Skip to main content

BAGAIMANA AGAR TERHUBUNG SECARA EMOSIONAL DENGAN IMPIAN?



Seperti yang telah saya singgung pada artikel sebelumnya, yang berjudul: Benarkah Impian Itu Penting?; Pembahasan yang mengupas bahwa impian akan mudah terwujud jika kita memiliki keterikatan secara emosional dengan impian kita tersebut.

Nah, dalam artikel kali ini, saya akan mencoba sharing tentang cara agar kita bisa terikat secara emosional dengan impian kita. Berikut beberapa cara yang saya ketahui:

1. Di anggap remeh

Saya memiliki seorang teman yang sangat luar biasa. Dan bukan hanya seorang teman tapi juga beberapa teman yang luar biasa. Beberapa kawan saya ini berhasil mencapai impian mereka dan merupakan orang yang suka bekerja dan dan berbagi dengan orang lain. Kalau dilihat dari latar belakang mereka, biasa-biasa aja tuh. Maksud saya adalah mereka berasal dari keluarga ekonomi menengah bahkan ada yang dari kalangan ekonomi bawah. Ketika saya berdiskusi dengan mereka, satu hal menarik yang saya ketahui dan hal ini menjadi pola keberhasilan mereka. Yaitu, mereka sering dianggap remeh oleh orang lain. Di anggap remeh orang lain disini yang saya maksud adalah mulai dari kalangan keluarga mereka sendiri (tentunya keluarga mereka yang mapan) hingga oleh orang lain betulan (selain keluarga mereka). Tapi ajaibnya, ketika mereka dianggap remeh atau dipandang sebelah mata, mereka semakin terpacu untuk mewujudkan impian mereka. Mereka semakin terpacu untuk membuktikan bahwa mereka bisa dan mampu dan tidak seperti anggapan orang lain yang menganggap remeh mereka. Mereka-mereka inilah yang terikat secara emosional dengan impian mereka karena mereka ingin membuktikan kepada orang lain bahwa mereka bisa dan mampu menaikkan derajat ekonomi dan status sosial mereka.

2. Penderitaan ketika melihat orang tua

Ada begitu banyak kisah yang saya baca dan dengarkan tentang tipe orang yang sukses karena mereka termasuk keluarga yang kurang mampu. Ada begitu banyak kisah nyata tentang seorang anak yang berhasil mengangkat derajat ekonomi dan status sosialnya karena sebelumnya berada dalam keluarga kurang mampu dan ingin menolong orang tua dan keluarganya. Anda juga mungkin tahu beberapa kisah motivator yang berasal dari keluarga kurang mampu dan terpacu secara emosional untuk mewujudkan impiannya.

3. Penderitaan dalam keluarga

Ketika seseorang telah menikah, dan menjalani hidup yang kurang mapan, biasanya akan semakin terpacu untuk mewujudkan impiannya. Ada beberapa orang yang masuk ke dalam tipe ini. Mereka telah memiliki istri/suami dan anak, dan mereka begitu ingin membahagiakan mereka dan kemudian menjadi terpacu secara emosional mewujudkan impian mereka.

4. Menyukai satu bidang tertentu

Di dalam buku Outliers: The Story of Success, Malcolm Gladwell, memaparkan penelitiannya tentang orang-orang yang sukses. Salah satu faktor yang membuat seseorang bisa mewujudkan impiannya karena mereka begitu menyukai suatu bidang tertentu. Dalam bahasa Gladwell, mereka adalah orang-orang yang menekuni sebuah bidang selama 10.000 jam. Ketika seseorang mau dengan sukarela menekuni suatu bidang dalam kurun waktu 10.000 jam, maka bisa dipastikan bahwa mereka sangat menyukai bidang tersebut. Nah, bekerja pada suatu bidang yang sangat kita sukai akan mengikat emosi positif kita dengan impian yang ingin kita wujudkan, karena hal tersebut akan menjadikan kita ahli dibidang tersebut, dan memudahkan kita mencapai impian kita.

5. Re-programming

Ada begitu banyak orang yang mewujudkan impiannya, dengan ke-4 cara di atas. Mereka secara emosi positif terpacu untuk mewujudkan impiannya. Namun ternyata, masih ada lebih banyak lagi orang-orang yang memiliki impian, tapi kurang memiliki tenaga pendorong berupa emosi positif. Jika Anda termasuk kategori ini, maka disinilah pentingnya melakukan re-programming. Bisa jadi ada begitu banyak konflik mental yang terjadi. Bisa juga karena peristiwa trauma yang pernah menimpa. Atau bisa juga karena begitu banyaknya beban mental yang mengendap, sehingga menjadikan diri ini lumpuh dan tak bersemangat. Dan menariknya lagi, sekarang ada begitu banyak teknik untuk memaksimalkan potensi kita agar memudahkan kita mencapai impian. Ada begitu banyak teknik, yang bisa memicu emosi positif kita agar menjadi turbo dalam mencapai impian.

6. Makna spiritual

Dalam proses mencapai kesempurnaan dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan, setiap insan akan mencapai beberapa level pencapaian spiritual. Pencapaian level spiritual ini bergantung kepada niat dan konsistensi ibadah yang dilakukan. Nah, ada beberapa hamba Tuhan, yang berhasil mencapai level tertentu dan menemukan sebuah makna kehidupan yang luar biasa. Mereke berhasil mengetahui alasan dibalik ke-penciptaan manusia. Dan terlebih khusus lagi, mereka berhasil menemukan alasan kenapa diri mereka diciptakan di muka bumi ini. Mereka menemukan tujuan mereka di muka bumi ini. Mereka telah menemukan arah hidup mereka. Mereka berjalan ke arah hidup mereka dengan di dorong oleh sebuah emosi positif yang bermakna dan memberi arti bagi mereka dan orang lain. Mereka berjalan dengan landasan spiritual yang matang dan senantiasa memberikan arti dan manfaat kepada orang lain.

Dari beberapa uraian alasan yang telah kita bicarakan, dapatlah kita ambil kesimpulan bahwa impian itu ibarat sebuah arah dan tujuan. Tentu arah dan tujuan itu harus kita perbaharui terus-menerus agar jalan kehidupan kita tidak stagnan. Namun dalam mencapai arah tersebut, kita memerlukan sebuah tenaga pendorong yang harus selalu tetap tersedia. Tenaga pendorong ini adalah emosi positif kita. Emosi positif memberikan tenaga bagi kita agar kita berjalan menuju arah yang telah kita tentukan. Dengan demikian, memiliki sebuah impian (arah hidup) tak akan berarti banyak jika tanpa tenaga pendorong berupa emosi positif. Dan tenaga pendorong ini, sering juga disebut sebagai ALASAN DALAM MENJALANI HIDUP. SUKSES n BAHAGIA SELALU!

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...