Banyak orang sebenarnya keliru memahami arti “memaklumi”. Mereka merasa sudah memaklumi seseorang karena memilih diam, tidak melawan, atau menahan diri, padahal yang sering terjadi bukanlah penerimaan yang sehat, melainkan penekanan emosi. Di permukaan terlihat tenang, tetapi di dalam hati kemarahan masih aktif, luka batin masih tersimpan, tubuh tetap tegang, dan pikiran terus mengulang kejadian yang menyakitkan. Emosi itu tidak benar-benar selesai; ia hanya ditekan agar terlihat sabar, agar tidak menimbulkan konflik, atau agar dianggap sebagai orang yang baik. Dalam psikologi, kondisi seperti ini lebih dekat dengan emotional suppression (penekanan emosi), resentment (kedongkolan yang mengendap), dan unresolved anger (amarah yang belum selesai), bukan “memaklumi” dalam arti yang sehat. Masalahnya, emosi yang ditekan tidak otomatis hilang hanya karena seseorang memilih diam. Secara psikologis, emosi yang tidak diproses sering tetap hidup di dalam sistem saraf dan muncul dalam bent...
Memfasilitasi Manusia Kembali Utuh — Tidak Terpecah antara Pikiran, Perasaan, Makna, dan Tuhan