Skip to main content

FREQUENCY FOLLOWING RESPONSE

Jika pada dua buah benda atau lebih bisa terjadi resonansi, maka apakah resonansi (ikut bergetar) bisa juga terjadi pada otak manusia? Menurut Anda bagaimana? Pernahkah Anda mendengar istilah Binaural Beat? Teknologi binaural beat ditemukan dan diselidiki pertama kali oleh Heinrich Wilhelm Dove. Sekarang kita akan melihat apa yang dimaksud dengan binaural beat!


Jika Anda mendengarkan suara musik stereo, dimana pada telinga kanan berfrekuensi 500Hz dan pada telinga kiri berfrekuensi 510Hz, maka antara kedua frekuensi tersebut akan ada suara yang dihasilkan oleh selisih dari kedua frekuensi tersebut. Selisih ini disebut dengan binaural beat (pelayangan 2 sinyal). Beat (pelayangan) ini dihasilkan oleh dua buah suara yang memiliki frekuensi berbeda. Hal ini dapat kita lihat pada persamaan berikut:


fbeat = f2 – f1; dimana f1 = 500Hz dan f2 = 510Hz

sehingga diperoleh fbeat = 10Hz


Dengan adanya dua frekuensi yang berbeda ini, maka pusat syaraf kita akan merekam tiga jenis frekuensi yang berbeda sekaligus, yaitu 500Hz, 510Hz, dan frekuensi beat yang dihasilkan oleh selisih kedua frekuensi tersebut, yaitu 10Hz. Perlu juga diketahui bahwa telinga manusia hanya mampu mendengar suara pada rentang 20Hz sampai dengan 20KHz. Jadi, suara beat (pelayangan) tersebut tidak akan didengar oleh kedua telinga manusia, tetapi akan langsung menstimulus pusat syaraf di otak manusia.

Sistem syaraf otak kemudian akan ber-resonansi (mengikuti) frekuensi beat ini. Dengan kata lain, pusat syaraf otak manusia pun dapat mengalami resonansi. Resonansi yang terjadi pada pusat syaraf otak ini disebut FFR (Frequency Following Response). Jadi dapat kita simpulkan bahwa FFR ini dapat terjadi pada sistem syaraf otak dengan memberikan stimulus berupa teknologi yang mampu menghasilkan suara dengan frekuensi tertentu (sesuai dengan tingkat frekuensi otak yang ingin dicapai, Beta; Alpha; Theta; atau Delta) yaitu binaural beat frequency. Dengan demikian, binaural beat frequency dapat kita defenisikan sebagai berikut: frekuensi yang dihasilkan melalui perhitungan matematika kompleks sehingga mampu menginterfensi dan menstimulasi gelombang otak untuk memasuki kondisi tertentu.


Frekuensi binaural beat ini memiliki pengaruh yang sangat kuat (bahkan lebih kuat dari musik klasik) karena gelombang yang dihasilkan langsung memberi stimulasi pada pusat syaraf otak. Frekuensi beat ini akan langsung masuk melalui kedua telinga (Anda harus menggunakan headphone stereo kiri dan kanan atau menggunakan speaker yang diletakkan di samping kiri dan kanan agar otak merespon cukup baik) dan langsung menstimulasi sistem syaraf limbic (pusat emosi) manusia.


Penting juga untuk diketahui bahwa stimulasi gelombang otak agar terjadi FFR ini, bisa juga terjadi dengan stimulasi melalui visual (mata), dan melalui alat peraba/perasa (tangan dan tubuh). Dengan kata lain, FFR ini dapat terjadi melalui indera manapun.


Terdapat sebuah eksperimen menarik yang menjelaskan adanya FFR ini melalui interaksi dengan manusia lainnya. Seperti yang telah Anda lihat di atas, frekuensi beat akan langsung menstimulasi sistem syaraf limbic (pusat emosi), sehingga terjadi FFR seperti yang diinginkan (Beta, Alpha, Theta, atau Delta; atau kondisi santai, rileks, hipnosis, meditasi, dan lainnya). Dengan kata lain, FFR ini dapat terjadi dengan mudah melalui stimulasi sistem emosi manusia. Nah, eksperimen ini mengacu pada sistem emosi tersebut.


Dalam eksperimen ini melibatkan beberapa sukarelawan yang terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama akan berdiskusi secara empat mata dengan Tuan Bahagia, dan kelompok kedua akan melakukan hal yang sama juga tetapi mereka akan berdiskusi secara empat mata dengan Tuan Menjengkelkan. Pembicaraan yang mereka lakukan adalah pembicaraan yang sering dibicarakan sehari-hari, mulai dari hobi, kegiatan sehari-hari, tentang film, tentang musik, dan lain-lain. Baik Tuan Bahagia maupun Tuan Menjengkelkan diminta untuk melakukan gerakan-gerakan tertentu selama pembicaraan empat mata tersebut berlangsung.


Apa yang terjadi kemudian? Tanpa disadari, para sukarelawan yang asyik berbincang dengan Tuan Bahagia ini melakukan gerakan yang sama persis yang dilakukan oleh Tuan Bahagia. Jika Tuan Bahagia meletakkan kedua tangannya di belakang kepala, maka beberapa detik kemudian sang sukarelawan akan mengikutinya. Jika Tuan Bahagia menggaruk kepala, maka beberapa detik kemudian sang sukarelawan akan melakukan hal yang sama. Ternyata tanpa mereka sadari, perbincangan yang menyenangkan ini membuat mereka saling terikat pada satu ikatan emosional, sehingga membuat mereka mengikuti (tanpa disadari) semua gerakan-gerakan tertentu yang dilakukan oleh Tuan Bahagia. Sistem emosi mereka mendapat stimulus BAHAGIA, sehingga otak mereka mengalami FFR (ber-resonansi) dengan Tuan Bahagia; dan resonansi ini dialirkan ke seluruh tubuh sehingga mulai menirukan gerakan yang dilakukan oleh Tuan Bahagia. Dalam dunia NLP, menirukan gerakan ini disebut dengan Mirroring.


Lantas bagaimana dengan sukarelawan yang berbincang-bincang dengan Tuan Menjengkelkan? Anda sudah bisa menebak. Tidak satu pun dari para sukarelawan tersebut yang mengikuti gerakan-gerakan tertentu yang dilakukan oleh Tuan Menjengkelkan. Dengan kata lain, sistem emosi mereka tidak mengalami FFR (resonansi).


Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa jika resonansi terjadi karena adanya kesamaan frekuensi, maka resonansi (FFR) dapat juga terjadi karena kesamaan emosi bahagia yang dirasakan. Oleh sebab itu, selain pentingnya kita mengandalkan kekuatan pikiran kita, kita juga harus mengandalkan kekuatan emosi kita. Dan cobalah simak perkataan Rhonda Byrne (penulis buku The Secret) berikut ini: “Jalan pintas ke segala sesuatu yang Anda inginkan dalam hidup adalah MENJADI dan MERASA BAHAGIA sekarang juga”.


Apa itu kebahagiaan? Dan bagaimana agar seseorang bisa menemukan kebahagiaan? Hal ini akan kita diskusikan pada bagian lain. Semoga kita semua bahagia selamanya!

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Semakin Ingin Merasa Ada, Semakin Kehilangan Diri: Paradoks Klaim Eksistensial dan Depersonalisasi

Salah satu paradoks terbesar dalam kehidupan manusia adalah bahwa setiap orang ingin merasakan dirinya benar-benar ada. Manusia tidak hanya membutuhkan makanan, tempat tinggal, atau keamanan fisik, tetapi juga membutuhkan rasa bahwa dirinya bernilai, berarti, dan memiliki tempat di dunia. Karena kebutuhan ini begitu mendasar, manusia secara alami mencari jawaban atas pertanyaan yang seringkali tidak disadari: “Apa yang membuat saya ada dan berharga?” Di sinilah banyak orang mulai membangun apa yang dalam SAT (Self Awareness Transformation) disebut sebagai klaim eksistensial, yaitu keyakinan bahwa keberadaannya bergantung pada sesuatu yang tertentu. Pada awalnya, klaim ini tampak wajar. Seseorang mungkin merasa dirinya ada karena memiliki jabatan yang tinggi, prestasi yang membanggakan, pasangan yang mencintainya, atau lingkungan yang menghormatinya. Secara psikologis, hal-hal tersebut memang dapat memberikan rasa aman dan rasa bernilai. Namun masalah mulai muncul ketika sesuatu yang di...

Seminar The Luck Factor and Abundance

SETELAH SUKSES LUAR BIASA DENGAN SEMINAR DAN NONTON BARENG "THE SECRET" MAKA KAMI DARI GULSHANI CENTER AKAN MENGADAKAN SEBUAH SEMINAR YANG MENGUPAS LEBIH DALAM TENTANG LAW OF ATTRACTION SEBUAH KERJA PIKIRAN DAN EMOSI DALAM MENDAPATKAN APAPUN YANG DIINGINKAN BERTEMPAT DI HOTEL SANTIKA JL. SULTAN HASANUDDIN NO. 40 SABTU, 4 AGUSTUS 2007 12.00 - 18.00 INVESTASI: Rp 300.000 SUDAH TERMASUK: LUNCH, COFFEE BREAK, MAKALAH ANDA JUGA AKAN MENDAPATKAN BONUS BERUPA: 1 BUAH CD MUSIK DENGAN TEKNOLOGI BINAURAL BEAT UNTUK MENINGKATKAN KREATIFITAS DAN MENYEIMBANGKAN ANTARA PIKIRAN DAN TUBUH. HARGA CD INI ADALAH Rp 400.000,- NAMUN KAMI BERIKAN SEBAGAI BONUS BAGI ANDA INFORMASI DAN PENDAFTARAN DAPAT MENGHUBUNGI 081343658826/0411-5217226 an. Agus Salman 085255975909 an. YAYUK SALAM SUKSES DAN BAHAGIA UNTUK ANDA GULSHANI CENTER