Skip to main content

SELAMAT ULANG TAHUN ANAKKU!

Hari ini anak saya telah genap berusia 2 tahun (9 Mei 2007). Banyak harapan saya yang saya inginkan dari anak saya. Tapi saya ingin mengajak Anda untuk melihat sejenak perilaku anak 2 tahun. Apakah Anda (yang memiliki anak) sering merasa kewalahan dengan anak Anda ketika ia mulai berusia dua tahun. Banyak orang tua yang mengeluh ketika anaknya besar dan sering berteriak-teriak menegur anaknya; dan ternyata banyak orang tua itu yang mulai berteriak-teriak terhadap anaknya pada saat anak tersebut menginjak usia dua tahun.

Ada apa sih dengan usia dua tahun, sehingga banyak orang tua yang mulai tegang urat lehernya pada anak yang berusia dua tahun? Banyak penelitian dan fakta yang memang menemukan fenomena bahwa anak mulai rewel atau semakin rewel pada saat usianya menginjak dua tahun. Tapi, ngomong-ngomong anak saya mulai “rewel” sebelum menginjak genap dua tahun. Lantas apa sih yang sebenarnya terjadi?

Dalam penelitian telah dilihat bahwa sebelum menginjak usia dua tahun, anak-anak itu masih mengira bahwa hasrat/keinginan semua orang itu sama. Itulah sebabnya, anak-anak yang masih usia satu tahun ke bawah masih terlihat begitu manis, karena menurut kebanyakan orang tua, anak masih mau untuk mengikuti kata-kata orang tua (defenisi “manis” yang tidak rasional, karena jika sudah mulai membantah, maka anak bukan lagi disebut “manis”, tapi bandel/nakal). Kembali ke penelitian tersebut; anak-anak mulai mengerti bahwa hasrat setiap orang itu berbeda ketika mulai berusia 18 tahun atau ada juga yang telah menginjak usia genap dua tahun. Anak yang mengerti perbedaan hasrat ini tentu juga belajar tentang perbedaan ekspresi yang tampak pada pola wajah dan tingkah laku, misalkan marah, sedih, bahagia, senang, dan lain-lain.

Satu hal yang mesti diingat bahwa keinginan belajar anak itu bersifat alami, jadi dengan mengetahui adanya hasrat/keinginan yang berbeda-beda dan pola ekspresi yang berbeda pula, membuat anak untuk mulai belajar untuk memiliki hasrat tersendiri, sekaligus belajar bagaimana jika hasratnya bertolak belakang dengan hasrat orang tua. Disinilah yang sering timbul konflik. Di satu sisi ia memiliki kebutuhan untuk memahami orang lain (dengan bereksperimen melakukan konflik hasrat dengan orang lain), di satu sisi ia pun ingin hidup rukun dan damai dengan orang lain.

Mari kita lihat contoh nyatanya yang terjadi pada anak saya. Kalau ia melihat ibunya sedang tidur siang, maka ia akan melakukan berbagai cara untuk membangunkan ibunya. Jika ibunya tidak mau mengikuti keinginannya (walau pada akhirnya ikut juga keinginan anak saya), maka ia mulai rewel dan menangis. Kenapa ia melakukan hal itu? Karena ia di satu sisi ingin mewujudkan hasratnya (dengan membangunkan ibunya dan belajar untuk melihat perubahan ekspresi pada ibunya) dan di satu sisi ia ingin bermain (hidup rukun) dengan ibunya. Saya dan istri biasanya sudah sepakat untuk mengikuti semua keinginan anak saya itu selama tidak melanggar aturan-aturan tertentu yang kami buat. Hal ini juga perlu supaya anak bisa mengetahui kapan ia bisa bebas memenuhi hasratnya (berkretifitas) dan kapan ia bisa mengetahui bahwa ada hal-hal yang tidak bisa ia dapatkan. Jadi, kalau saya sudah bilang “TIDAK” pada beberapa hal tertentu, maka anak saya itu sudah bisa memaklumi dan melakukan yang lain. Jadi, jangan sering-sering melarang anak untuk semua hasratnya, karena yang terjadi adalah urat leher Anda akan semakin tegang. Anak saya dan semua anak lainnya adalah anak yang luar biasa yang selalu berkesperimen dan belajar dalam hidupnya. Itulah sebabnya saya bahagia dan bersyukur ketika melihat anak saya sekarang telah berusia dua tahun, SELAMAT ULANG TAHUN ANAKKU!

Comments

  1. Buku Selamat Anak Anda Luar Biasa ada di sini:
    http://islamarket.wordpress.com/2008/10/25/selamat-anak-anda-anak-luar-biasa/

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...