Skip to main content

CITRA DIRI ANAK DAN ORANG TUA

Citra diri sering juga disebut sebagai cermin diri atau apapun persepsi seseorang terhadap dirinya. Ketika berbicara tentang citra diri maka pasti selalu berhubungan dengan diri ideal dan harga diri. Diri ideal adalah penetapan seseorang terhadap apa yang akan terjadi nanti. Diri ideal adalah apa yang diharapkan atau dicita-citakan. Diri ideal, selain ditentukan sendiri oleh sang anak, lebih sering ditentukan oleh orang tua atau lingkungan keluarga dan sekitarnya. Sedangkan harga diri adalah kondisi emosi yang dirasakan oleh seseorang sehubungan dengan citra dirinya sendiri.

Semakin positif citra diri seorang anak, semakin positif pula kondisi emosi yang dirasakan (harga dirinya positif). Jika diri ideal yang diharapkan misalnya adalah mendapatkan nilai 100, maka ketika seorang anak berhasil mendapatkan nilai 100, maka ia akan melihat dirinya sebagai anak yang pandai (citra diri positif). Ketika ia melihat dirinya sebagai anak yang pandai, maka secara otomatis pula ia akan merasa hebat, percaya diri, dan mampu menghadapi persoalan yang sama dengan mudah.

Bagaimana kalau sebaliknya? Jika ia ternyata tidak mendapatkan nilai 100, maka ketika ia melihat teman-teman yang lainnya mendapatkan nilai 100 maka ia akan melihat dirinya sebagai anak yang bodoh. Semakin ia sering memikirkan dirinya yang bodoh, semakin negatif pula emosi yang dirasakannya (harga diri negatif). Ia akan merasa minder, malu, frustasi, dan tidak percaya diri.

Terus apa hubungannya dengan orang tua? Kebanyakan orang tua tidak pernah di didik untuk melihat kegagalan sebagai suatu proses untuk meraih kesuksesan. Kegagalan dipandang sebagai hal yang tabu dan memalukan. Pada dasarnya orang tua yang seperti ini adalah orang tua yang juga memiliki citra diri dan harga diri yang negatif. Karena ia tidak ingin dipermalukan dan merasa malu, maka kebanyakan orang tua akan cenderung menetapkan diri ideal yang terlalu tinggi bagi anak-anaknya. Sang anak akan cenderung diharapkan (lebih tepat dipaksa) untuk selalu memenuhi semua harapan prestasi orang tuanya. Dan sangat sering penetapan diri ideal yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya adalah diri ideal yang terlalu tinggi. Semua anaknya harus memenuhi target yang telah ditetapkan setinggi-tingginya.

Apa yang terjadi kemudian? Ketika sang anak berhasil memenuhi target yang ditetapkan, maka orang tua pasti akan merasa bangga. Ia ingin menutupi harga dirinya yang negatif dengan berlindung dibalik prestasi anaknya. Harga dirinya pun akan menjadi positif. Anak-anak yang demikian pastilah anak-anak yang menjadi kebanggaan orang tua, dan sangat disayangi. Jika orang tua bercerita kepada orang lain tentang anak-anaknya, maka dapat dipastikan bahwa hanya anak yang membuat bangga dirinya saja yang paling sering diceritakan. Dengan bercerita kepada orang lain tentang prestasi anaknya, ia ingin menunjukkan bahwa citra diri dan harga dirinya pun menjadi lebih positif.

Ketika sebaliknya yang terjadi, sang anak ternyata belum mampu memenuhi target yang ditetapkan orang tua. Apa yang akan terjadi? Karena pada dasarnya sang orang tua juga memiliki citra diri dan harga diri yang negatif, maka sangat besar kemungkinan semua kesalahan itu akan ditimpakan kepada anaknya. Sang orang tua merasa malu dengan melihat prestasi anaknya yang pas-pasan. Sang orang tua tidak melihat hal itu sebagai bagian dari proses mencapai kesuksesan, tetapi dilihat sebagai penyebab malu di keluarga. Maka sudah dapat dipastikan, sang orang tua akan memarahi anaknya habis-habisan.

Sang anak yang sudah dari awal memiliki citra diri negatif karena melihat prestasinya sendiri yang pas-pasan, kini semakin diperparah dengan omelan dan hinaan yang diberikan oleh orang tuanya. Jenis-jenis omelan yang dilakukan orang tua dapat kita kategorikan sebagai berikut:

  1. Memberi label bodoh pada anak.

Hal pertama yang paling sering diomelkan oleh orang tua kepada anaknya adalah menyebut dirinya bodoh. Semakin sering label bodoh ini disebutkan, maka semakin sering pula penegasan ”bodoh” pada diri sang anak terjadi. Sang anak lama-lama akan semakin percaya bahwa dirinya memang bodoh.

  1. Melakukan perbandingan.

Ketika sudah mengomel habis-habisan dengan memberi label bodoh, maka sering pula diikuti dengan membandingkan anak sendiri dengan anak tetangga, atau anak keluarga sendiri, atau saudara anaknya sendiri. Bisa Anda rasakan bagaimana hancurnya hati seorang anak ketika selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain. Saya sendiri yakin, sang orang tua pun tak suka dibanding-bandingkan oleh anaknya dengan orang tua yang lain.

  1. Membuat kesan tidak mengakui sang anak sebagai anaknya.

”Kamu anak siapa sih? Dulu mama dan papa tidak seperti kamu.” Jenis kalimat ini juga sering diucapkan oleh orang tua kepada anaknya. Tanpa orang tua sadari, jenis kalimat ini akan diartikan oleh pikiran bawah sadar sang anak sebagai tidak diakui dirinya sebagai anak.

Saya hanya menyebutkan tiga jenis gambaran besar omelan yang sering dilakukan orang tua, yang paling sering menjatuhkan citra diri sang anak. Dan kita sudah tahu bahwa ketika citra diri sang anak menjadi negatif, maka harga dirinya pun akan semakin negatif. Sang anak akan semakin tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Tanpa disadari oleh orang tua, kondisi emosi negatif ini justru membuat sang anak semakin tidak dapat ber-prestasi di sekolah. Karena bagaimana mungkin sang anak semakin ber-prestasi di sekolah, jika kepercayaan dirinya sendiri terhadap kemampuannya menjadi hancur.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...