Skip to main content

KUALITAS DIRI BERBANDING LURUS DENGAN PELAYANAN


Di musim panas banyak orang yang mencari tempat berteduh. Dan tempat berteduh yang alami, adalah di bawah sebuah pohon. Semakin besar pohon tersebut, maka semakin terasa enak kita berteduh. Lain halnya dengan pohon yang gersang, walaupun membawa keteduhan, namun tidak memberikan kenyamanan yang berarti kepada kita dalam menikmati kesejukan ketika berteduh di bawahnya.

Aha! Coba kembali Anda pikirkan! Semakin besar pohon tersebut, maka semakin banyak kesejukan yang diberikan. Begitu pula sebaliknya, semakin kecil/gersang pohon tersebut, maka kesejukan yang diberikan tidaklah terlalu berarti bagi kita. Dengan kata lain, peningkatan kualitas diri akan memberikan “efek pelayanan” yang berbeda pula kepada orang lain.

Comments

  1. Bagus mas Syahril. Kualitas diri kita sebenarnya kan berbanding lurus dengan kualitas berpikir kita. Kalau diibaratkan pohon, memang semestinya orang dengan kualitas berpikir semakin baik...seperti sebuah pohon yg tinggi besar dan rindang sekali daunnya...bisa buat berteduh banyak orang.
    Inilah sesungguhnya kualitas sejati yg diharapkan dari seorang Entrepreneur atau TDA.
    Ok, Sukses selalu.

    Salam,
    Wuryanano

    ReplyDelete
  2. Salam,

    Sungguh berbahagia sekali diri saya ini, karena diberi masukan yang luar biasa kepada saya; apalagi yang memberikan masukan kepada saya
    adalah seorang Entrepreneur yang sangat sukses dan penulis buku-buku
    best seller.

    Sungguh suatu kehormatan bagi saya

    Terima kasih Pak
    syahril
    http://syahril-ril.blogspot.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...