Skip to main content

AMBILLAH KEPUTUSAN SAAT BAHAGIA

Kemarin saya baru saja berbicara di hadapan anak-anak sebuah SMA Islam di Makassar. Saya berbicara tentang Holistic Learning kepada mereka. Terdapat satu hal menarik yang saya sempat sharing dengan mereka, yaitu sebuah teknih sederhana yang sangat ampuh untuk melakukan sebuah perubahan ke arah yang positif. Saya berbagi dengan mereka mengenai teknik afirmasi yang dahsyat untuk meningkatkan citra diri mereka.

Sebenarnya teknik ini bukanlah sebuah teknik yang baru dan bahkan sering dilakukan juga oleh kebanyakan orang. Namun ada hal yang sangat berbeda ketika dilakukan oleh kebanyakan orang, yaitu teknik ini sering dilakukan tanpa disadari dan yang kedua, teknik sering dipakai untuk hal-hal yang negatif dan tidak bermanfaat untuk perkembangan diri.

Teknik apakah itu? Sabar dong, nanti Anda juga akan mengatakan bahwa itu sih teknik yang sering saya lakukan. Ok, mari kita lihat teknik ini. Tapi saya ingin mengajak Anda untuk melihat pemakaian teknik ini pada kebanyakan orang, yang pemakaiannya untuk hal-hal yang negatif.

Saya sering sekali melihat seorang laki-laki atau seorang perempuan yang lagi mengalami masalah dengan pacarnya, atau ada yang malah putus dengan pacarnya. Apa yang sering mereka lakukan? Dalam kondisi emosi marah, kesal, jengkel, dan sakit hati yang memuncak, mereka sering mengambil sebuah keputusan yang keliru dan negatif. Sang laki-laki sering mengatakan, ”Perempuan suka ngatur” dan perkataan yang sejenisnya. Seringkali malah over generalisasi dengan mengatakan, ”Semua perempuan sama menjengkelkan”. Sang perempuan sering tak mau kalah dengan mengatakan, ”Laki-laki suka bikin sakit hati” atau over generalisasi ”Semua laki-laki ndak ada yang bisa dipercaya”.

Perkataan-perkataan seperti itu bukan hanya sekedar sebuah kata-kata, seringkali adalah sebuah keputusan. Yang lebih parah lagi adalah keputusan itu sering diambil pada level bawah sadar, keputusan itu sering diambil tanpa disadari. Hal ini bukan saja terjadi terhadap orang yang lagi pacaran, tapi juga sering terjadi pada pasangan suami-istri. Banyak pasangan suami-istri yang hubungannya menjadi semakin tidak harmonis, karena seringnya mengambil kesimpulan-kesimpulan dari adanya beberapa konflik. Dan kesimpulan itu tanpa disadari telah menjadi sebuah keputusan, dan kemudian menjadi belief system. Jika sudah demikian, maka tak heran, selalu saja ada beberapa perubahan perilaku tertentu yang terjadi ketika berhadapan lagi dengan suami atau istri. Dan ini akibat dari sebuah keputusan yang diambil di saat emosi negatif yang memuncak, dan kemudian menjadi belief system.

Jika kita melihat dalam skala yang lebih luas lagi, keputusan negatif ini sering terjadi bukan saja pada sebuah hubungan lain jenis, tapi juga terjadi pada banyak keadaan. Keadaan itu biasanya mempunyai ciri yang sama, yaitu terjadinya suatu peristiwa yang mengakibatkan terjadinya rasa sakit hati, marah, jengkel, rasa bersalah, dan kepedihan yang memuncak. Di saat inilah kebanyakan orang mengambil sebuah kesimpulan atas peristiwa tersebut, dan kesimpulan tersebut tanpa mereka sadari adalah sebuah keputusan yang kemudian terjadi peng-instalan dibagian belief system mereka. Walhasil, dari hal inilah terjadi sebuah perubahan perilaku tertentu yang tentu saja akan bersifat alami bagi sang pengambil keputusan.

Saya katakan perilaku tersebut bersifat alami, karena perubahan perilaku itu tidak disadari oleh sang pengambil keputusan. Mari kita lihat sebuah contoh! Begitu banyak orang yang ketika melakukan sesuatu sering mengalami kegagalan. Seringnya kegagalan yang dialami mengakibatkan emosi negatif terpicu dan mencapai kondisi puncak. Di saat inilah sering diambil sebuah kesimpulan dan kemudian menjadi sebuah keputusan yang tidak disadari, yaitu ”Apapun yang saya lakukan pasti gagal lagi.” Keputusan ini sering diambil tanpa disadari, dan karena tidak disadari maka perubahan perilakunya pun akan tidak disadari dan dianggap sebagai sesuatu yang alami dan wajar. Apa perubahan perilaku yang terjadi? Seringkali sang pengambil keputusan akan melakukan respon menolak jika menghadapi lagi sebuah usaha. Respon menolak ini sering dilakukan secara wajar dan alami. Entah kenapa, selalu saja muncul rasa takut gagal, yang kemudian memicu respon menolak. Dan jika ada yang mengatakan, ”Kenapa sih, kamu takut gagal?” Maka akan sering dijawab dengan jawaban yang bersifat pembelaan terhadap diri sendiri dan tidak mengakui bahwa sudah terjadi sebuah perubahan perilaku pada dirinya.

Inilah keputusan-keputusan yang diambil dari berbagai rangkaian peristiwa yang memicu emosi negatif yang memuncak. Jika ada keputusan negatif dan tidak bermanfaat, adakah keputusan yang positif dan bermanfaat? Jawabannya adalah ada. Sederhana saja, jika ada sebuah peristiwa yang memicu emosi negatif yang memuncak, tentu saja dalam kehidupan kita juga ada peristiwa yang memicu emosi bahagia yang memuncak. Dan jika selama ini begitu banyak orang yang jarang mengambil keputusan disaat bahagia, maka cobalah untuk membuat sebuah kebiasaan baru, yaitu mencoba mengambil keputusan penting dan bermanfaat disaat merasakan kebahagiaan yang memuncak. COBALAH!

Comments

  1. sLm bhgia!.....terima kasih kk' telah meluangkan waktunya 4 b'bagi pengetahuan kpd K-mi.
    Mengenal kk' adalah sebuah kebahagiaan bagi K-mi, cz K-mi lbh terMotiVaSi n dah dpt bxk hal baru.moga kk' g prnah bosan 4 berbgi dgn K-mi....n ttp jd k'syahril yg......(mohon diisi)
    ^-^.slm maniezt dr K-mi

    (dewhy_man model, dkk)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Semakin Ingin Merasa Ada, Semakin Kehilangan Diri: Paradoks Klaim Eksistensial dan Depersonalisasi

Salah satu paradoks terbesar dalam kehidupan manusia adalah bahwa setiap orang ingin merasakan dirinya benar-benar ada. Manusia tidak hanya membutuhkan makanan, tempat tinggal, atau keamanan fisik, tetapi juga membutuhkan rasa bahwa dirinya bernilai, berarti, dan memiliki tempat di dunia. Karena kebutuhan ini begitu mendasar, manusia secara alami mencari jawaban atas pertanyaan yang seringkali tidak disadari: “Apa yang membuat saya ada dan berharga?” Di sinilah banyak orang mulai membangun apa yang dalam SAT (Self Awareness Transformation) disebut sebagai klaim eksistensial, yaitu keyakinan bahwa keberadaannya bergantung pada sesuatu yang tertentu. Pada awalnya, klaim ini tampak wajar. Seseorang mungkin merasa dirinya ada karena memiliki jabatan yang tinggi, prestasi yang membanggakan, pasangan yang mencintainya, atau lingkungan yang menghormatinya. Secara psikologis, hal-hal tersebut memang dapat memberikan rasa aman dan rasa bernilai. Namun masalah mulai muncul ketika sesuatu yang di...

Seminar The Luck Factor and Abundance

SETELAH SUKSES LUAR BIASA DENGAN SEMINAR DAN NONTON BARENG "THE SECRET" MAKA KAMI DARI GULSHANI CENTER AKAN MENGADAKAN SEBUAH SEMINAR YANG MENGUPAS LEBIH DALAM TENTANG LAW OF ATTRACTION SEBUAH KERJA PIKIRAN DAN EMOSI DALAM MENDAPATKAN APAPUN YANG DIINGINKAN BERTEMPAT DI HOTEL SANTIKA JL. SULTAN HASANUDDIN NO. 40 SABTU, 4 AGUSTUS 2007 12.00 - 18.00 INVESTASI: Rp 300.000 SUDAH TERMASUK: LUNCH, COFFEE BREAK, MAKALAH ANDA JUGA AKAN MENDAPATKAN BONUS BERUPA: 1 BUAH CD MUSIK DENGAN TEKNOLOGI BINAURAL BEAT UNTUK MENINGKATKAN KREATIFITAS DAN MENYEIMBANGKAN ANTARA PIKIRAN DAN TUBUH. HARGA CD INI ADALAH Rp 400.000,- NAMUN KAMI BERIKAN SEBAGAI BONUS BAGI ANDA INFORMASI DAN PENDAFTARAN DAPAT MENGHUBUNGI 081343658826/0411-5217226 an. Agus Salman 085255975909 an. YAYUK SALAM SUKSES DAN BAHAGIA UNTUK ANDA GULSHANI CENTER