Kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari tanpa sadar sering “menciptakan drama”. Yang perlu diluruskan sejak awal adalah bahwa drama bukanlah masalah itu sendiri. Masalah adalah bagian alami dari kehidupan, sesuatu yang memang perlu dihadapi dan diselesaikan. Sementara itu, drama adalah cara seseorang merespons masalah - biasanya secara tidak sadar, berlebihan, dan tidak proporsional. Dengan kata lain, dua orang bisa menghadapi masalah yang sama, tetapi yang satu tetap tenang dan jernih, sementara yang lain justru memperbesar situasi hingga menjadi konflik yang melelahkan. Perbedaan ini bukan pada masalahnya, melainkan pada cara meresponsnya.
Secara sederhana, drama dapat dipahami sebagai proses ketika seseorang memperbesar, memelintir, atau mempertahankan ketegangan emosional melalui pikiran, asumsi, dan perilaku yang sebenarnya tidak diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Hal ini sering terjadi begitu cepat dan otomatis, sehingga terasa seolah-olah reaksi tersebut “wajar”, padahal sebenarnya sudah melewati batas kebutuhan. Misalnya, sebuah kejadian kecil - seperti pesan yang tidak dibalas - dapat berkembang menjadi pikiran negatif, dugaan yang tidak berdasar, hingga emosi yang intens. Dari situ, situasi kecil berubah menjadi konflik yang besar.
Dalam perspektif psikologi dan neuroscience, kondisi ini berkaitan dengan aktivasi berlebihan pada sistem saraf, khususnya bagian yang mengatur emosi, seperti sistem limbik. Ketika sistem ini terlalu aktif, seseorang cenderung bereaksi secara impulsif, sulit mengendalikan emosi, dan mudah terjebak dalam distorsi kognitif seperti overthinking, membuat asumsi, atau menciptakan “cerita” di dalam pikirannya sendiri. Pada saat yang sama, bagian otak yang berfungsi untuk berpikir jernih dan rasional menjadi kurang optimal. Akibatnya, respon yang muncul bukan lagi berdasarkan fakta, tetapi berdasarkan persepsi yang sudah terdistorsi.
Dalam hubungan antar manusia, drama sering muncul ketika interaksi tidak lagi didasarkan pada realitas, melainkan pada asumsi dan harapan tersembunyi. Seseorang mungkin berpikir, “dia pasti sengaja melakukan ini,” atau “harusnya dia mengerti tanpa saya jelaskan.” Ditambah lagi dengan komunikasi yang tidak langsung - seperti diam, menyindir, atau bersikap pasif-agresif - situasi menjadi semakin kompleks.
Akibatnya, kepercayaan mulai menurun, kesalahpahaman meningkat, dan hubungan terasa dekat hanya karena sering terjadi konflik, bukan karena adanya kehadiran dan pemahaman yang tulus. Dalam beberapa kasus, hubungan seperti ini bahkan terasa “hidup” justru karena tingginya intensitas emosi, bukan karena sehatnya interaksi. Fenomena ini dikenal sebagai trauma bonding atau keterikatan yang terbentuk melalui konflik.
Drama juga sangat erat kaitannya dengan kemarahan. Seringkali, kemarahan yang muncul bukanlah reaksi terhadap fakta yang nyata, melainkan terhadap cerita yang dibangun di dalam pikiran. Prosesnya biasanya dimulai dari kejadian yang sebenarnya wajar, lalu pikiran memberikan makna tertentu - misalnya merasa tidak dihargai - kemudian emosi seperti marah atau terluka muncul, dan akhirnya diekspresikan secara reaktif. Dari sinilah konflik berkembang. Jika diperhatikan dengan jernih, kemarahan dalam banyak kasus drama lebih merupakan respon terhadap interpretasi, bukan terhadap realitas itu sendiri.
Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, dampaknya tidak hanya pada hubungan, tetapi juga pada kesehatan mental dan sistem saraf. Aktivasi emosi yang berulang membuat otak, khususnya bagian yang mendeteksi ancaman, menjadi terlalu sensitif. Sementara itu, kemampuan berpikir rasional semakin menurun. Tubuh pun masuk ke dalam kondisi stres kronis, seolah-olah selalu berada dalam mode “siaga” atau “melawan”.
Dampaknya bisa berupa kelelahan mental, gangguan tidur, hingga meningkatnya kecemasan. Selain itu, drama juga menciptakan pola psikologis yang berulang: seseorang membuat asumsi, asumsi tersebut memicu emosi, emosi mendorong reaksi, reaksi menciptakan konflik, dan konflik tersebut justru memperkuat asumsi awal. Siklus ini terus berulang dan akhirnya membentuk pola pikir negatif serta identitas diri, seperti merasa selalu menjadi korban atau selalu harus menyerang.
Pada titik yang lebih dalam, drama sebenarnya mencerminkan penurunan kesadaran diri. Seseorang menjadi lebih reaktif daripada reflektif, lebih otomatis daripada sadar. Dalam kerangka filsafat seperti yang dijelaskan oleh Mulla Sadra, kondisi ini dapat dipahami sebagai penurunan tingkat eksistensi atau kesadaran jiwa. Jiwa yang seharusnya memimpin dengan kesadaran dan kebijaksanaan justru “ditarik turun” oleh impuls, emosi, dan reaksi otomatis. Dengan demikian, drama bukan sekadar masalah perilaku, tetapi juga menunjukkan kondisi batin - apakah seseorang hidup dalam kesadaran yang tinggi, atau masih didominasi oleh reaksi-reaksi yang tidak disadari.
Dalam filsafat Mulla Sadra, realitas dipahami sebagai satu kesatuan yang disebut wujud (keberadaan). Semua yang ada berasal dari hakikat yang sama, tetapi tidak berada pada tingkat yang sama. Perbedaannya terletak pada intensitas dan kesempurnaan wujud tersebut. Ada wujud yang kuat, terang, dan penuh kesadaran - dan ada pula yang lemah, redup, serta cenderung reaktif. Dalam kerangka ini, manusia bukanlah entitas yang statis, melainkan makhluk yang terus bergerak naik atau turun dalam kualitas keberadaannya, tergantung pada bagaimana ia hidup, berpikir, dan merespons realitas.
Jika konsep ini kita gunakan untuk memahami “drama” dalam kehidupan, maka drama bukan sekadar fenomena psikologis biasa, tetapi mencerminkan posisi jiwa pada tingkat wujud tertentu. Drama dapat dipahami sebagai aktivitas jiwa ketika berada pada level wujud yang rendah, yaitu kondisi dimana kesadaran melemah, emosi mendominasi, dan reaksi menjadi tidak terkendali. Pada kondisi ini, seseorang lebih digerakkan oleh amarah, ketakutan, atau luka batin, serta dorongan impulsif (nafsu), sementara peran akal - yang seharusnya memberi kejernihan dan arah - menjadi sangat minimal.
Secara ontologis, kita bisa melihat adanya tiga lapisan sederhana dalam kualitas wujud manusia. Pada tingkat tinggi, seseorang menunjukkan ketenangan, kejernihan berpikir, kesadaran penuh, dan kemampuan merespons secara bijak. Pada tingkat menengah, kondisi jiwa masih fluktuatif - kadang sadar, kadang reaktif, tergantung situasi. Sedangkan pada tingkat rendah, jiwa cenderung reaktif, impulsif, dan mudah terjebak dalam drama. Dengan demikian, drama bukan hanya sekadar perilaku, tetapi bisa dijadikan indikator bahwa intensitas wujud seseorang sedang menurun - ia tidak hadir sepenuhnya sebagai dirinya yang sadar.
Penurunan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui suatu mekanisme yang dijelaskan dalam konsep harakah jawhariyyah (gerak substansial), yaitu gagasan bahwa jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah dari dalam dirinya. Gerakan ini bisa mengarah ke atas - menuju kesempurnaan - atau ke bawah - menuju kelemahan. Dalam konteks drama, pola penurunannya biasanya dimulai dari hal yang sangat sederhana: sebuah stimulus kecil.
Stimulus ini kemudian diolah oleh pikiran menjadi “cerita” subjektif yang seringkali tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas. Cerita ini memicu emosi seperti marah, takut, atau cemas. Emosi tersebut lalu mendorong reaksi impulsif, yang seringkali memperburuk keadaan. Ketika pola ini terus diulang, ia tidak lagi sekadar reaksi sesaat, tetapi berubah menjadi kebiasaan yang menetap (malakah), membentuk karakter seseorang.
Akibat dari proses ini cukup mendalam. Seseorang menjadi semakin bergantung pada reaksi otomatisnya, seolah-olah tidak punya pilihan lain selain bereaksi seperti itu. Kebebasan batin - kemampuan untuk memilih respon dengan sadar - mulai hilang. Dalam istilah yang lebih dalam, ini berarti kualitas wujudnya menurun: dari yang seharusnya memimpin dengan kesadaran, menjadi sekadar mengikuti dorongan dan emosi.
Dengan demikian, drama bukan hanya sesuatu yang “terjadi” dalam kehidupan, tetapi sesuatu yang “menunjukkan” posisi eksistensial seseorang - apakah ia sedang naik menuju kesadaran yang lebih tinggi, atau justru turun ke tingkat yang lebih reaktif dan tidak stabil.

Comments
Post a Comment