Skip to main content

PERJALANAN TERTINGGI

Seandainya saja aku bisa menghentikan satu hati dari kepedihan,

aku tak akan merasa hidup dalam kesia-siaan;

Seandainya aku dapat meringankan beban suatu kehidupan,

atau meredakan kepedihan,

atau membantu seekor Burung Murai yang pingsan,

kembali ke sarangnya,

aku tak akan hidup dalam kesia-siaan.

- Emily Dickinson -

Ingat! Anda (kita semua) adalah partisipan dalam kehidupan ini. Kita mestinya selaras dengan alam dengan hanya memiliki satu misi utama: membantu kelancaran dan kecepatan proses alam semesta untuk menuju ke arah yang lebih baik. Seperti kita menanam sebuah benih, tanpa kita pun benih tersebut akan bisa tumbuh dengan sendirinya. Namun dengan adanya kita, maka kita bisa membantu kelancaran proses tumbuhnya.

Karena masih banyak syarat-syarat yang belum kita ketahui untuk mengkreasikan sesuatu, maka ini menjadi alasan utama kita untuk selalu belajar. Menemukan syarat-syarat dalam proses belajar adalah suatu cara yang utama untuk membantu diri kita sendiri untuk tumbuh dan pada saat yang sama pula kita berbagi dengan orang lain dan alam semesta untuk bersama-sama tumbuh menuju kesempurnaan yang mungkin kita raih. Disinilah inti dari perjalanan hidup. Sebuah perjalanan tertinggi yang dapat kita lakukan, yaitu senantiasa membantu diri sendiri dan orang lain serta alam semesta untuk tumbuh mencapai kesempurnaan yang mungkin kita raih. Dengan kata lain, perjalanan tertinggi hidup ini adalah ketika kita berpartisipasi dalam alunan alam semesta dengan niat untuk membantu kelancaran proses seluruh makhluk untuk mencapai kesempurnaannya. Saya menyebut hal ini sebagai perjalanan, karena hidup adalah sebuah perjalanan panjang. Dan ketika perjalanan Anda telah sampai pada titik pencerahan, maka perjalanan terakhir (tertinggi) yang mesti Anda lakukan adalah membantu – semaksimal mungkin – orang lain untuk mencapai pencerahan mereka masing-masing. Anda senantiasa menolong dan membantu orang lain dan alam semesta.

Ibarat mendaki sebuah gunung. Ketika Anda berada di puncak gunung tersebut, maka Anda akan merasakan sensasi dan kebahagiaan yang luar biasa. Namun, perjalanan mendaki gunung tidak lantas berhenti sampai di situ, karena perjalanan selanjutnya adalah ketika Anda “turun kembali” untuk mengajak sebanyak mungkin orang untuk merasakan apa yang telah Anda rasakan. Dan hal ini akan melahirkan kebahagiaan tersendiri bagi Anda. Perjalanan ini akan terus berlanjut, karena ada begitu banyak orang yang bisa kita ajak untuk melihat pemandangan dari atas puncak gunung tersebut.

Dan tahukah Anda, apa “pekerjaan” Tuhan yang paling mulia dan terbesar? “Melayani”. Benar. Tuhan senantiasa dan setiap saat “melayani” alam semesta ini dengan memberikan bantuan yang kita semua butuhkan untuk tumbuh mencapai titik sempurna yang mungkin kita raih. Tuhan memberikan apapun bagi kita dan alam semesta ini. Jadi, adalah hal yang sangat angkuh jika kita tidak berusaha meniru “pekerjaan” Tuhan tersebut. Kita belajar untuk proses tumbuhnya diri kita dan secara otomatis pula kita membantu yang lain untuk tumbuh. Inilah bentuk perjalanan tertinggi manusia. Dan perjalanan ini adalah sebuah bentuk perjalanan panjang, yang takkan berhenti walau kita sudah meninggal. Karena anak cucu kita akan melanjutkan perjalanan ini, hingga terbentuk suatu kesempurnaan tertinggi yang dapat diraih.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...