Skip to main content

BELAJARLAH MENDENGARKAN KEJERNIHAN HATI

Pada kebanyakan manusia, hampir semua yang terlintas di pikiran dan hatinya selalu berkaitan dengan segala hal di luar dirinya. Baik itu berupa pekerjaan, keluarga, uang, impian, manusia lainnya, peristiwa, dan jabatan serta benda-benda. Semua itu adalah hal-hal di luar diri kita dan yang sering dipikirkan serta dirasakan efek perasaannya di hati.

Jika semakin kuat ikatan emosional kita dengan sesuatu yang di luar diri kita tersebut, maka semakin intens pula dipikirkan dan dirasakan. Galau sering terjadi akibat memikirkan hal-hal di luar dirinya. Begitu pula ketika merasa senang, terjadi ketika memikirkan sesuatu di luar dirinya atau sesuatu di luar dirinya tersebut terjadi sesuai dengan apa yang dipikirkan dan harapkan.

Pada akhirnya, lintasan pikirannya pun sangat dipengaruhi oleh hal-hal di luar dirinya. Termasuk berbagai perasaannya pun bergantung pada hal-hal di luar dirinya. Perubahan apapun yang terjadi di luar dirinya, maka akan mempengaruhi pikiran dan perasaannya.

Karena kondisi ini terlalu sering terjadi, maka akhirnya bersifat otomatis. Ia tak lagi bisa mengontrol pikirannya, melainkan justru dikontrol oleh pikirannya sendiri. Itu karena pikirannya otomatis berubah-ubah, bergantung pada perubahan apapun di luar dirinya. Dan karenanya juga membuat perasaannya pun berubah-ubah secara otomatis.

Dalam kondisi yang ekstrem, pikiran yang bergerak otomatis dan sangat kuat terikat secara emosional pada hal-hal di luar dirinya, bisa mengakibatkan lahirnya kecemasan intens. Kondisi ini bisa mengakibatkan diri menjadi susah tidur dan hidup tak tenang. Ada juga yang bahkan hingga pada kondisi depresi, skizofrenia, dan gangguan jiwa lainnya.

Suara hati yang muncul bukan lagi dari kejernihan hati, melainkan akibat dari keterikatan yang begitu kuat dengan hal-hal di luar dirinya. Jadi jangan heran, jika kondisi otomatis ini melahirkan kehampaan, bergerak laksana zombie, hingga mengidap gangguan kejiwaan.

Dengan melihat dan merasakan fenomena ini, maka sudah seharusnyalah kita mengambil waktu sejenak dan merenung. Jangan biarkan otak dan hati semuanya diisi oleh berbagai hal di luar diri. Jangan biarkan pikiran dan perasaan kita berubah-ubah bukan atas kontrol kesadaran diri. Jangan biarkan pikiran dan hati kita terikat kepada berbagai hal di luar diri.

Belajarlah untuk mengontrol semua pikiran dan perasaan yang melintas, dengan cara membiarkan kejernihan hati yang berbicara. Karena sesungguhnya kejernihan hati senantiasa memberikan ilham kepada diri kita, namun seringkali suara itu tak terdengar diakibatkan oleh keributan suara-suara pikiran dan hati yang sumbernya berasal dari luar diri kita.

Hal ini bukan berarti kita mesti berhenti memikirkan hal-hal di luar diri kita; melainkan landasan memikirkan berbagai hal di luar diri adalah dari kejernihan hati. Belajarlah untuk mengikat diri kepada Sang Pemberi Kejernihan Hati, agar kejernihan hati inilah yang menjadi pemandu dalam memikirkan berbagai hal di luar diri kita.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...