Skip to main content

FOR WHAT/WHAT NEXT

Apa yang kamu butuhkan dari dunia adalah sesuatu yang sah untuk memuaskan laparmu, sesuatu yang dengannya kau mencukupi dirimu, dan sebuah atap di atas kepalamu. Biarkan ini semua menjadi sesuatu yang hanya diminta dari dunia ini

- Ibn al-‘Arabi -

Jangan biarkan kenangan menjadikanmu berpuas diri. Apa yang engkau temukan selama pencarian adalah hadiah-Nya bagimu. Tapi saat hadiah-Nya engkau buka, jangan jadikan ia sebagai tujuan

- Da’ud ibnu Ibrahim al Shawni -

Seorang darwis melapor pada polisi bahwa seluruh harta dunianya dicuri. Para polisi mengecam bahwa orang yang mencuri seluruh harta darwis itu pastilah jahat sekali. Mereka bekerja keras dan akhirnya menemukan pencurinya yang membawa selembar selimut milik darwis tersebut. Mereka mengambil selimutnya dan kemudian memberikannya kepada sang darwis. “Ini baru awal. Kami tak akan berhenti mengejarnya sebelum menemukan seluruh harta Anda lainnya.”

“Tapi, kalian telah menemukan seluruhnya,” kata sang darwis.

“Cuma selembar selimut compang-camping ini? Anda bilang seluruh harta Anda dicuri,” ujar para polisi.

“Ya, hanya ini yang aku punya. Ini menjadi permadani tempatku duduk, selimut di malam yang beku, mantelku pada siang yang dingin, dan payungku dari sengatan sinar matahari,” imbuh sang darwis.

Khalil A. Khavari yang menulis kisah tersebut kemudian menjelaskan: darwis itu mengajarkan kepada kita sebuah nasihat adiluhung, yaitu milikilah barang-barang yang benar-benar kita butuhkan saja, dan sisihkanlah daftar barang yang kita inginkan. Kebutuhan kita sedikit, sedangkan keinginan kita tak berhingga. Memuaskan keinginan kita berarti memburu ilusi yang takkan pernah dapat digapai. Manakala kita memiliki sesuatu, uang dan barang, semboyannya adalah: apa yang kau gunakan dengan baik itu milikmu; dan apa yang kau tumpuk-tumpuk bukan milikmu.

Khavari telah mengajarkan kepada kita satu hal: untuk apa semua keberhasilan, prestasi puncak, kesuksesan, apapun namanya, yang telah kita raih? Apa yang dapat kita lakukan setelah kita meraih impian-impian kita? Seperti semboyan di atas: apa yang kau gunakan dengan baik itu milikmu; dan apa yang kau tumpuk-tumpuk bukan milikmu.

Yang membuat kita senantiasa berprestasi, bahkan bahagia, adalah kemampuan kita untuk senantiasa berkembang dan berproses untuk memenuhi apa yang kita butuhkan, bukan pada apa yang kita inginkan. Kita butuh kecemerlangan jiwa dengan membantu orang lain. Ini merupakan bagian dari proses untuk menjadi kaya, bukan hanya sekedar keinginan untuk menjadi kaya. Pada akhirnya, semuanya adalah alat untuk membantu memberikan apa yang kita butuhkan: cinta, kasih sayang, jiwa yang tenang, bertahan hidup, dan apapun yang membantu kita untuk tumbuh menjadi manusia yang sempurna.

Hal ini bukanlah dimaksud bahwa kita betul-betul harus hidup miskin, melainkan menemukan maksud dari semua pencapaian yang telah kita raih selama ini. Sebuah kisah berikut menggambarkan dengan jelas akan maksud saya ini:

Ada seorang nelayan miskin yang juga seorang guru sufi. Dia pergi memancing pada suatu hari, dan setiap hari dia membagikan hasil tangkapannya kepada orang-orang miskin di kampungnya, kecuali satu atau dua kepala ikan yang dia pakai untuk membuat sup untuk dirinya sendiri. Muridnya sungguh mencintai dan mengagumi guru mereka dan memberi julukan “syekh kepala ikan.”

Salah satu muridnya adalah seorang pedagang. Sebelum pergi ke Kordoba, guru itu memintanya untuk menyampaikan salamnya kepada gurunya sendiri, Syekh Ibn al-‘Arabi, dan menitip pesan untuk memintakan sejumlah saran untuk membantu dalam urusan-urusan spiritual dirinya, yang dia rasakan berjalan begitu lamban.

Ketika pedagang itu sampai di rumah Ibn al-‘Arabi, dia menemukan banyak hal yang mengagetkan dirinya, sebuah istana yang dikelilingi dengan kebun-kebun. Dia melihat banyak pelayan hilir mudik dan melayani dengan daging mewah di atas panggang emas oleh seorang perempuan muda yang cantik dan pemuda-pemuda yang tampan. Akhirnya dia diantar menemui Ibn al-‘Arabi yang tengah mengenakan pakaian yang cocok sekali untuk seorang sultan. Dia menyampaikan salam gurunya dan menyampaikan permohonan gurunya mengenai panduan spiritual. Ibn al-‘Arabi dengan sederhana mengatakan, “Katakan pada muridku bahwa dia terlalu kadonyan (larut oleh dunia)!” Pedagang itu kaget dan tersinggung oleh saran yang datang dari orang yang hidup dalam kemewahan duniawi seperti itu.

Ketika dia kembali, gurunya segera menanyakan pertemuannya dengan Ibn al-‘Arabi. Pedagang itu menyampaikan ungkapan Ibn al-‘Arabi dan menambahkan bahwa kedengarannya sangat absurd, sesuatu yang datang dari orang yang sangat kaya, seorang yang dibelit oleh dunia.

Gurunya membalas, “Kamu harus tahu bahwa masing-masing dari kita bisa mempunyai kekayaan material sebanyak yang bisa dicapai oleh jiwa tanpa kehilangan penglihatan pada Tuhan. Apa yang kamu lihat bukanlah kekayaan material, tetapi pencapaian spiritual yang besar.” Lalu guru itu menambahkan, dengan air mata di matanya, “Tetapi dia benar. Seringkali ketika malam di saat aku membuat sup sederhana dari kepala ikan, aku menganggapnya seolah-olah ikan yang utuh!”

Anda tidak di larang untuk menjadi kaya. Tapi, sekali lagi, apa yang akan Anda lakukan dengan kekayaan Anda itu? Saya ingin memberikan contoh sederhana tentang penggunaan kekayaan yang kita miliki: ketika kita memiliki harta, maka setiap harta yang kita “miliki” akan betul-betul menjadi milik kita ketika kita memperhatikan:

  1. Anak. Ada hak anak pada harta tersebut, karena anak adalah amanah yang harus kita jaga
  2. Istri. Ada hak istri pada harta tersebut, karena kita wajib memberi nafkah kepadanya
  3. Orang lain. Ada hak orang lain pada harta tersebut, karena kita membutuhkan kesegaran spiritual. Selain itu banyak riwayat hadis yang menunjukkan bahwa dengan bersedekah, maka kita menolak 40 bala. Dan menolak bala sangat dibutuhkan oleh kita demi kelangsungan hidup kita. Di sisi lain, “Bersedekah merupakan cara untuk mendapatkan rejeki,” kata Imam Ali. Ini juga merupakan hal penting yang kita butuhkan untuk kelangsungan hidup kita.

Intinya: kita senantiasa mengembangkan fitrah kemanusiaan kita dengan mendaya-gunakan seluruh potensi di dalam diri dan “alat” yang ada di sekeliling kita, dan bukan hanya sekedar untuk memuaskan “nafsu keinginan” belaka.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Menderita? Saat Kita Salah Menentukan Sumber Keberadaan Diri

Gagasan ini dapat dibuat lebih utuh dengan terlebih dahulu menjelaskan bahwa dalam SAT (Self Awareness Transformation), penderitaan manusia tidak hanya dilihat dari apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi dari hubungan antara kenyataan tentang keberadaannya dan cara ia memahami keberadaan dirinya. Di sinilah pentingnya membedakan dua tingkat realitas: realitas ontologis dan keyakinan psikologis. Realitas ontologis berbicara tentang bagaimana keberadaan manusia sesungguhnya, sedangkan keyakinan psikologis berbicara tentang bagaimana manusia memaknai dan merasakan keberadaannya. Pembedaan ini penting karena seseorang dapat hidup dalam kenyataan ontologis tertentu, tetapi secara psikologis mempercayai sesuatu yang berbeda. Dalam kerangka SAT, jarak antara keduanya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami mengapa manusia mudah mengalami ketakutan, keterikatan, kecemasan, dan penderitaan. Realitas ontologis adalah kenyataan mengenai keberadaan manusia sebagaimana adanya, terlepa...

Penyebab Umum Gangguan Psikosomatis

David B.Cheek, M.D. dan Leslie M. Lecron,B.A. dalam bukunya Clinical Hypnotherapy mengatakan bahwa ada 7 faktor penyebab berbagai gangguan psikosomatis. Memahami 7 kunci penting ini akan membantu terapis dan klien membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalahnya. Untuk memudahkan mengingat maka kita gunakan mnemonik COMPISS (Conflict, Organ Language, Motivation, Past Experience, Identification, Self-punishment, Suggestion/Imprint) 1. Conflict Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari diri seseorang yang saling bertentangan. Tujuan dari kedua bagian ini sebenarnya sama baiknya namun karena bertolak belakang akibatnya timbul masalah. Contohnya adalah seorang manajer yang selalu sakit kepala pada akhir bulan. Ternyata ada dua bagian dari dirinya yang konflik. Satu bagian dirinya ingin agar ia istirahat di rumah bersama keluarganya. Yang satu lagi ingin agar ia tetap bekerja agar menerima uang lembur lebih banyak dengan menyelesaikan ...

Anda Sedang Menjadi Siapa? Bagaimana Setiap Pilihan Membentuk Jiwa Dan Masa Depan Anda

Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-Ḽarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.   Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup. Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihar...