Skip to main content

Posts

Kalau Marah, Haruskah Dilampiaskan? Penelitian Membuktikan Justru Sebaliknya

Salah satu keyakinan yang sangat populer di masyarakat adalah bahwa ketika seseorang marah, ia perlu "melampiaskannya" agar merasa lega. Banyak orang percaya bahwa memukul bantal, meninju samsak, berteriak, atau mengekspresikan kemarahan secara fisik akan mengeluarkan emosi yang terpendam sehingga kemarahan berkurang. Dalam psikologi, gagasan ini dikenal sebagai Catharsis Theory atau teori katarsis, yaitu pandangan bahwa emosi negatif perlu dikeluarkan agar tidak menumpuk di dalam diri. Keyakinan inilah yang diuji secara ilmiah oleh Brad J. Bushman dan rekan-rekannya dalam penelitian yang sangat berpengaruh pada tahun 2002 berjudul “Does Venting Anger Feed or Extinguish the Flame? Catharsis, Rumination, Distraction, Anger, and Aggressive Responding”. Pertanyaan sederhana yang ingin dijawab Bushman adalah: Apakah benar melampiaskan kemarahan membuat seseorang menjadi lebih tenang? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti terlebih dahulu membuat peserta benar-benar men...

Emotion Changes Emotion: Mengapa Perubahan Manusia Tidak Dimulai Dari Pikiran, Tetapi Dari Emosi

Ketika Leslie Samuel Greenberg menyelesaikan gelar doktor (PhD) di bidang psikologi pada tahun 1975 di York University, fokus utamanya sebenarnya bukanlah emosi. Ia tertarik pada pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa sebagian orang benar-benar berubah setelah menjalani terapi, sementara sebagian lainnya tidak mengalami perubahan yang berarti? Bersama mentornya, Laura North Rice, Greenberg mulai mengamati secara sistematis apa yang terjadi di dalam sesi terapi. Ia merekam, menganalisis, dan membandingkan ratusan percakapan terapeutik untuk mencari pola-pola yang menjelaskan proses perubahan manusia. Pada masa itu, banyak pendekatan psikologi masih sangat dipengaruhi oleh pandangan bahwa perubahan terutama terjadi melalui pemikiran rasional. Asumsinya sederhana: jika cara berpikir seseorang berubah, maka perasaannya juga akan berubah. Namun, hasil pengamatan Greenberg selama bertahun-tahun justru mengarah pada kesimpulan yang berbeda. Ia menemukan bahwa perubahan psikologis yang mendal...

Dari Iktibar Menuju Hakikat: Bagaimana Amal Membentuk Keberadaan Manusia

Dalam pandangan hikmah dan irfan, hubungan antara hakikat (ḥaqīqah) dan iktibar (i‘tibār) tidak sesederhana membedakan antara sesuatu yang nyata dan sesuatu yang palsu. Banyak orang mengira bahwa hakikat adalah sesuatu yang benar-benar ada, sedangkan iktibar hanyalah khayalan atau rekayasa manusia. Padahal persoalannya jauh lebih dalam. Dalam kehidupan manusia, iktibar dapat menjadi penghalang yang menutupi hakikat, tetapi pada saat yang sama juga dapat menjadi jembatan yang mengantarkan seseorang menuju hakikat. Karena itulah agama, amal ibadah, simbol-simbol, aturan, adab, dan berbagai latihan spiritual memiliki peran yang sangat penting dalam proses pertumbuhan manusia. Hakikat adalah realitas yang benar-benar membentuk keberadaan seseorang. Ia bukan sekadar konsep yang dipahami oleh pikiran, melainkan sesuatu yang mengubah kualitas diri manusia secara nyata. Cinta yang tulus, keikhlasan, kesadaran, ketenangan batin, rasa takut, ego, cahaya hati, dan kedekatan kepada Allah adalah co...

Siapa Yang Sedang Berbicara Di Dalam Dirimu?

Salah satu alasan mengapa banyak orang sulit mengenal dirinya sendiri adalah karena mereka sering mengira bahwa segala sesuatu yang muncul di dalam batinnya adalah dirinya yang utuh. Padahal, apa yang muncul di dalam diri seseorang belum tentu mencerminkan keseluruhan dirinya. Ketika muncul pikiran seperti, “Aku ingin dihargai,” “Aku marah,” “Aku takut gagal,” atau “Aku ingin dipuji,” kebanyakan orang langsung menganggap suara-suara tersebut sebagai identitas dirinya. Mereka tidak menyadari bahwa yang sedang berbicara mungkin hanyalah salah satu bagian dari dirinya, seperti kebutuhan akan pengakuan, rasa takut, kemarahan, kebiasaan lama, atau dorongan ego yang sedang aktif pada saat itu. Karena terlalu menyatu dengan pikiran dan emosinya, seseorang kehilangan jarak psikologis yang diperlukan untuk mengamati dirinya secara objektif. Ia tidak lagi mampu melihat apa yang sedang terjadi di dalam dirinya dari sudut pandang seorang pengamat. Akibatnya, ia jarang bertanya, “Bagian diriku yang...

Kebahagiaan Butuh Materi? Membedakan Antara Kebutuhan Hidup Dan Pengejaran Iktibār (Validasi)

Banyak orang mengatakan bahwa kebahagiaan membutuhkan materi. Pernyataan ini memang mengandung kebenaran, tetapi tidak sepenuhnya benar jika dipahami tanpa penjelasan yang lebih mendalam. Kesalahan yang sering terjadi adalah ketika seseorang mencampurkan dua hal yang sebenarnya berbeda: kebutuhan hidup yang nyata dan kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan sosial atau iktibār. Akibatnya, hidup berubah menjadi perlombaan yang seolah tidak memiliki garis akhir.   Seseorang terus bekerja lebih keras, mencari lebih banyak uang, mengejar jabatan yang lebih tinggi, dan mengumpulkan berbagai simbol kesuksesan. Namun anehnya, semakin banyak yang diperoleh, semakin besar pula kelelahan yang dirasakan. Karena itu, pertanyaan yang penting untuk diajukan bukanlah apakah mencari uang itu baik atau buruk, melainkan bagaimana membedakan antara mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mengejar validasi yang tidak pernah selesai. Pada dasarnya, materi memang memiliki peran penting dalam kehidu...