Skip to main content

MENGAPA ALAM SEMESTA BERSIFAT “DUALISME”

Anda mungkin pernah mendengar ying dan yang, hitam dan putih, baik dan jahat, kaya dan miskin, adil dan zalim, siang dan malam, dan sifat-sifat lainnya yang terlihat seperti berlawanan. Benarkah kedua sifat tersebut berlawanan? Dan mengapa Tuhan menciptakan alam semesta dengan sifat-sifat yang terkesan berlawanan itu? Mari kita membahasnya satu per satu.


SUBSTANSI DAN AKSIDENT


Saya sendiri berpendapat bahwa kedua sifat tersebut pada dasarnya tidak berlawanan, dan tidak berbeda sama sekali. Saya mohon Anda jangan protes dulu, karena apa yang akan kita bahas ini masih agak panjang!


Sebelumnya saya ingin bertanya kepada Anda? Boleh kan! Menurut Anda siang dan malam itu berlawanan dan berbeda? Ataukah keduanya pada dasarnya sama? Untuk membantu Anda menganalisis, maka sebelum Anda menjawabnya, cobalah untuk menjawab pertanyaan berikut ini: Adakah sumber dari siang? Anda mungkin menjawab, Ada, yaitu matahari. Karena mataharilah sehingga siang hari itu tercipta. Nah sekarang, adakah sumber dari malam? Maksud saya adalah adakah sesuatu yang ketika sesuatu itu ada maka malam akan tercipta? Ataukah sesungguhnya malam itu adalah ketika matahari menjauhi sisi lain dari bumi?


Mari kita perjelas hal ini dengan melihat antara terang dan gelap. Adakah sumber terang? Anda mungkin menjawab, Ada, yaitu matahari atau bola lampu. Nah, bagaimana dengan gelap? Adakah sumber bagi gelap? Di mana dengan adanya sumber tersebut maka gelap itu menjadi ada. Ataukah gelap itu adalah ketika menjauh dari sumber terang.


Saya yakin dan percaya bahwa Anda akan setuju dengan saya bahwa tidak ada sumber dari malam (gelap). Sesungguhnya yang ada hanyalah satu sumber saja, yaitu sumber terang (siang). Ketika Anda berada di bawah titik lampu yang menyala, maka Anda akan semakin kelihatan; dan begitu Anda menjauhi titik lampu tersebut Anda akan semakin tidak kelihatan. Dengan kata lain, sesungguhnya antara “dualisme” itu adalah ketunggalan. Kita sebagai manusia yang memandangnya seolah-olah berbeda. Yang ada hanyalah satu sumber saja, yaitu cahaya (terang, siang, adil, kaya, dan lain-lain). Sumber dari segala sumber cahaya ini yang sering disebut dengan Tuhan. Ada juga yang menyebutnya Alam Semesta, dan sebutan-sebutan lainnya.


Perbedaan yang seolah-olah terlihat adalah ketika seseorang menjauhi sumber cahaya, maka dia akan berada dalam kondisi gelap, zalim, miskin, dan lain-lain. Adanya kesamaan sumber ini, yang membuat “dualisme” itu pada dasarnya sama. Dalam filsafat, dualisme itu disebut dengan Substansi dan Aksident. Substansi didefenisikan sebagai adanya sesuatu dengan membutuhkan subjek, sedangkan aksident didefenisikan sebagai adanya sesuatu yang tidak membutuhkan subjek. Adanya terang karena membutuhkan subjek, yaitu matahari; sedangkan adanya gelap tidak membutuhkan subjek, karena gelap terjadi ketika menjauhi sumber terang tersebut.


Hal ini juga menyiratkan bahwa ketika seseorang semakin dekat dengan Tuhan, maka ia akan menjadi semakin bahagia, semakin positif, semakin optimis, dan pandai bersyukur. Inilah, menurut saya, sebuah jalan untuk mencapai kesuksesan yang holistik. Kesuksesan yang bukan hanya bertumpu pada uang, tapi juga bertumpu pada semua aspek yang membuat kita sebagai manusia menjadi sempurna. Dengan kata lain, semakin dekat seseorang dengan Tuhan, maka semakin sukseslah ia secara holistik, semakin kuatlah kekuatan vibrasinya, semakin kuatlah ia dalam memanfaatkan law of attraction.


Begitu juga sebaliknya, ketika seseorang menjauhi sumber dari segala sumber cahaya, maka semakin zalim, semakin serakah, semakin takut dengan keadaan, dan semakin tidak bahagia. Ia mungkin mampu meraih sukses, tapi kesuksesan yang ia raih hanyalah kesuksesan yang berada pada satu atau beberapa sisi saja. Ia mungkin memiliki banyak uang, tapi apakah ia bahagia? Apakah ia memiliki rumah tangga yang harmonis? Apakah ia merasa senang dan puas dengan apa yang telah dimiliki? Apakah ia bisa bersyukur dengan kekayaannya saat ini?


Nah, kenapa Alam Semesta ini bersifat “dualisme”? Adakah pelajaran yang diperoleh dari kedua sifat yang seolah-olah berbeda ini? Untuk menjawabnya, lihatlah buku saya yang membahasnya dengan panjang lebar, yang berjudul:


THE SECRET OF ATTRACTOR FACTOR

Mengetahui Rahasia Law of Attraction Untuk Mendapatkan Apapun Yang Anda Inginan


Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-ḥarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...