Skip to main content

Kesuksesan Justru Terletak di Usia Dini


Anggapan bahwa kesuksesan anak itu diukur saat ia sudah kuliah atau bekerja ternyata keliru. Awal kesuksesan justru terjadi di usia dini, terutama di usia 0-5 tahun.

"Anak sering bertanya, bermain, aktif, mau bergaul adalah tanda anak akan sukses," kata tokoh pendidikan Arief Rachman dalam seminar guru TK yang diselenggarakan oleh majalah anak Mombi di Jakarta, Selasa (20/6).

Sayangnya, belum semua orangtua menyadari hal itu. Hingga kini pemerintah pun belum sepenuhnya memberikan perhatian pada pendidikan anak usia dini. Padahal pembentukan sebuah bangsa bergantung pada pendidikan dini anak-anaknya. "Negara-negara yang jelek, bisa dipastikan pendidikan TK-nya tidak beres," kata Arief.

Selain pelayanan pendidikan pada anak usia dini belum optimal, kesibukan orangtua juga jadi salah satu penyebab tidak terpantaunya pendidikan anak- anak mereka. Orangtua juga sering tidak realistis menempatkan harapan pada anaknya tanpa melihat kemampuan si anak. Banyak orangtua yang terlalu mengikuti tren dari luar tanpa melihat kekuatan anak. Selain itu, sikap sekuler orangtua, manajemen rumah tangga yang bersifat sementara dan bukan sebuah penyelesaian mendasar, serta mendangkalnya hubungan hati anak dan orangtua menjadi kesalahan yang tak disadari dan ikut mengganggu perkembangan anak.

Salah satu efek yang paling mencolok di Indonesia adalah tingginya angka korupsi. Menurut aktivis Unicef ini, korupsi terjadi karena sejak kecil anak disuguhi penyalahgunaan tata krama. "Korupsi adalah pelanggaran etika, bukan pelanggaran logika. Korupsi juga tidak melanggar estetika," kata Arief. Maka, pendidikan etika dan estetika sangat penting sejak bayi. (WSI)


Sumber: KOMPAS

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...