahwa dirinya berharga, tetapi secara emosional tetap merasa tidak berharga. Seseorang bisa berkata, "Saya tahu saya orang baik," namun jauh di dalam dirinya tetap merasakan, "Saya tidak cukup baik." Jika identitas benar-benar dibentuk oleh pikiran rasional, maka pengetahuan tersebut seharusnya cukup untuk mengubah cara seseorang memandang dirinya. 


Namun kenyataannya tidak demikian. Pengetahuan seringkali tidak mampu mengubah identitas emosional yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Hal ini terjadi karena identitas emosional dibangun dari pengalaman yang dijalani, bukan sekadar dari ide yang dipahami.


Pandangan ini mendapat dukungan kuat dari penelitian tentang attachment atau keterikatan yang dikembangkan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth. Penelitian mereka menunjukkan bahwa anak-anak membangun gambaran tentang dirinya melalui kualitas hubungan emosional yang mereka alami sejak dini. 


Seorang anak yang berulang kali merasakan keamanan, penerimaan, perhatian, dan kehangatan akan mengembangkan apa yang disebut secure self, yaitu perasaan dasar bahwa dirinya layak dicintai dan berharga. Sebaliknya, anak yang sering mengalami penolakan, penghinaan, kritik yang merendahkan, atau pengabaian cenderung membangun insecure self, yaitu keyakinan mendasar bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.


Yang menarik, pembentukan identitas ini tidak terjadi melalui ceramah, nasihat, atau teori. Seorang anak tidak perlu mendengar kalimat, "Kamu berharga," untuk merasa berharga. Ia cukup mengalami penerimaan yang konsisten. Sebaliknya, meskipun orang tua sering mengatakan bahwa anaknya berharga, jika pengalaman sehari-hari yang diterima anak adalah penolakan atau pengabaian, maka pengalaman emosional itulah yang lebih kuat membentuk identitasnya. Dengan kata lain, pengalaman emosional yang berulang jauh lebih berpengaruh daripada kata-kata.


Pandangan Greenberg juga sejalan dengan temuan neurologis dari Antonio Damasio. Damasio menunjukkan bahwa otak manusia tidak membangun representasi diri hanya melalui proses logis dan rasional. Tubuh dan emosi secara terus-menerus mengirimkan informasi kepada otak mengenai apa yang penting, apa yang berbahaya, apa yang bernilai, dan apa yang harus dihindari. 


Informasi ini tersimpan melalui apa yang disebut somatic markers atau penanda somatik. Setiap pengalaman emosional meninggalkan jejak tertentu pada sistem saraf yang kemudian memengaruhi cara seseorang melihat dunia, mengambil keputusan, dan memahami dirinya sendiri. Oleh karena itu, diri bukan hanya sesuatu yang dipikirkan, tetapi juga sesuatu yang dirasakan oleh tubuh.


Dalam perspektif ini, ketika seorang anak berulang kali dipermalukan, yang tersimpan di dalam dirinya bukan hanya fakta bahwa "Ayah pernah memarahi saya." Yang tersimpan adalah keseluruhan pengalaman emosional yang menyertainya: rasa malu, ketegangan tubuh, kesedihan, kebutuhan untuk diterima yang tidak terpenuhi, serta keyakinan yang muncul dari pengalaman tersebut. 


Dari berbagai unsur itu kemudian terbentuk sebuah skema emosional, misalnya: "Saya tidak cukup baik." Lama-kelamaan skema ini menjadi bagian dari identitas diri. Ketika dewasa, orang tersebut mungkin menghadapi situasi yang sama sekali berbeda, tetapi tetap bereaksi melalui skema emosional yang telah terbentuk sejak lama.


Inilah sebabnya mengapa Greenberg menemukan bahwa perubahan terapeutik yang paling mendalam tidak terjadi ketika seseorang hanya memperoleh wawasan baru, melainkan ketika ia mengalami pengalaman emosional baru. Dalam terapi, seorang klien diajak untuk mengakses emosi inti yang selama ini tersimpan, mengalaminya secara penuh dan aman, lalu menghadirkan emosi adaptif yang lebih sehat. Misalnya seseorang yang selama bertahun-tahun hidup dengan identitas emosional "Saya tidak berharga." Dalam proses terapi, ia mulai menyentuh luka lama, kesedihan yang terpendam, serta kebutuhan mendalam untuk diterima dan dicintai. 


Dari pengalaman tersebut kemudian muncul belas kasih terhadap diri sendiri (self-compassion), keberanian untuk menghargai dirinya, dan kemarahan sehat terhadap perlakuan yang tidak adil yang pernah ia alami. Perlahan-lahan ia mulai merasakan sesuatu yang baru: "Saya layak dihargai." Perubahan ini bukan hasil dari perdebatan logis dengan dirinya sendiri, melainkan hasil dari pengalaman emosional yang baru. Karena itulah Greenberg terkenal dengan prinsipnya: "Emotion changes emotion" - emosi diubah oleh pengalaman emosional yang baru, bukan semata-mata oleh argumentasi rasional.


Penelitian psikologi perkembangan juga mendukung pandangan ini. Konsep diri pada anak mulai terbentuk jauh sebelum kemampuan berpikir abstrak berkembang sepenuhnya. Seorang anak kecil belum mampu membuat teori rumit tentang siapa dirinya, tetapi ia sudah mampu merasakan apakah ia dicintai atau ditolak, aman atau terancam, diterima atau diabaikan. Oleh sebab itu, banyak psikolog perkembangan menyimpulkan bahwa fondasi diri dibangun pertama-tama melalui pengalaman afektif atau emosional, baru kemudian diberi penjelasan dan narasi oleh pikiran. Dengan kata lain, manusia merasakan dirinya terlebih dahulu sebelum ia mampu menjelaskan dirinya.


Dari keseluruhan temuan tersebut, Greenberg sampai pada kesimpulan bahwa diri bukanlah benda yang statis dan tetap. Diri adalah proses yang hidup, yang terus dibentuk, dipertahankan, dan diubah melalui pengalaman emosional yang berlangsung sepanjang kehidupan. Setiap pengalaman emosional meninggalkan jejak yang berkontribusi pada cara seseorang memandang dirinya dan menjalani hidupnya.


Di sinilah terdapat titik temu yang menarik dengan kerangka SAT (Self Awareness Transformation). Jika dalam SAT dikatakan bahwa keadaan hati menentukan realitas pengalaman seseorang, maka Greenberg menjelaskan mekanisme psikologisnya melalui bahasa ilmiah. Ia menunjukkan bahwa identitas diri dibentuk oleh organisasi pengalaman emosional yang berlangsung terus-menerus. 


Dengan kata lain, setiap kali seseorang mengalami syukur, cinta, qanaah, ketenangan, atau sebaliknya mengalami takut, malu, iri, dendam, dan kebencian, ia tidak sekadar merasakan emosi sesaat. Ia sedang memperkuat pola pengalaman batin tertentu yang lambat laun membentuk struktur dirinya.


Semakin sering suatu emosi dialami, semakin kuat jejaknya dalam sistem emosional, semakin kuat pula pengaruhnya terhadap cara seseorang melihat dirinya dan dunia. Dalam bahasa sederhana, manusia pada akhirnya menjadi apa yang berulang kali ia hayati secara emosional. 


Karena itu, transformasi diri yang mendalam bukan hanya persoalan mengubah cara berpikir, tetapi juga mengubah kualitas pengalaman emosional yang terus-menerus dihidupi dari hari ke hari. Dari pengalaman emosional yang baru, terbentuk cara pandang yang baru; dari cara pandang yang baru, lahirlah identitas yang baru; dan dari identitas yang baru, muncul pengalaman hidup yang berbeda.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...