Gagasan bahwa “makna bukan sesuatu yang Anda temukan di luar, tapi menjadi jelas ketika Anda selaras di dalam” sebenarnya menggeser cara pandang kita secara cukup radikal. Selama ini, banyak orang menganggap makna hidup seperti benda tersembunyi yang harus dicari - seolah-olah ada jawaban pasti di luar diri yang tinggal ditemukan. Namun, pendekatan ini justru sering membuat orang berputar-putar tanpa arah yang jelas. Semakin dicari, semakin terasa jauh. Sebaliknya, ketika seseorang mulai menata dirinya - pikiran, emosi, dan tindakannya - agar selaras, makna itu tidak perlu dikejar. Ia muncul dengan sendirinya, seperti sesuatu yang tadinya kabur lalu perlahan menjadi terang. Jika ditelusuri lebih dalam, cara lama “mencari makna hidup” memang menyimpan beberapa masalah mendasar. Pertama, ia mereduksi makna menjadi sekadar objek pikiran. Kata “mencari” secara tidak langsung mengasumsikan bahwa makna itu berada di luar diri dan bisa ditemukan seperti informasi - seperti membaca buku ...
Memfasilitasi Manusia Kembali Utuh — Tidak Terpecah antara Pikiran, Perasaan, Makna, dan Tuhan