Manusia pada dasarnya tidak hidup semata-mata dari realitas objektif yang apa adanya, tetapi dari cara ia memaknai realitas tersebut melalui apa yang disebut sebagai root claim, yaitu keyakinan inti yang sangat mendasar tentang diri dan dunia. Root claim ini biasanya terbentuk sejak awal kehidupan - seringkali pada masa kanak-kanak - ketika pengalaman emosional yang kuat seperti penolakan, ketakutan, atau rasa tidak aman mulai diinternalisasi. Karena terbentuk dalam kondisi emosi yang intens dan berulang, keyakinan ini menjadi sangat melekat dan kemudian melahirkan banyak “klaim turunan” dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang yang memiliki root claim “aku tidak cukup baik” dapat memunculkan berbagai bentuk pikiran lain seperti “aku tidak dihargai,” “aku selalu gagal,” atau “orang lain lebih baik dariku.” Semua ini sebenarnya hanya variasi dari satu akar yang sama, yang terasa sangat nyata karena telah menyatu dengan identitas diri. Untuk mengenali root claim, dapat digu...
Memfasilitasi Manusia Kembali Utuh — Tidak Terpecah antara Pikiran, Perasaan, Makna, dan Tuhan