Skip to main content

Citra Diri Sebagai Motivasi Belajar Pada Anak


Sebuah penelitian dari banyak pakar pendidikan terkenal di dunia menyebutkan bahwa citra diri adalah faktor sangat penting dalam dunia pendidikan. Sayangnya, hampir setiap sekolah tidak mengajarkan bagaimana cara menjaga dan meningkatkan citra diri setiap anak di kelas. Bahkan penelitian di Spanyol menyebutkan bahwa prestasi akademik berbanding lurus dengan citra diri yang baik.

Mungkin kabar yang sangat memprihatinkan adalah bahwa ternyata hampir setiap anak memiliki citra diri yang kurang baik, dan ini seringkali dihancurkan oleh para guru dan orang tua. Dalam penelitian lain disebutkan bahwa citra diri anak, kebanyakan hancur ketika anak menginjak usia pendidikan Sekolah Dasar.

Sungguh ironis bukan? Di satu sisi, para guru dan orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang berhasil, tapi di sisi yang lain, kebanyakan para guru dan orang tua justru menghancurkan citra diri anak mereka.

Citra diri dapat kita gambarkan sebagai cermin diri. Yaitu apa saja gambaran seorang anak terhadap dirinya sendiri. Setiap persepsi anak tentang dirinya, selain berasal dari pendapatnya sendiri juga sangat dipengaruhi oleh pendapat orang lain tentang dirinya, khususnya para guru dan orang tua mereka. Kebanyakan anak memandang dirinya sebagai anak yang bodoh karena lebih sering mendengarkan kata-kata dan penilaian bodoh dari para guru dan orang tuanya.

Apalagi jika sang anak sudah mendapatkan label tidak mampu, maka sang anak pun akan cenderung memandang dirinya sebagai anak yang tidak mampu. ”Yah sudahlah, mau bagaimana lagi. Saya ini kan bodoh”, demikian batin hampir kebanyakan anak.

Kecenderungan memandang rendah diri sendiri tidak terlepas dan sangat erat kaitannya dengan sistem emosi pada diri. Padahal sistem emosi inilah yang menjadi penggerak bagi proses belajar anak. Jika seorang anak memandang rendah dirinya, maka sudah pasti ia akan memiliki harga diri yang rendah. Secara emosional ia akan merasa minder dan malu. Emosi ini kemudian akan memandu dirinya untuk berhenti berusaha ketika melakukan proses belajar. Padahal sebuah proses belajar adalah proses yang bersifat pengulangan dan senantiasa menuntut kita untuk selalu mencoba hal-hal yang baru dan belajar dari setiap kegagalan. Artinya semakin sering kita melakukan pengulangan terhadap objek tertentu (tanpa berhenti berusaha atas setiap kendala yang dihadapi), maka koneksi di otak kita akan semakin menguat, yang pada akhirnya membuat kita menjadi anak yang cerdas.

Namun, bagaimana mungkin proses pengulangan ini akan terjadi jika motivasi dalam dirinya tidak ada. Dan ketiadaan motivasi ini disebabkan karena sistem emosi negatif yang berada dalam dirinya, yang disebabkan oleh citra diri yang buruk.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...