Memfasilitasi Manusia Kembali Utuh — Tidak Terpecah antara Pikiran, Perasaan, Makna, dan Tuhan
Search This Blog
TUHAN ITU MAHA PEMBERI
Saya ingin Anda membayangkan rejeki Tuhan itu sebanyak luasnya samudera, bahkan lebih banyak lagi. Dan banyaknya tidak bisa Anda perkirakan. Tapi sebagai analogi, kita bayangkan saja sebanyak luasnya samudera. Dan rejeki sebanyak itu diperuntukkan kepada setiap manusia yang ada di muka bumi. Maka pertanyaannya adalah: Siapakah orang yang terkaya di dunia?
Anda mungkin akan berkata: “Tidak ada yang paling kaya, kan semuanya itu milik bersama. Jadi sama rata dong bagi hasilnya” Oke, betul bahwa kekayaan sebanyak itu adalah milik bersama, tetapi seberapa banyakkah yang bisa Anda bawa pulang ke rumah Anda? Atau kita spesifikkan pertanyaanya menjadi: Seberapa besar “tempat” yang Anda bawa untuk mengambil rejeki itu di samudera luas?
Ada yang datang membawa sebuah ember kecil untuk mengambil rejeki Tuhan di samudera luas. Ada juga yang datang membawa sebuah truk dengan di atasnya terdapat bergalon-galon tempat untuk menampung rejeki Tuhan yang diambilnya di samudera luas. Atau mungkin ada membuat saluran pipa panjang dari samudera rejeki itu ke rumahnya, sehingga ia bisa kapan saja memutar kran rejeki itu dan menjadi miliknya setiap saat. Atau juga ada yang merasa tidak punya “tempat”, sehingga harus mengambil rejeki Tuhan itu dengan menampung di telapak tangannya.
Seberapa besar pun “tempat” Anda, Andalah yang menentukan sendiri. Tuhan itu Maha Pemberi. Ia senantiasa memberikan apapun keinginan kita dan senantiasa mengalirkan rejeki yang berlimpah. Persoalannya hanyalah, seberapa besar “tempat” penampungan kita dalam menampung rejeki Tuhan.
Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...
David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...
Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri. Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...
Comments
Post a Comment